Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
16. Sebatas Cinta Kita


__ADS_3

"Kita masih punya kegiatan yang belum tertuntaskan," ucap Kenda terus menggoda Meihan yang sedari tadi berusaha menghindarinya.


"Kenda, bukan saatnya untuk melakukan itu sekarang," ujarnya sambil mendorong sedikit tubuh Kenda yang menempel di dadanya.


Kenda tersenyum beringas, "Kamu jijik sama aku karena kejadian waktu itu?"


"Bukan begitu Kenda aku hanya...."


Kenda dengan ganas menempelkan bibirnya pada bibir Meihan lalu mengigitnya sampai-sampai Meihan mendorongnya hingga dia jatuh sedikit terjungkal ke lantai.


"Apa selama ini kau mencintaiku hanya karena keperawananku? Setelah itu hilang cintamu juga ikut hilang?" ucap Kenda ringkih sambil berusaha berdiri kembali.


"Bukan begitu Kenda... aku hanya sedang tidak mood melakukan itu..." sanggah Meihan.


"Apa di matamu aku hanya seorang murahan? Kurasa kamu menyaksikannya sendiri. Bagaimana kehormatanku sebagai wanita dipermainkan di sini. Apa kamu sudah tidak berniat untuk menyelamatkanku? Aku sudah berkorban banyak untuk berdiri di sampingmu!" teriak Kenda emosi.


"Aku sangat mencintaim. Mencintai kamu seutuhnya tidak harus seperti ini Kenda. Aku hampir tidak mengenalimu. Kamu berubah terlalu cepat. Aku lebih suka kamu yang dulu." Meihan meraba-raba sekitarnya mencari benda yang nanti bisa menyelamatkannya kalau saja Kenda mulai mencelakainya.


"Kamu bilang aku sudah sangat berubah? Siapa sebenarnya yang berubah? Aku rasa kita memang sama-sama berubah. Aku hanya ingin menyelamatkan hubungan ini, hubungan kita," isak Kenda.


"Aku masih dengan perasaan yang dulu, aku sudah janji padamu. Apa aku pernah mengingkari janjiku sama kamu selama ini?"


"Apa kamu masih mencintaiku?"


"Aku sangat mencintaimu...."


"Buktikan cintamu itu sekarang, hanya dengan itu aku akan percaya."


"Kenda, bukan begitu caraku untuk membuktikan seberapa besar rasa sayangku padamu."


Kenda diam sesaat, dia mengamati lekat-lekat wajah kekasihnya itu. Setiap inci, setiap mil. Wajah sempurna pria yang dulu sering dikecupnya. Bibir tebal estetik yang dulu selalu mengucapkan rindu padanya. Mata indah dengan bulu mata panjang yang dulu selalu memancarkan perhatian hanya untuknya. Sekarang semua itu bukan miliknya lagi, entah bagaimana semua itu bisa tergambar jelas dan dirasakannya.


"Jika kamu mencintaiku, mendekatlah dan kecup keningku." Tatapannya kini memancarkan rasa sakit yang dikirim dari lubuk terdalam hatinya.


Meihan sedikit iba. Apa yang sudah dia lakukan? Melukai gadis yang dulu susah payah dia jaga. Dulu dia selalu berusaha membuat gadis yang hampir menangis itu selalu tersenyum, mengusir kesedihannya jauh-jauh.


"Kamu lupa bagaimana awal mula kita bertemu dulu? Aku masih ingat pria polos berkacamata bulat datang dengan seikat bunga datang untuk mengajakku berkencan."


Meihan tertunduk, ingatannya ikut bernostalgia mengingat waktu itu. Dia dulu hanya seorang pemalu dan tidak begitu populer sampai akhirnya seorang gadis biasa sederhana membuatnya jatuh cinta. Gadis sederhana itu benar-benar mengoyak hatinya sampai-sampai hanya bermodalkan seikat bunga yang dia petik di taman. Dia berani menyatakan cintanya meski dengan suara yang kaku lengkap dengan pipi merah seperti apel.

__ADS_1


"Aku dulu tidak langsung menjawab pertanyaanmu itu karena saat itu untuk pertama kalinya seseorang menyatakan cintanya padaku. Bagaimana mungkin hal itu bisa kamu lupakan? Kamu bahkan berdiri di depanku hampir tiga puluh menit hanya untuk menunggu jawabanku. Menunggu apakah cintamu terbalaskan," lanjut Kenda mengenang masa itu.


Meihan lagi-lagi ikut terbawa ke suasana itu. Rasanya baru kemarin. Secepat itu perasaan bisa berubah. 10 tahun bersama sudah menjadi bukti betapa cinta mereka begitu kuat. Kalau waktu tidak menjadi alasan memudarnya cinta diantara kita lalu apa alasannya kita tak bisa lagi saling memandang hangat?


Kenda menarik nafas panjang lalu menghapus air mata yang hampir jatuh dari ujung dagunya. "Anna, kau diam-diam menaruh perasaan padanya kan?" ujarnya kemudian.


Tidak ada jawaban dari Meihan, diamnya menandakan betapa hatinya mulai tergerak untuk menyesali semua yang sudah dia lakukan pada Kenda.


"Apa aku kalah cantik dari dia? Apa karena aku terlalu miskin hingga cinta kita begitu mudah basi dan lekas terlupakan? Aku salah karena memiliki begitu banyak kekurangan sampai kemurnian cinta ini tidak mampu terjaga dan awet selamanya, hiks...." Kenda memejamkan matanya, tidak ada gunanya lagi untuk menangis, perih itu hanya miliknya bukan untuk milik mereka bersama, dia seorang yang harus menanggungnya.


Pria di depannya itu sama sekali tidak bereaksi. Mungkin kisah mereka sudah berakhir.


"Maafkan aku...." Dengan cepat Meihan berjalan dan langsung memeluk erat Kenda.


Tangis Kenda pecah. Dugaannya salah, pria itu masih mencintainya dengan tulus terlepas dari semua yang sudah terjadi. Pelukan itu menjadi bukti jika cinta mereka masih patut diperjuangkan.


"Aku tahu itu...." Air mata suci gadis itu membasahi pundak Meihan.


Mereka berpelukan kurang lebih semenit.


"Maafkan aku." Dia melepas tubuh Kenda yang bersandar di dadanya "Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi dan akan tetap fokus memperjuangkan hubungan kita." Dia mengusap air mata kekasihnya itu.


Meihan menarik tubuh gadis itu untuk mendekapnya kembali dalam pelukannya yang hangat.


Semua gadis di dunia ini adalah seorang lemah. Mereka sangat lemah dan butuh seseorang untuk diandalkan. Bagaimanapun Kenda juga hanyalah salah satu dari makhluk lemah itu. Pundaknya terlalu rapuh untuk menopang beban yang dituliskan takdir. Dia hanya butuh bahu lain untuk menguatkannya meskipun bahu itu hanya sekedar tempat untuk tidur sejenak melepas penat.


"I love you," bisik Meihan sembari mengusap rambut Kenda untuk menenangkannya.


"I love you too...."


Meihan mengangkat tubuh mungil gadis itu dan membaringkannya ke ranjang kamarnya.


"Kamu bilang sedang tidak mood melakukannya?" bisik Kenda.


"Aku tiba-tiba merasa bersemangat." Meihan mengusap beberapa helai rambut Kenda yang menutupi wajahnya lalu mengecup lembut keningnya lanjut mengecup hidungnya, dagu, dan lanjut menjelajahi lehernya dengan ganas.


Tentu saja Kenda tidak tinggal diam. Dia tidak boleh gagal kali ini. Meski belum berpengalaman, dia mengeluarkan ******* terbaiknya untuk merangsang Meihan. Dia juga menyentuh daerah-daerah sensitif yang membuat Meihan tertantang dan lebih agresif lagi.


Huft, hhhh....

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?" bisik Meihan.


"Aku bahkan lebih baik dari biasanya, hhh, ada apa? Kenapa berhenti?"


"Kejadian kemarin tidak membuatmu trauma?"


"Aku tidak seperti Anna, kamu yang ada diatasku sekarang, bukan pelayan penuh nafsu yang kemarin. Tentu saja aku tidak apa-apa." Kenda mulai melepas kemeja Meihan begitu pula dengan Meihan, dia melepas gaun pelayan selutut yang menutupi lekuk tubuh gadis nakal yang sedang dengan semangatnya menggigit daerah dibawah pusatnya.


"Hahaha, kamu lebih lihai dari kemarin," ujar Meihan yang langsung memeluk Kenda dan mulai memasukkan barang kebanggaanya ke lubang berbisa milik Kenda.


Hah....


Mereka beradu penuh gairah sampai ranjang kamar itu ikut berderit mengikuti irama gerakan mereka.


"Sejak kapan kamu memakai ini?" Tanya Kenda waktu melihat benda licin yang menutupi barang perkasa milik Meihan.


"Tadi, kamu terlalu bersemangat sampai tidak melihatku memakainya?"


Huhh....


"Tidak perlu memakainya, aku tidak keberatan. Aku bahkan sangat bahagia jika mengandung anakmu."


Meihan hanya tersenyum. Dia melahap bibir Kenda agar tidak mempermasalahkan benda yang menutupi barangnya itu dan fokus pada kegiatan yang sedang mereka lakukan.


Lengket, basah, keringat, mereka terus belgelut. Detik jam yang berderit di dinding menjadi satu-satunya saksi kegiatan hangat bergairah itu.


Aaaa....


Kenda berteriak kecil ketika Meihan memasukkan barangnya lebih dalam.


"Ada apa?" tanya Meihan dengan suara berat dan terdengar sedikit kelelahan.


Sambil menggigit bibirnya dan meremas bantal di kepalanya, Kenda menggeleng pelan meski ekspresinya seperti kesakitan.


Meihan tidak terlalu peduli. Dia lanjut menyalurkan hasratnya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memuaskan gadis itu.


Kenda masih berjuang menahan sakit, meski begitu dia tidak mencoba menghentikan Meihan untuk berhenti menjelajahi lubang berbisanya. Meihan tidak selembut dan sehati-hati kemarin. Apa mungkin karena bukan dia satu-satunya pria yang melakukan itu padanya? Bahkan dia memakai alat pengaman.


"Aku suka kamar ini, meski di luar terik tapi di sini terlalu gelap seperti malam hari. Tidak ada yang tahu, tidak ada, percintaan kita yang panas di siang hari."

__ADS_1


__ADS_2