Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
2. Pelintir Takdir


__ADS_3

Drrrrttttt...!


Alaram putih itu kembali berdering. Anna dengan malas bangun lalu mengamati alaram itu sesaat sebelum mematikannya. Alaram itu menunjukan pukul 00.01. Dia membuang jauh tatapannya ke luar jendela.


"Ibu bohong, semua tidak sesuai perhitungan Ibu. Semuanya bahkan menjadi lebih rumit. Apa yang Ibu harapkan dariku?" ujar Anna dewasa pelan sambil mengamati bulan yang bersinar di luar. Kalungnya ikut bersinar menyambut sinar bulan itu.


Dia beranjak dari tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya sejak malam itu, dia akan merasakan kegelisahan dan harus mandi tepat pada pukul 00.00. Pada pukul itu ia merasa tubuhnya dan jiwanya sangat kotor. Hal ini sudah mejadi rutinitasnya, bentuk trauma yang masih menghantuinya akibat malam itu.


Ia mulai merendamkan diri di dalam bath up, lalu merekah ulang kejadian malam itu sambil beberapa kali menyeringgai menahan tangis.


"Ibu...."


Jika kamu bisa mengendalikan waktu, di pukul berapa lebih tepatnya kau mau merubahnya? Anna menutup matanya merasakan air hangat dalam bath up itu begitu menenangkannya.


Sementara di tempat lain di kota dan negeri yang sama, terlihat Chen Ming yang juga masih terjaga. Di balik bayang matanya, kenangan itu menjadi katarak permanen tak bisa hilang dengan operasi apapun. Pria itu menatap ke luar lewat jendela, melihat beragam kemilau bintang yang sedikit berkedip.


Di sisi bumi yang lain lagi, terlihat Atzlan, pria bermata indah itu sedang menopang dagunya sendiri. Ia pun tak bisa terlelap karena di sana mentari masi berpijar terang sekaligus menyengat. Namun bayangan malam itu tidak terpapar di memorinya. Ia sedang sibuk mengurus hal lain. Hal yang pada malam itu menjadi atlumat paling ditegaskan Pappa angkatnya. 'Wanita itu sangat berbahaya.'


Kisah yang panjang telah menjebaknya. Karena dia tak bisa mengontrol satu hal. Bocah kecil polos bermata indah itu terlalu penasaran terhadap berbagai hal, apapun itu. Dan dia tidak tahu. Rasa penasaran adalah obat yang bisa menyembuhkan sekaligus juga bisa membunuh dalam sekali tegukan.


Pelintir pertemuan dan perpisahan yang dinobatkan sang takdir. Tidak ada yang bisa menebak dimana lalu kapan pelintir-pelintir waktu itu saling berpaut. Bukan tak adanya rasa penasaran. Tiga makhluk hidup itu sudah terlalu sakit untuk bertanya. Atau... terlalu lelah dengan takdir yang dipelintir untuk mereka. 'Sangat tidak adil' mungkin itu kalimat yang terpikirkan. Hingga mereka memilih berhenti berperang dan ikut menyumpahi waktu. Karena hal itu percuma, waktu tidak selamanya bisa menjadi obat pelipur lara. Ia hanyalah partikel sekawanan takdir yang hasil negosiasinya adalah penyesalan.


"Bangun!" teriak kasar seorang kepala pelayanan sambil melempar botol shampo pada Anna.


Gadis itu terkejut dan langsung terperangah bangun. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wanita berperawakan seperti pria yang ototnya lumayan besar sedang bertolak pinggang di depannya sambil melotot tajam.


"Nona berhentilah bertingkah aneh. Kenapa kau selalu tidur di dalam bath up? Apa kau seekor putri duyung?!" teriaknya sambil menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya terseret di lantai kamar mandi.

__ADS_1


"Lepas!" pekik Anna yang kesakitan karena kulitnya terasa nyilu bergesekan dengan lantai.


Kepala pelayanan berotot itu tidak peduli dia terus menyeret Anna dengan kasar.


"Lepas!" Sekali lagi Anna berteriak. Mencakar tangan kepala pelayanan kasar itu. Karena merasa sedikit sakit, Ia langsung berhenti menyeret tubuh gadis itu.


"Bahkan seorang pelayan tidak lebih rendah dariku. Malangnya...." cerutu Anna sembari melangkah ke kasurnya.


"Pakai bajumu, hari ini adalah hari penting! Awas saja kalau kau mengacaukannya!" ancam kepala pelayan itu dan melempar gaun ke kasur. Matanya melototi Anna sampai terlihat urat-urat merah di sana.


Anna menggaruk kepalanya tidak peduli dengan kepala pelayan itu. Dia masih punya hak untuk kembali tidur. Hari masih sangat pagi. Bahkan di luar terlihat masih sejuk juga samar-samar.


"Apa aku dibutuhkan di sana? Untuk apa? Persetan dengan penyambutan itu?!" teriak Anna pada pelayan itu. Bentuk pemberontakan kecil untuk mempertahankan martabat kalau harusnya dialah yang memerintah.


Pelayanan itu acuh tak acuh, setelah melototinya untuk mengacam beberapa detik. Dia memutar kakinya sekian derajat untuk berbalik meninggalkan Anna yang masih ingin menyumpahinya.


Anna langsung mengacak-acak lagi rambutnya. Wajahnya merah padam, dia menggeliat. Menguling-guling badannya di kasur melepaskan amarahnya. Sesaat kemudian dia baru sadar kalau kulitnya sedikit berkerut karena berendam semalaman. Pada akhirnya ia merasa lelah, kini matanya menatap pasrah gaun berwarna light blue yang telentang di atas kasurnya.


"Anna!" suara teriakan lain terdengar kembali dari luar.


"Iya!" balasnya setengah tidak ikhlas.


"Cepat!" perintah suara itu kembali.


Dengan malas Anna merangkak bangun, tangannya yang lain meraih gaun yang sudah disiapkan untuknya sebelum itu.


Setelah dua jam berdandan, wajah mungilnya akhirnya nampak lebih cantik dan anggun. Dia keluar dari kamarnya berjalan perlahan menuruni tangga, masuk dan menembus kerumunan orang banyak. Lalu tiba-tiba dengan kasar seorang menariknya dari belakang. Anna refleks berbalik melihat siapa gerangan yang menariknya. Tampak kepala pelayan betubuh kekar sedang melotot padanya.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" pekik Anna penuh kekesalan meski berucap setangah berbisik.


"Nona, mari saya antar ke tempat anda. Silahkan...." pinta pelayan itu, setengah membungkuk penuh penghormatan.


"Sejak kapan kau sopan kepadaku?" sindir Anna makin tambah kesal melihat seluruh kepalsuannya.


"Mari nona." ucap kepala pelayan itu tanpa memedulikannya.


Anna menghitung langkah tiap langkahnya berjalan stabil setengah gugup. Di depan sana, berdiri dua pria dengan gagah. Ibunya juga berdiri di sana atau lebih tepatnya Ibu tiri. Dia akan berdiri di samping mereka dan bersiap untuk mendapatkan semburan berbagai hujatan. Bahkan dari tempatnya berdiri sekarang, dia bisa mendengar orang-orang sedang berbisik menertawakannya.


'Dasar anak haram. Dia hanya beruntung karena memiliki Ibu yang suka menggoda.'


"Mereka tidak tahu bagaimana suka duka Ibuku memperjuangkan keadilannya." batin Anna diam-diam membalas. Matanya perih, tinjunya gemetar. Ia terlihat menahan sakit dari serangan hinaan orang-orang syirik di sekelilingnya.


Sesampainya, Ibu tiri Anna langsung menyolot menatap tajam padanya. "Kamu hanya perlu tersenyum dan mengangguk. Kamu beruntung, Ibu sudah mengatur semuanya untukmu."


Anna hanya berusaha tersenyum paksa mendengar itu. Mengangguk pelan sekaligus jijik.


"Hari ini adalah hari yang paling bahagia, kita berkumpul di sini karena pulangnya Rafah untuk memimpin perusahan kembali. Selain itu kami punya pengumuman lain."


Anna sontak menatap Ibu tirinya beberapa detik sebelum akhirnya tertunduk mengerti. Pria yang berdiri di samping adik tirinya itu tidak lain adalah bagian dari rencana Ibu tirinya.


"Kami akan menjodohkan putri sulung kami dengan putra penerus perusahaan Phoenix untuk mempererat hubungan kerjasama."


Ibu tirinya melanjutkan berbicara tentang masa depan dan moto perusahaan. Anna hanya bisa tersenyum pasif di sana. Menatap dengan kosong.


Lagi-lagi pelintir waktu berbunyi sial.

__ADS_1


__ADS_2