
"Bagaimana perasaanmu Anna?" yanya Ayah Meihan dengan senyum sangarnya.
Anna meletakkan garpuk yang dipegangnya dengan pelan. "Aku punya permintaan," ujarnya pelan, berhasil membuat perhatian seluruh anggota keluarga di meja makan itu tertuju padanya.
"Kamu sudah mulai terbuka, apa permintaanmu gadis manis?" balas Ayah Meihan.
"Aku ingin membuat surat perjanjian lengkap dengan materai. Perjanjian yang diikat hukum," ucapnya pelan lagi tegas.
"Perjanjian apa?"
Di pojok meja paling kanan, Rafah diam-diam menatap iba padanya.
"Pertama, pernikahan ini akan berakhir jika ke dua belah pihak memutuskan untuk mengakhirinya, putusan dari salah satu pihak dianggap tidak sah dan dianggap melawan hukum. Ke dua, aku tidak ingin seranjang dengan calon suamiku...."
"Kamu kenapa Anna?" bisik Meihan berusaha menghentikannya. Namun kalimat tanya itu berhasil membuat Anna emosi. Meihan benar-benar mempermainkannya.
"Apa dia tidak tahu bagaimana perasaanku? Kenapa dia selalu bertanya apa yang salah denganku?" Anna menatap tajam dengan muka merah padam.
"Ada apa? Hum?" Meihan masih bertanya dengan suara lembut.
"Ketiga!" teriaknya sambil menatap tajam seperti akan memegal kepala pria yang terus bertanya itu ”Calon suamiku tidak boleh memiliki hubungan dengan wanita manapun, jika dia ketahuan maka nyawa adalah ganjarannya!" lanjut Anna sedikit berteriak dan tidak memedulikan Meihan yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.
"Sayang, tidak perlu emosional. Aku tahu perasaanmu. Begitu memang perasaan seseorang jika akan menikah, banyak pikiran negatif yang menyerang dan itu termasuk cobaan. Besok pernikahanmu, tidak perlu aneh-aneh." Ibu tirinya ikut memberi saran sekaligus mencairkan suasana.
"Aku mohon!" pekiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Anna, sayang...." Meihan semakin membujuknya, dia menepuk pundak calon istrinya itu agar lebih tenang.
"Aku tidak akan melakukan pernikahan ini jika surat perjanjian itu tidak ada," pinta Anna dengan emosional.
"Kamu kenapa? Bukannya...." Meihan masih berusaha membujuknya.
__ADS_1
"Aku harus kuat sebelum badai datang."
Seisi hotel itu mendadak senyap, Meihan kebingungan. Matanya berkedip liar menandakan kecemasan.
"Anna? Ada apa?" bisiknya sekali lagi.
"Apa ini salah? Aku hanya ingin membangun benteng yang bisa melindungiku, hanya aku yang bisa menghancurkan benteng itu. Siapa yang tahu jalan hidupku pada satu atau dua minggu ke depan setelah pernikahanku. Apa kalian tidak paham kewaspadaanku? Aku hanya yatim piatu yang tidak memiliki tempat untuk bergantung," sergahnya.
"Baiklah," sela Ayah Meihan "Bagaimana Meihan? Kamu setuju dengan permintaan pertama calon istrimu?" ucap Ayah Meihan lalu di susul dengan tawa garing. Hahaha....
Meihan terdiam sesaat sambil sedikit menunduk. Setelah mengangguk beberapa kali seperti sudah menemukan jawaban setelah meredakan perseteruan di dalam hati dan benaknya. Dia berbalik menatap mata Anna lekat-lekat. Tatapan yang dalam dari seorang Meihan. Sementara itu Anna juga balas menatapnya, intens tatapan yang tidak boleh diganggu siapapun.
"Apa kamu ingin membuatku terpesona?" Bibir Anna mendadak merapat menahan pikirannya yang kacau balau. Dalam lubuk hati terdalamnya, dia seperti mendambakan kecupan dari bibir yang di matanya menyerupai paruh burung tumpul karena tonjolan menurun pada tengah bibir atasnya. Anna menahan itu dengan menelan air liurnya beberapa teguk dan biarkan lamunan memenuhi tatapan kosongnya.
"Aku tidak setuju," bibir seksi yang menyerupai paruh burung tumpul itu perlahan berucap dan Anna seperti menyaksikannya melambat. Bibir itu terbuka, tertutup, mengatup, menyerong, Anna benar-benar tidak tahu apa maksud sesungguhnya. Dia tidak mendengar suara apapun dan matanya masih terus menatap kosong meski Meihan sudah menggerak-gerakkan alisnya untuk memberinya sinyal agar merespon.
"Apa bibir itu mendekat? Apa dia akan... oh bibirnya semakin mendekat." Anna terus berdialog monolog dalam khayal imajinasinya. Dia tersenyum penuh gairah dan bersiap menutup mata sambil memonyongkan bibirnya. Dalam hatinya mendadak ribuan kembang bermekaran bersamaan. Perubahan suasana hati yang aneh.
Tentu saja Anna merespon dan yaups dengan respon yang aneh. Karena kaget, Meihan sontak berdiri dan sebelum itu dia mendorong tubuh Anna yang condong ke arahnya sambil memonyongkan bibirnya. Dalam fantasi Anna, dia dan Meihan akan segera bercumbu namun....
Wajah Meihan yang rupawan. Mata elang dengan bibir seksi menggoda juga kulit pucat namun putih bersih. Dia seperti definisi vampir hidup tanpa keriput. "Kemana wajah itu pergi?" Anna membuka matanya lebar-lebar memastikan apa yang dilihatnya sekarang adalah langit-langit hotel dengan ukuran meleok-leok berwarna kuning keemasan. Dia juga merasakan lengannya dicubit oleh dinginnya keramik hotel. Anna menutup matanya kembali berharap bahwa fantasi imajinasinya sedang kacau. "Apa sekacau itu?" Telinganya berdengung hebat dan baru saja implus rasa sakit menjalar membuat saraf kepalanya seperti akan pecah.
"Anna kamu baik-baik saja?" Sayup-sayup suara bergantian meneriakan namanya. "Siapa mereka?" Anna mencoba membuka matanya sekali lagi dan melihat puluhan, bukan, yang dilihat Anna adalah ribuan wajah yang berputar-putar di depannya membentuk pola aneh.
"Alien sialan, pergi kalian dari hadapanku! Meihan...." Pekiknya sebelum penglihatannya kabur diserbu kabut nenek sihir, gelap dan juga pekat.
"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Ibu Anna bersamaan dengan Rafah yang langsung berhamburan dan mengangkat tubuh Anna.
Ambulance!
Sirine ambulance sudah menjauh, Meihan awalnya akan ikut masuk ke dalam ambulance itu tapi cengkraman kasar menariknya dan berhasil membuatnya mematung dan hanya bisa menyaksikan ambulance itu menjauh.
__ADS_1
"Apa tugas dari Ayah ini sangat susah! Kenapa kau selalu saja membuat hura-hara!? Apa keinginanmu sebenarnya!?" Teriak Ayah Meihan, suaranya memantul seisi ruangan sehingga terdengar mengggelegar seperti gemuruh petir yang berbunyi hanya seper sekian detik setelah kilat menyilaukan yang hampir membuat buta.
Hening, beberapa pelayan yang masih di ruangan itu tampak pucat seperti akan serangan jantung.
"Kosongkan ruangan," pinta Ayah Meihan dan sedikit mengecilkan volume suaranya namun nafasnya memburu seperti menunda dadanya yang akan meledak.
Ibu Meihan yang setengah menahan tangis keluar terlebih dahulu, diikuti sekretaris Ayahnya, dan beberapa pelayan yang ikut menyusul setengah berlari. Meihan menatap punggung mereka satu persatu. Wajahnya yang semula pucat pasif sudah merah padam seperti baru disiram cairan sirup marjan kental merah segalon.
"Apa yang bisa Ayah harapkan dari kamu?" Tanyanya parau masih dengan nafas memburu.
Meihan hanya diam dan siap melutut memohon ampun.
Ayah Meihan naik pitam, dia membuka ikat pinggang yang seharga 50 juta di pinggangnya perlahan sambil terus menatap sinis pada anaknya. Ikat pinggang itu akan menjadi ukiran indah di badan Meihan, biru dan membuat kulitnya lebam memerah.
"Bunuh aku Ayah," pelan, suaranya melambat dengan ritme samar-samar.
"Apa?!"
Mendengar itu Ayah Meihan melangkah beberapa langkah lalu memukul pundak anaknya, menggertak "Ulangi ucapanmu dengan lantang."
Meihan menggenggam tangannya yang gemetar. Bibirnya seperti akan membiru. Dia tiba-tiba teringat pada boneka teletubies yang dulu Ayahnya berikan sebagai hadiah ulang tahun pada umurnya yang masih 6 tahun kemudian ingatan itu berputar, berganti dengan cepat dan mulai jelas saat dia membuka kado yang di dalamnya terdapat pistol aneh, itulah hadiah aneh pada saat usianya sudah genap 10 tahun. Bermula dari hadiah aneh itu, Ayahnya juga ikut berubah. Dia menjelma menjadi sosok lain yang tidak pernah tersenyum lagi.
"Ulangi!" Bentak Ayahnya sangar.
"Bunuh aku Ayah!" Teriak Meihan lebih lantang dari gertakan Ayahnya.
"Ayah sudah lama merencanakan untuk membunuhmu, membunuh jiwa lembut dan penyayangmu itu tapi seluruh proserdurnya gagal. Kau terlalu menjiplak Ibumu. Semua ini karena perjanjian itu, sejak kamu lahir seharusnya Ayah tidak pernah tersenyum padamu dan menunjukan seperti apa kelembutan dan kasih sayang itu. Anak yang dibesarkan dengan cinta memang berbeda, bersusah payah Ayah membuatmu. Kau bagian dari Ayah, kenapa tidak ada satupun sifat yang kau ambil dari Ayah? Mewarisi gen hebat? cuih...." Dia meludah ke lantai dan mengambil pistol yang terselubung di jasnya. "Bunuh seperti ini yang kau maksud?" Dia menodongkan pistol tegak lurus pada dahi Meihan.
Meihan mengangguk dan tersenyum "Ayah aku anakmu. Aku seutuhnya menjiplak Ayah, gen hebat yang Ayah wariskan seperti yang dituliskan di seluruh artikel sampah yang bertebaran di jejaring internet. Menjiplak Ibu? Ayah hanya terlalu kesepian, kenapa tidak membuatkanku adik perempuan yang manis. Aku yakin sifatku yang penyayang ini persis seperti copy paste dari Ayah."
Dorrrrr!
__ADS_1
Dentuman pistol membuat Ibu Meihan berhenti melangkah, berbalik, dan lari kembali seperti orang linglung.