
Meihan terlihat sedikit cemas menunggu Kenda diperiksa. Selang beberapa menit menunggu, pintu ruangan itu terbuka disusul munculnya Kenda dan dokter yang merupakan teman SMA-nya dulu.
Setelah berbasa basi, mereka berpamitan untuk pulang. Tapi sahabatnya itu memberi kode diam-diam kalau mereka perlu bicara.
"Kamu bisa pulang sendiri 'kan?" tanya Meihan ketika mereka melewati pintu utama rumah sakit.
Kenda berbalik dan diam sesat "Kamu tidak akan menemui ****** itu 'kan?"
Meihan tersenyum pasif. "Tentu saja tidak sayang, aku 'kan sudah berjanji sama kamu." Dia mengusap pelan rambut Kenda lalu berbalik, lari, masuk kembali ke dalam rumah sakit. Sedang Kenda hanya berdiri pasrah melihat punggung sosok yang dicintainya itu menghilang dari pandangannya.
"Atur dulu nafasmu," celoteh sahabat karib Meihan yang melihatnya ngos-ngosan tidak karuan.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Meihan masih sambil mengatur nafas.
"Rupanya hubungan kalian masih bertahan sampai sekarang? Kamu lumayan setia bro, aku salut," ujar sahabat karibnya itu sambil bertepuk tangan kecil.
"Hahaha, aku memang pria sejati, setia sama satu wanita," balas Meihan sambil membusungkan dadanya.
"Yah, aku tahu tapi kamu harus hati-hati juga kalau berhubungan intim. Kamu terlalu bersemangat sampai-sampai hampir merobek rahimnya. Untung sobekkannya kecil dan masih bisa diobati kalau tidak dia akan susah untuk memiliki anak," jelasnya.
Meihan diam sejenak mendengar penjelasan sahabat karibnya itu.
"Mulai hari ini kalian tidak boleh menikmati malam bersama dulu, tahan-tahanlah sedikit bro. Kasihan Kenda. Dia pasti lelah harus melayanimu tiap hari," jelasnya lagi sambil memukul pahanya.
"Setiap hari? Aku baru melakukannya sekali," ujar Meihan sambil mengerutkan dahinya.
"Halah, kamu tidak perlu malu membahas itu. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku sudah banyak menemukan kasus seperti ini."
"Aku serius!" bantah Meihan setengah mati.
Belum sempat membalas bantahan itu ponsel sahabat karibnya tiba-tiba berbunyi menandakan waktunya istrahat selesai. Dia menepuk pundak Meihan sambil berbisik "Ingat, kalian tidak boleh melakukannya malam ini. Ingat!" bisiknya dengan intonasi penekan.
"Aku sudah bilang...."
Sahabat karibnya itu berlari sambil mengangkat jempolnya membuat Meihan lemas karena tidak puas dan mengerti maksud medis yang dijelaskan sahabat karibnya itu. Diapun akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana sambil memikirkan kembali malam panas dirinya bersama Kenda.
"Aku tidak terlalu kasar malam itu," gumamnya pelan sambil jalan tertunduk.
Langkahnya terhenti karena ada sosok yang menghalangi jalannya. Dia respek mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu tidak mungkin mengabaikanku dengan tidak menjengukku. Rasa bersalah karena kamu tidak berhasil melindungiku pasti yang menghantuimu sampai kau tidak berani menjengukku," rengek Anna sambil memeluk pria itu.
Meihan tak sanggup berbuat apa-apa dia hanya bisa mengatup mulutnya sambil membulatkan matanya, terkejut bukan main.
"Anna...." Dia melepas paksa pelukan gadis itu.
Anna menatap lekat mata Meihan "Dari mana saja kamu?"
"Aku... ada urusan perusahan yang tidak bisa ditunda," jelasnya setengah gugup.
Anna mulai memberi kode lewat lirikan matanya. Meihan akhirnya sadar kalau ada kamera yang sedang memantau gerakan mereka. Pantas saja Anna bersikap sedikit aneh.
"Dia mengikuti dari tadi," bisik Anna.
"Kenapa bisa?"
"Aku juga tidak tahu, kamu yakin itu bukan perbuatan Ayahmu?"
Jarak mereka kini sangat dekat, tubuh Anna nyaris menempel di dada Meihan. Dia mengangkat kepalanya untuk memastikan kalau Meihan sudah melihat pria misterius yang memantau mereka itu. Di saat bersamaan Meihan juga menunduk untuk melihat kondisi Anna. Alhasil, mata mereka bertemu saling beradu tatap.
"Owh, seperti ini wajahnya dari dekat?" gumam batin Anna. Matanya menatap setiap inci wajah sempurna yang sedang ditatapnya.
Mereka bertatap intens sampai rombongan dokter lewat dan sedikit berdehem menggoda mereka. Anna dan Meihan refleks saling menjauh satu sama lain dengan salah tingkah.
"Penguntit itu sudah hilang," ujar Anna untuk mencairkan suasana.
Meihan juga ikut mencari pria misterius tadi namun benar saja, dia sudah tidak ada di sana.
"Apa ini pekerjaan Ibu tiriku? Tapi untuk apa dia mengawasiku?" Anna menggaruk kepalanya, bingung.
Meihan tiba-tiba teringat Kenda. Ini pasti ulahnya.
"Kamu tidak punya orang yang berpotensi besar untuk menjadi tersangka?" tanya Anna lagi.
Meihan tidak merespon, dia buru-buru pergi dari hadapan Anna.
Tidak Terima diperlakukan seperti itu, Anna mengejarnya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya sambil berlari menyusul Meihan yang jalan dengan cepat, karena baru saja menjalani perawatan dan sebenarnya belum boleh berlari. Kaki Anna tidak mampu menumpu dan sedikit bergetar hingga membuatnya jatuh "Aaaa!" Pekiknya kesakitan.
__ADS_1
Meihan berbalik, dia melihat Anna sudah terduduk lemas di lantai. Kakinya hendak melangkah cepat pergi dari sana tapi tatapan orang-orang di sana yang tahu kalau mereka akan segera menikah berhasil membuatnya mendekati Anna kembali dan menggendongnya untuk dibawa ke ruang inap.
"Aku tahu kamu pria baik," ujar Anna sambil menyandarkan kepalanya dipunggung Meihan.
Meihan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terpengaruh keadaan. Dia punya komitmen pada Kenda. Semua ini bukan apa-apa. Ada pepatah yang mengatakan, 'Intens pertemuan seseorang mampu membangkitkan perasaan yang tidak ada sama sekali, meski benci sekalipun.' Apakah arah perjuangan cinta Anna akan terus berlanjut dalam rencananya?
Setelah menaruh Anna di kasur kamar Inap, Meihan tampak gugup tidak seperti biasanya. Dia bahkan tidak berani menatap atau melihat ke arah Anna. Lirik tipisnya kadang-kadang dia lempar meski hanya sekian detik. Begitupun dengan Anna. Suasana tegang tanpa sebab itu membuat pipi Anna sedikit memerah tanpa alasan.
Meihan tampak berkeliling mencari kesibukan. Melihat bunga lili kuning yang diletakkan di dalam pot dekat ranjang, dia langsung mendekat dan mengambil satu bunga dalam pot itu lalu memainkannya untuk menekan perasaan aneh di hatinya.
"Tidak bisa terus seperti ini," gumam mereka berdua dalam hati secara bersamaan.
"Kamu...."
"Kamu...."
Mereka akhirnya berbicara namun kata pertama yang mereka ucapkan bersamaan. Hal itu berhasil membuat pipi mereka merona tanpa sebab.
"Kamu bisa duluan," jawab Meihan dengan ekspresi datar yang dibuat-buat.
Anna hanya nampak bingung. Pikirannya diserang ribuan hal rumit. Cinta tidak semudah itu datang hanya karena desiran aneh di hati mereka. Suasana seperti ini hanya bentuk kesalahan waktu dan takdir. Harusnya aku dan dia adalah kekasih yang sedang dimabuk asmara, bukan dua orang asing yang dipertemukan secara kebetulan lalu malu-malu hanya karena bertatapan aneh yang disengajai waktu. Anna tidak mungkin bisa dicintai dan mencintai. Apa lagi pria yang sedang memutar bunga lili kuning di tangannya itu memiliki wanita hebat yang dia pertahankan selama sepuluh tahun hidupnya. Apa sosoknya bisa mengalahkan histori kisah asmara dua sejoli itu?
"Kamu barusan mau bilang apa?" tanya Meihan sambil memetik jarinya di depan wajah Anna.
Anna pun tersadar dan sontak tersenyum datar "Apa yang aku lewatkan selama tiga hari berbaring seperti orang mati di sini?" tanyanya kemudian. Pipinya sudah tidak merona lagi digantikan sorot mata yang sedikit tajam.
Meihan juga ikut tersenyum tipis "Tiga hari yang kau lewatkan adalah hari terpenting setiap detiknya. Aku kembali menemukan diriku setelah lama berkelana," ujarnya pelan.
"Baiklah, kamu sudah merasakan kembali getaran aneh karena komitmenmu itu bersamanya? Aku memang berbahaya dan semakin hari akan semakin berbahaya. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk memperingatimu. Jangan pernah percaya padaku, aku sangat berbahaya." Anna menatap pria itu hampir tidak berkedip.
Meihan mengangguk mengerti. Dia kembali memainkan bunga lili kuning itu sambil bersandar di meja, tidak jauh dari jendela yang membuat sinar matahari kuning kemilau masuk secara bebas pertanda hari sudah sore.
"Kita bisa saling memiliki bukan?" tanya Anna tanpa ragu.
Meihan nampak terkejut. Anna memang sesuatu. Dia tadi baru menjelaskan betapa bahayanya dia lalu melempar pertanyaan lagi yang tidak seharusnya diucapkan setelah memberi peringatan aneh.
"Maksud kamu?" Meihan mengekerutkan dahinya.
"Kita akan menikah. Cintai aku selama cincin itu mengikat di jari manisku. Mungkin pernikahan kali ini adalah pernikahan pertama dan terakhirku. Jadi aku mengemis cinta darimu. Cintai aku, sekali saja. Sekali saja...."
__ADS_1