Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
31. Lanjutan Kisah


__ADS_3

Atzlan mengamati punggung pria serakah itu.


"Apakah lukisan itu dilukis oleh...." Sekretaris Gun menatap Atzlan yang tampak pucat. Serangan tidak terduga dari Ayah Meihan tepat menyerang psikisnya.


"Guntur, tinggalkan aku sendiri," pintanya.


"Jawab!" Pekik Guntur setengah berteriak.


Anggukan Atzlan membuat kaki pria itu bergetar.


"Kenapa kau menyebutnya gelandangan Mesiko? Bukankah itu terlalu kasar?" Ujar Sekretaris Gun tidak terima.


"Baginya itu adalah sebutan paling terhormat yang pernah aku sebut," jawab Atzlan pasrah.


"Kenapa kau merahasiakan kalau masih ada lukisannya yang tersisa? Itu bisa menjadi bukti...."


"Sudahlah! Cukup!" Teriak Atzlan tidak tahan mendengar pertanyaan Sekretaris Guntur, "Aku ingin sendiri Gun," ucapnya pelan.


Sahabat karibnya itu seperti mengerti dan menyadari kalau dia sudah melewati batas. Dia tunduk lalu keluar membawa segenap gundah di dadanya.


Di dalam Atzlan berdiri mengamati lukisan itu. Hatinya hancur, dia seharusnya tidak perlu bersikap keren menjelaskan keunikan gambar itu karena pria cengeng dalam lukisan itu sedang berdiri di sana mencari dirinya yang menangis pilu.


****


"Anna! Anna! Anna!" Terdengar teriakan dari luar rumah membuyarkan pikiran Anna yang sedang fokus membaca novel di kamarnya. Lehernya refleks menjorok ke luar jendela.


"Anna!" Wanita itu masih berteriak.


Anna buru-buru keluar dari kamarnya menghampiri wanita itu.


"Ibu, apa yang terjadi?" Tanyanya melihat kondisi Ibu tirinya yang tampak sangat kacau.


"Jangan pura-pura tanya. Pasti kamu bahagia melihat kondisi Ibu kan?" bentak wanita itu.


Anna menggeleng pelan meski ucapan wanita itu tidak sepenuhnya salah.


"Beri aku uangmu,” mintanya sambil terburu-buru seperti dikejar sesuatu.


"Uang?" Anna mengkerutkan keningnya.


"Cepat, aku mohon," pintanya sambil menggengam kasar tangan Anna.


"Tapi...."


"Ibu mohon, Ibu..." dia melihat sekeliling sebelum melanjutkan kalimatnya "Ibu harus menyelamatkannya."


"Menyelamatkan?"


"Cepat Anna!" rengeknya.


Anna pasrah dan membuka acak lembar buku yang tidak sengaja dia bawa itu. Setelah menemukan kartu hitam, dia langsung mengambil itu dan memberikannya ke Ibu Rafah. "Ini, pinnya ulang tahun Rafah."

__ADS_1


"Apartemen itu, apartemen rahasia Rafah. Jangan pernah memberi tahu alamat tempat itu ke siapapun. Anna, kamu harus berhati-hati. Sekarang bisa saja targetnya adalah kamu," ujar wanita itu lalu pergi setengah berlari.


Tidak ada yang tahu penyebab kekacauan kemarin. Dalam benak Anna yang dia tahu hanya Ayah Meihan yang mengubah haluan rencana. Apakah sekarang target pria serakah itu adalah dirinya? Anna mematung di sana sampai tidak sadar mobil Meihan sudah berhenti di sebelahnya.


"Anna!" Panggilnya.


Anna hampir melompat karena terkejut. Melihat sosok itu dia langsung membuang muka.


"Anna, tunggu!" Pria itu segera keluar mobil dan buru-buru menyusul Anna.


"Anna, dengarkan aku dulu," pintanya.


"Apa yang harus aku dengar? Penjelasan?" bantah Anna.


"Anna...." Dia menarik pelan tangan mungil gadis itu. Matanya menatap dalam-dalam. "Semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya...." Dia menghepas nafas berat.


"Kenapa? Apa sebenarnya yang ingin kamu jelaskan?" Pekik Anna sedikit kesal.


"Dia hamil, dia mengandung anakku, semua ini sudah di luar kendaliku" jelasnya singkat.


Mata Anna sontak terpejam, dia teringat alat test pack yang dulu diberikan Kenda padanya.


"Oh rupanya kamu pria yang sudah menghangatkan rahimnya? Pantas saja dia bersikap angkuh dan sombong. Rupanya dia menyimpan harta karun tak ternilai harganya," pungkas Anna dengan ekspresi tidak terkejut sama sekali.


"Anna...." Meihan menggenggam erat tangannya.


"Tidak apa, kamu sudah menderita karenaku, aku hanya sundal pembawa sial. Aku baik-baik saja, jaga wanita itu," ucapnya lagi dengan suara tegar.


"Sudah kubilang, aku sangat baik-baik saja. Kita juga belum melewati malam di ranjang yang sama. Aku masih bisa mencari pria baik yang bisa menggantikanmu tanpa mengecewakannya. Kita hanya bertemu karena sial," meski Anna sudah menyiapkan perasaannya tapi tetap saja rasa perih itu sangat mengganggu.


"Pria baik? Apa pria yang bersamamu di depan lift kemarin. Dia yang kamu maksud?" Tanya Meihan sedikit mengintimidasi.


"Apa kamu perlu tahu itu?" balasnya sambil tersenyum kecut.


"Tentu saja!" bentak Meihan.


Anna menatapnya emosi. Masih pagi tapi hatinya sudah bergejolak.


"Aku tidak ingin membahas apa-apa lagi denganmu." Anna berbalik hendak menghilang dari hadapan pria itu agar amarahnya bisa meredah.


Tapi, Meihan dengan kasar menarik tangannya agar kembali ke tempatnya semula.


"Hanya pernikahan kita yang batal tapi kamu masih menjadi tunanganku, masih ada hubungan sakral yang mengikat kita. Kamu tidak boleh bertemu lagi dengannya," ancam Meihan.


Mendengar itu Anna merasa ada kekuatan menjalar dari ujung jarinya. Emosinya seperti tidak mau dikendalikan.


Plak!


Tangannya mendarat mulus di pipi kiri Meihan.


"Apa kamu tidak terlalu serakah? Ada wanita yang sedang mengandung darah dagingmu. Dimana hakmu untuk mengontrolku? Bukankah dengan hadirnya bayinya itu memegaskan putusnya seluruh hubungan kita?" Ucap Anna dengan mata memerah.

__ADS_1


Meihan memegang pipinya yang perih. "Jika pria itu orang lain, aku tidak keberatan sedikitpun. Tapi aku mohon jangan dia," ujarnya sambil memegang pundak mungil Anna.


Mata Anna masih memerah penuh emosi bahkan semakin membara seperti air mata darah akan keluar dari sana.


"Ini hidupku, apa hakmu!" teriaknya penuh emosi.


"Aku mohon Anna, aku berhak untuk melindungimu. Aku berhutang nyawa padamu, moncong pistol Ayah sekarang sedang membidik ke arahnya dan akan sangat bahaya jika kamu memiliki hubungan dengannya. Kamu tahu bagaimana Ayah bukan?" pintanya dengan tulus.


Air mata menemukan jalan untuk menguap. Air hangat itu masih saja menemukan cara untuk bebas. Tidak bisakah biarkan dia beristirahat dari sekian tragedi yang terus datang seperti tidak pernah ada akhirnya. Perjuangan itu sangat melelahkan dan rumit.


"Kamu tidak berutang apapun sama aku. Fokus saja merawat wanita itu, dia pasti butuh kamu sekarang. Tidak mudah mengandung seorang bayi." Dia melepas pelan tangan Meihan dan berbalik sekali lagi untuk pergi.


"Maafkan aku Anna." Kali ini dia menarik tangannya dengan lembut lalu memeluk gadis itu dengan tulus.


Anna hanya tersenyum sambil menghapus air matanya. "Kamu tidak perlu melakukan ini. Aku sangat baik-baik saja. Tidak akan ada yang bisa melukaiku, Ayahmu sekalipun. Dia bukan tandinganku."


"Maafkan segalanya Anna. Maafkan...."


"Berhentilah meminta maaf! Aku tidak selemah itu. Hiks." Dia memukul dada Meihan sebisanya untuk melepaskan pelukan yang tidak diharapkan.


"Kenapa kita sangat sial? Aku hanya ingin kamu menjalani hidup seperti yang lain," bisik Meihan penuh rasa iba.


"Sial! Berhenti mengasihaniku. Aku... Aku...." Air matanya sudah memenuhi dada Meihan.


"Sekarang aku mengerti kenapa Rafah selalu membelamu. Kisahmu terlalu luar biasa."


"Sudah kubilang berhenti mengasihaniku!" teriak Anna kesal dan sesenggukan.


Dosa sebesar apa yang harus dibayar dengan karma bertubi-tubi. Matahari yang menyising bahkan selalu terlihat menyebalkan. Andai ada seorang saja yang bercerita tentang dongeng hilangnya mentari dari jagat raya. Cerita itu begitu memilukan menggambarkan jelas bagaimana kita mati bersama tanpa ada sebuah kemenang atas keserakahan. Ketika mentari menghilang di situlah titik akhir dari semuanya.


"Ini," Meihan memberinya segelas teh hangat.


"Sudah berapa bulan?" tanya Anna sambil menyambut teh itu.


"3 bulan," jawab Meihan.


"Kenapa menjawab dengan ekspresi itu? Kamu seperti terlihat tidak bahagia," ujarnya sambil menyerumput teh dengan aroma menenangkan itu.


Meihan menggeleng.


"Aku tidak menyalahkanmu, sudah aku bilang aku baik-baik saja."


Kini Meihan mengangguk. "Aku meragukan anak itu," ujar Meihan kemudian.


Sontak Anna hampir menyembur teh yang baru saja diminumnya karena mendengar itu. Teh hangat itu masuk ke saluran paru-parunya sehingga membuatnya terbatuk-batuk.


Uhuk-uhuk-uhuk


"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang aneh jika kamu tidak ingin tanganku kembali mendarat di pipimu," ucap Anna setelah batuknya mereda sambil mengacungkan tangannya.


"Baiklah, dia anakku bukan?"

__ADS_1


Kalimat itu disambut anggukan Anna.


__ADS_2