Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
17. Labirin Kecil


__ADS_3

"Kamu yakin akan baik-baik saja di sini?"


"Tempat ini bahkan lebih nyaman dari dari tempat manapun."


Ayah Meihan mengecup tangan kepala pelayan. "Malamku akan sangat kesepian tanpamu," ucapnya dengan tatapan dalam.


"Kamu harus memantaunya, aku tidak dengan sukarela mau menyerahkan diri ke sini. Pelayan murahan itu memiliki vidio kita. Dia mengancamku kemarin. Berhati-hatilah sama dia."


"Aku akan mengurusnya. Kamu tenang saja," ujarnya lagi masih tetap dengan tatapan yang dalam.


Selagi masih menikmati detik-detik perpisahan itu, Tiba-tiba seorang bertubuh bugar dan berkepala botak masuk membisikkan beberapa kata ke Ayah Meihan. Diapun seperti mengerti dan mengangguk lalu pria berkepala botak itu keluar sambil membungkuk.


"Kamu tidak perlu khawatir selama di penjara ini. Aku sudah menyuruh kenalanku untuk menyiapkan tempat terbaik di sini untukmu. Aku juga sudah berdiskusi dengan pengacara dan hakim, mereka sepakat untuk memotong masa tahananmu selama di buih ini. Kamu sanggup mendekam di sini selama enam bulan?"


"Enam bulan? Apa itu tidak terlalu singkat untuk hukuman menghilangkan nyawa seseorang?" ucap kepala pelayan setengah tidak percaya mendengar ungkapan pria berkumis tipis itu.


"Tenang saja, semua sudah aku atur. Media juga akan berhenti menayangkan ini. Dia hanya pelayan murahan tidak perlu dibesar-besarkan. Nyawa seekor nyamuk bahkan lebih berharga dibanding nyawanya." Ayah Meihan mengangkat alisnya dan setengah tertawa karena jijik.


"Aku memang tidak salah memilihmu terlepas dari semuanya. Aku tidak menyesal sama sekali, hahaha...."


"Tentu saja, hahah, aku pemilik kuasa sesungguhnya, siapapun yang menjadi sekutuku akan beruntung tujuh turunan, hahaha...."


Mereka tertawa puas menikmati waktu itu. Matahari yang terlihat dari jauh di ufuk barat sana sudah siap-siap untuk terjun bebas sebelum memancarkan kemilau ungu cantik perpaduan warna jingga merah yang memanjakan mata.


Sore hari di kota, pemandangan seperti itu tidak lagi memanjakan mata, sudah tidak ada lagi yang tertarik untuk memuja langit di sore hari yang indah. Kesibukan dan kebisingan kota memudarkan seluruh yang indah dan menenangkan. Hanya jiwa-jiwa patah hati juga putus asa yang terlihat sedang diam-diam menyumpahi keindahan itu dengan deraian air mata. Tidak ada yang salah dengan senja hanya saja senja merupakan waktu terbaik untuk menyalahkan bumi yang tetap berputar meski semua yang terjadi tak sesuai dengan harapan.


***


Anna membuka matanya yang serasa berat luar biasa.


"Jangan bilang kalau kamu mencari pria tak bertanggung jawab itu," ujar Rafah yang kesal karena Anna seperti tidak peduli padanya.


Anna memutar bola matanya seperti enggan untuk melihat adik tirinya itu.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau begini?" ujar Rafah lagi.


"Sampai kapan? Maksud kamu?"


"Aku tahu aku salah. Maafkan aku."


"Dimana dia?" Anna mengalihkan pembicaraan itu. Rasa kesalnya pada Rafah masih belum bisa termaafkan.


"Meihan?"


"Iya, kenapa dia tidak di sini?"


"Hahaha, pria bajingan itu. Dia bahkan tidak ada saat kamu hampir pingsan. Sampai kamu dilarikan ke rumah sakit ini dia juga tidak ada. Urusan mendadak perusahaannya lebih penting dari nyawamu," ungkap Rafah sedikit kesal.


"Tidak mungkin, dia harusnya menjengukku," ucap Anna penuh harap.


"Anna... apa kamu lupa arti dari pernikahan kalian? Sadarlah, semua ini hanya untuk memperkuat kuasa dua keluarga. Mengais cinta di hubungan seperti itu hanya akan membuatmu sakit hati."


"Aku tidak peduli, Meihan juga pasti memiliki rasa yang sama sepertiku," bantahnya.


"Apa kamu tidak suka melihatku bersamanya? Hahaha," ketus Anna.


"Iya, aku benci melihatmu tersenyum pada pria lain," balas Rafah tanpa ragu.


"Hahahaha." Anna hanya bisa tertawa kaku mendengar ucapan Rafah barusan.


"Sampai kapan kau akan menyangkalnya? Aku bukan bocah itu, dia sudah tewas beberapa tahun yang lalu. Aku anak yang dipungut wanita itu dari panti asuhan kumuh di pelosok sana. Rafah? Aku bahkan jijik mendengar semua orang menyebutku dengan nama itu."


Anna diam membatu. Dia memang sudah lama tahu akan itu. Tapi dia belum siap mengakuinya. Rafah haruslah tetap Rafah, adik tirinya yang manja. Adik tirinya yang manis. Adik tirinya yang dulu menyelamatkannya. Mereka memiliki ikatan darah kuat, tidak boleh ada rasa diantara mereka.


"Aku tahu kamu sudah lama menyimpannya. Akupun begitu. Sampai kapan kita begini?" Rafah menatapnya dalam penuh arti.


Dag-dig-dug.

__ADS_1


Jantung Anna seperti akan terpingkal keluar menembus jejeran tulang rusuknya. Dia tidak berani menatap mata pria yang siap mengakui semuanya itu. Matanya penuh keseriusan dan seperti hanya berkedip sekali dalam semenit.


"Apakah salah jika aku mencintaimu?"


Anna hampir tidak bisa bernafas. Ventilator di samping ranjangnya mulai sedikit berisik mengeluarkan bunyi 'tuuuut' yang panjang. Menandakan ketidak normalan di dada Anna.


Pengakuan itu tidak terbalaskan. Perasaannya sudah lama hilang. Anna menarik nafas panjang untuk mengatur kembali irama jantungnya. Dia memberanikan diri menatap mata bulat Rafah dengan bulu mata lentik yang berjejer rapi dan tertuju padanya sedari tadi.


"Kamu pikir aku akan terbawa perasaan?" tanya Anna dengan senyum khasnya yang dipaksakan seoriginal mungkin "Kamu mau membalas kejadian kemarin di apartemenmu? Aku tidak seperti kamu, mana mungkin aku bisa terbawa perasaan hanya dengan leluconmu itu, hahahha...."


Rafah menarik nafas panjang juga dalam. "Anna, kamu bukan gadis remaja lagi. Kamu tidak sebodoh itu, aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu." Dia menunduk kecewa.


"Sudahlah Rafah, aku tidak akan tertipu." Anna kekeh meski dia masih berusaha menyangkal pengakuan itu. Dia belum siap dan masih perlu waktu untuk menerjemahkan rasa yang selama ini terjebak di hatinya.


Rafah lagi-lagi menarik nafas panjang juga dalam. Dia sudah tidak berucap lagi gantian dia melayangkan tatapan penuh perhatian dan rasa cinta pada Anna. Tatapan yang biasa dilakukan seorang pria terhadap wanita yang dicintainya. Meski begitu Anna pandai menyembunyikan perasaannya, tidak heran Anna adalah wanita dengan seribu macam ide untuk menyelamatkan diri.


"Kamu sudah dewasa, cepatlah mengencani seorang gadis, agar kau berhenti menggodaku." Dia mencubit pipi Rafah sambil tersenyum gemas.


Rafah hanya terlihat pasrah.


Tok-tok-tok


Seorang suster masuk membawa makanan juga obat. Dia berhasil menyelamatkan Anna dari suasana yang hampir tidak ada celah untuk menyelamatkan diri itu. Anna bahkan tidak bisa mengontrol kegirangannya saat mendengar ketukan pintu dari suster itu. Dia hampir bertepuk tangan saat melihat gangang pintu bergerak disusul perawat cantik yang masuk sambil menyapa dengan senyum ramahnya.


"Kamu mau kemana?" cegat Anna saat Rafah sontak berdiri ketika melihat perawat itu masuk.


"Mencari gadis untuk aku kencani. Kamu sudah tidak asik lagi untuk menjadi sasaran gombalanku," ucapnya sambil tersenyum manis sekaligus pahit.


Anna dengan cepat melepas tangannya. Dia membalas senyuman pria itu dengan ambigu. Ada sebersik rasa kecewa sekaligus bingung yang hadir tanpa permisi. Apa itu benar-benar lelucon? Tatapan hangat itu hanya sekedar tatapan tanpa arti. Pengakuan yang mendadak itu hanyalah omong kosong? Bagaimana caranya memosisikan diri? Anna menatap hati-hati punggung Rafah yang akan segera menghilang ditelan pintu.


"Harusnya aku melarangnya untuk keluar. Harusnya aku tidak menganggapnya bocah. Aku tahu kami hanya dua orang asing yang saling jatuh cinta dan menyimpan perasaan diam-diam. Tapi kami tidak bisa menyangkali satu hal, kami adalah adik kakak menurut hukum. Hubungannya ini seperti labirin tanpa jalan keluar."


Selesai sedikit berbasa-basi. Perawat itu kini meninggalkan Anna. Berhasil, kesepian mulai menyerangnya.

__ADS_1


"Lalu apa jika hubungan ini menjebak bagai labirin? Kita tidak perlu harus mencari jalan keluar. Berputar-putar di dalamnya bukanlah masalah, asal bersamamu. Meski kita terjebak semakin dalam. Hal itu hanyalah lelucon. Kita akan tertawa terbahak bersama ketika sampai diujung jalan yang tertutup tembok, kau akan mengejekku karena sudah salah memilih jalan. Akan seperti itu hari-hari kita. Menyenangkan dan membosankan. Tidak apa, asal bersamamu." Rafah mengepalkan tinjunya.


Dia lekat memandangi Meihan yang sedang berpelukan mesra dengan Kenda.


__ADS_2