Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
29. Pria Aneh, Aku Suka


__ADS_3

"Anna?" panggil Meihan yang tidak percaya harus bertemu mantan calon istrinya itu di sana.


Anna mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. "Meihan?"


"Kamu kenapa bisa di sini?"


Dia tidak peduli pertanyaan itu. Tatapannya langsung tertuju pada sosok Kenda yang sedang menempel di lengan Meihan seperti permen karet.


Meihan menangkap sinyal dari tatapan itu, dia langsung melepas tangan Kenda yang sempat digenggamnya.


"Eh, Anna..." ujar Meihan salah tingkah.


Bibir Atzlan sedikit melengkung sinis. Dia tahu pria itu siapa. Pipi Anna yang tadi merona terhapus dengan seketika, beralih kini matanya yang memerah menahan sesuatu yang akan keluar dari sana.


"Anna, ini tidak seperti yang kamu lihat. Maaf soal kemarin. Aku...."


Atzlan hampir melempar tinjunya ke wajah pria itu tapi rasa bijak belum hilang dari kewarasannya. Untung saja lift di sebelah juga ikut terbuka, tanpa aba-aba dia langsung menarik lengan Anna dan membawanya masuk ke lift itu. Tidak ada penolakan, Anna pasrah mengikuti langkah Atzlan.


Di dalam lift Anna menggigit bibirnya dengan kuat "Aku tidak boleh menangis, tidak ada yang perlu ditangisi," bisiknya menguatkan diri.


"Semua laki-laki tidak brengsek, jangan ucapkan itu sambil berteriak. Aku juga laki-laki," ujar Atzlan sambil melepas tangan Anna dari genggamannya dengan pelan.


Mendengar itu Anna langsung mendongkak kepalanya agar dapat melihat wajah pria menyebalkan itu. Mata mereka beradu, Atzlan mengangkat satu alisnya sambil menahan senyuman kaku di bibirnya.


"Kamu ini apa?" tanya Anna dalam hayalannya. Matanya masih menatap nanar wajah pria itu. Lekat-lekat dia menatap wajah yang teramat manis dan menenangkan itu. "Apa karena aku terlalu lama tidak bersosialisasi hingga aku tidak sadar kalau ada manusia jenis kamu di dunia ini?" Mata Anna semakin dalam menatapnya.


"Aku sudah sering mendengar orang mengucapkan itu, terlalu tampan. Sekedar info, aku tidak pernah menjalani operasi untuk wajahku. Beginilah wujudku dari lahir, terlalu sempurna bukan?" Dia diam beberapa detik lalu melanjutkan kalimatnya "Bisa tidak, jangan menatapku seperti itu? Aku juga bisa grogi," ujar Atzlan masih dengan senyum pasif yang sengaja dan dibuat-buat.


Tiba-tiba Anna tersenyum, hatinya tergelitik melihat tingkah Atzlan yang menggemaskan. Bagaimana bisa ada makhluk sekocak ini?


Atzlan menjepit hidungnya "Apa salah aku terlahir terlalu tampan? Tidak, aku tidak akan berbagi dengan siapapun ketampananku ini," ucapnya yang terdengar seperti suara zebra bodoh yang merintih karena terjepit.


Hahahaha....


Tawa Anna terlepas. Dia tidak mampu menahan tawa, mendengar ucapan pria itu. Untuk pertama kalinya dia tertawa lagi semenjak beberapa hari terakhir.


Atzlan membiarkan gadis itu tertawa riang.


"Hahahaha, hahahaha, hahahaha...." Dia tidak hanya tertawa sambil bertepuk tangan tapi juga sambil menyeka air matanya yang ikut keluar dari sela matanya.

__ADS_1


Hmmm, Atzlan hendak mengusap kepala gadis itu. Tapi dia mengurungkan niatnya itu mengingat bagaimana kesehatan mental Anna. Tidak baik menyentuh gadis yang baru dijumpai, apa lagi mencoba menenangkan dengan mengusap atau menepuk pelan bahu ringkih tanpa kekuatan. Itu sangat berbahaya, sinyal aneh akan terbentuk secara natural.


"Pasti berat menanggungnya sendiri," ujarnya dalam hati sambil menatap Anna yang sedang menutup wajah dengan telapak tangannya yang mungil.


"Aku tidak menangis hanya saja..." jelas Anna yang terdengar menahan untuk tidak sesenggukan.


"Baiklah, semua laki-laki itu brengsek. Berteriaklah sekarang. Aku harus menanggung amarahmu karena aku juga laki-laki meski tidak brengsek," ujarnya lagi masih mencoba menghibur dengan cara yang keren.


Mendengar itu Anna sadar, tidak semua orang meninggalkannya. Buktinya sekarang ada pria aneh di sampingnya yang sedang menghiburnya dengan cara baru, cara yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun. Cara keren yang tidak lebay. Matanya juga sangat tulus.


"Siapa tadi namamu?" tanya Anna sambil mengusap air matanya.


"Pintu liftnya akan terbuka," jawaban yang tidak terduga.


Benar saja pintu lift terbuka. Beberapa orang berdiri di depan mereka dan langsung menyerbu masuk. Sedang tubuh Anna membatu melihat punggung pria itu keluar dengan mulus seperti tidak mendengar pertanyaannya.


"Ayo!" ajaknya dari luar.


Anna menarik langkah dan keluar dari sana. Atzlan sudah berjalan cukup jauh tentu saja berkat kakinya yang jenjang sehingga Anna harus bersusah payah menyusulnya.


"Tunggu!" panggil Anna sambil berlari.


Atzlan berbalik dan Anna sudah sampai di depannya dengan nafas terengah-engah.


"Oh, apa perlu aku tahu namamu?" balas Atzlan dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. Dia berbalik dan kembali melangkah dengan cepat.


"Apa?" Anna kembali dibuat bingung. Dia membeku beberapa detik dan berdiri bingung di sana.


Piiip!


Atzlan sengaja memencet tombol klakson mobilnya di dekat Anna, untuk apa lagi? Tujuannya adalah mengejutkan Anna yang masih berdiri bingung di sana.


"Piiipp-piiip-piiip!" Teriaknya dari dalam mobil sengaja menirukan suara klakson.


Anna bergegas dan segera masuk ke mobil dengan senyum natural, duduk di sebelah Atzlan yang mengemudi. Bukannya menginjak pedal gas, pria itu malah keluar dan membuka pintu mobil di belakang.


"Silahkan nona, aku akan mengantarmu dengan selamat," ujar Atzlan setengah membungkuk menirukan supir yang sopan dan jujur.


Mata Anna melebar, dia tidak habis pikir atas tingkah Atzlan yang sangat, sangat aneh. Sudah kubilang Atzlan sudah memiliki hobi baru. Dengan malas Anna keluar dari mobil.

__ADS_1


"Baik Pak," ujar Anna ketika berhadapan langsung dengan Atzlan yang masih membungkuk.


Tidak bisa dibiarkan, Anna juga harus membalas kejahilan Atzlan.


"Pffftt...." Atzlan hampir tertawa melihat tingkah Anna. Dia langsung menutup pintu mobil ketika Anna sudah masuk dengan wajah jutek.


"Aku akan segera menginjak pedal gas, nona Anna harus bersiap," ujarnya kini dengan suara yang sengaja dibuat bas.


Anna menutup mulutnya menyembunyikan tawa yang hampir saja terlepas. Sementara wajah Atzlan mulai terlihat serius, dia mengamati kursi kosong di sampingnya lalu beralih mengamati Anna yang terlihat sudah membaik.


Hening.


"Nona Anna, kita hampir sampai di tujuan," ujar Atzlan membuka topik pembicaraan lagi.


"Kamu bawa aku kemana?" tanya Anna sambil mengamati lingkungan asing di sekitar mereka.


"Rumah baru Nona Anna yang megah juga nyaman ada di depan sana," jelas Atzlan masih dengan nada yang sengaja dibuat bas.


"Oh, rumah baru yang nyaman..." ketus Anna sambil memejamkan matanya seperti ingin menyihir mobil itu agar mogok dan berhenti.


Kurang lebih 100 meter bertambah pada alat ukur jarak di mobil itu, mereka akhirnya sampai. Atzlan turun duluan dan segera membuka pintu mobil untuk Anna.


"Silahkan keluar nona perjalan yang panjang sudah terlampaui," ujar Atzlan sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk dijadikan topangan Anna saat keluar.


Anna tersenyum geli, mendadak dia merasa seperti putri dongeng dari salah satu kisah Disney.


"Tidak mau masuk dulu?" tanya Anna yang melihat Atzlan hampir membuka kembali pintu mobil.


"Maaf Nona, aku bukan pria pengangguran. Aku adalah seorang supir yang sopan sekaligus CEO perusahaan besar. Kamu tahu, 1 detik waktuku sama nilainya dengan 100 dolar," jelasnya kali ini dengan ekspresi keren.


Anna mencoba mengulurkan kembali tangannya "Terimakasih," ucapnya singkat.


Atzlan tertegun. Yang dilakukan Anna sekarang mengingatkannya pada gadis yang selalu memenuhi setiap sudut memorinya. Dia hanya bisa mengangguk tanpa menyambut tangan Anna.


Anna tidak putus asa, dia masih mengulurkan tangannya "Terimakasih, aku akan membalas semua kenangan indah ini. Aku janji akan melindungimu dari pria jahanam itu," lanjutnya.


Lagi-lagi Atzlan tertegun. Anna mengantar wajah gadis itu semakin jelas untuk memenuhi kepalanya lagi.


"Lindungi dirimu dulu baru memikirkan keselamatan orang lain," jelas Atzlan dengan suara yang kembali normal.

__ADS_1


"Aku janji," ujar Anna lalu menarik uluran tangannya dan berbalik, dia berjalan pelan menuju rumahnya.


Punggung Anna sudah menghilang, namun Atzlan masih mematung di sana, mereka ulang apa yang dilakukan Anna barusan.


__ADS_2