
Waktu berlalu secepat itu. Matahari masih terbit dari timur dan tinggelam di telan lautan ufuk barat. Hal itu masih sangat menjengkelkan, Anna memperbaiki jas biru muda yang dikenakannya. Wajahnya terlalu cantik membuat gadis itu kesal melihatnya. Dia teringat ucapan Meihan dua hari yang lalu.
"Dia tidak ada alasan untuk melukaimu. Jangan mudah terjebak, Ayah bisa dengan mudah bisa merubah haluan rencana. Untuk saat ini ikuti saja alur yang dia buat. Diam-diam susunlah rencana untuk menghancurkannya juga, jangan lupa ribuan solusi untuk selamat dari jebakannya." Wajah pria itu menghilang keluar dari pintu putih rumahnya.
"Meihan benar, aku harus bergerak dan menyiapkan semuanya." Dia tersenyum sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Tok-tok-tok
"Nona mobilnya sudah siap."
Anna mengangguk lalu menarik tasnya dan keluar dari kamarnya.
"Jangan biarkan seorangpun masuk kalau kalian masih mau bekerja di sini. Ingat aku mengawasi kalian!" ancamnya sambil memakai high heels yang senada dengan warna setelan jas mahalnya.
Pelayanan yang berjejer di pintu mengangguk mengerti tanpa suara. Anna menarik nafas panjang, meredakan dadanya yang tak karuan sedari tadi. Sudah saatnya keluar dari zona nyaman. Dia mantap masuk ke dalam mobil. Rambutnya sengaja dibuat bergelombang dengan riasan sedikit mencolok.
"Ini hari pertamaku bekerja, aku tidak boleh gagal."
Mobil itu melaju stabil membawa Anna ke perusahaan tempat Ibu juga nenek dan kakenya atau lebih tepatnya leluhurnya, tempat mereka menumpahkan keringat, waktu, dan darah demi membangun dan membesarkan nama perusahaan itu. Dia tidak akan tinggal diam jika orang lain kembali merebutnya dengan paksa.
"Aku pasti bisa!" serunya sambil mengamati perusahaan itu dari dalam mobil yang perlahan berhenti.
"Lakukan tugasmu dengan baik," ujarnya sebelum keluar dari mobil. Supirnya seperti mengerti. Dia juga ikut keluar dan mengikuti Anna dari belakang.
Bertepatan dengan saat itu, Atzlan juga baru sampai. Mereka hampir berpapasan tapi Anna sedikit sombong dan tidak ingin melihatnya. Terjadi pemandangan kontras di sana. Orang-orang semula menyambut kedatangan CEO muda tampan yang mereka dambakan, suasana mendadak mencekam ketika Anna dengan percaya diri jalan mendahului Atzlan. Aroma parfum mahalnya langsung menampar habis penciuman orang-orang yang selalu meremehkannya.
"Bagus Anna, kamu hebat," lirihnya sambil tersenyum puas.
Tapi lagi-lagi kesialan terlalu menyukainya. Anna belum terbiasa jalan menggunakan high heels. Saat dia mengambil langkah berikutnya, kakinya tidak kuat dan salah berpijak hingga membuatnya keseleo. Suasana yang tadinya hening, riuh kembali dengan ragam suara tawa. Wajah Anna memerah bukan main, supirnya sigap langsung membantunya berdiri kembali.
Pffftt....
Melihat itu Atzlan tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Hal itu disambut heboh oleh jejeran pegawai di sana, mereka terpana akan senyuman itu.
"Mau apa dia ke sini?" bisiknya pada sekretaris Guntur.
"Sepertinya anda harus ikhlas berbagi ruangan dengannya," jawab pria itu dengan mimik datar.
"Berbagi ruangan?"
"Dia memohon kepada pria tua untuk bekerja di sini," jawabnya lagi tetap dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" tanyanya sedikit kesal.
Sekretaris Gun hanya terdiam. Matanya lurus menatap ke depan dengan ekspresi datar.
"Kamu masih marah persoalan lukisan itu?" tanyanya lagi sambil mengamati wajah sahabatnya itu.
Hmmm. Dia seperti mengerti lalu kembali melangkah dengan sedikit cepat.
Sementara Anna sudah sampai di depan ruangan. "Baiklah, semua tidak sesulit itu aku bisa mengatasi gangguan panikku dengan mudah," ujarnya sambil tersenyum lalu membuka ruangan itu dan masuk.
"Kenapa mejanya berhadapan?" Semangatnya surut karena mendapati mejanya yang diletakan berhadapan langsung dengan meja Atzlan. "Sejak notice itu disimpan terakhir kali aku tidak melihatnya." Bibirnya sedikit monyong mengamati larang untuk tidak merokok di ruangan itu.
Atzlan akhirnya tiba dan langsung masuk untuk melihat kekacauan di dalam ruang kerjanya.
"Sejak kapan meja itu di situ?" pekiknya.
Sontak Anna terkejut dan berbalik melihat ke sumber suara. Wajah tidak asing yang sangat tidak cocok marah itu sedang tolak pinggang sambil menggigit bibir bawahnya. Sekretaris Gun hanya diam tidak meresponnya.
"Aku menganggap itu sebagai sambutan partner. Terimakasih." Anna membungkuk lalu menuju ke meja yang sudah disiapkan untuknya.
Atzlan nampak tidak berdaya, dia hanya bisa membiarkan itu dan melangkah malas ke mejanya. Matanya langsung fokus ke tumpukan berkas yang harus diperiksa. Di meja Anna tidak ada berkas apapun, membuatnya bosan karena tidak melakukan apapun. Kebosanan membuatnya kosong sehingga yang dia lakukan hanya mencuri pandangan pada Atzlan yang sedang serius.
Tok-tok-tok
"Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan tatapan masih tertuju ke berkas.
"Hampir setengah sepuluh," jawab Anna karena merasa pertanyaan itu untuknya.
"Jam berapa sekarang?" Pria tampan itu kembali bertanya tidak peduli dengan jawaban Anna. Dia seperti tidak menginginkan jawaban darinya.
Tok-tok-tok
Pria tadi kembali masuk dan mengingatkan "Tuan, yang lain sudah menunggu."
Pria itu kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat dan tidak menemukan sosok yang dicarinya.
"Kenapa kau yang mengingatkanku? Dimana Sekretaris Gun?" tanyanya pada pria yang baru masuk.
"Dia tadi bilang sudah izin sama tuan untuk mengambil cuti hari ini," jawab pria itu.
Atzlan tampak kesal, "Baiklah kamu boleh keluar."
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar?" tanya Anna menyilidiki sesuatu yang tidak antara dua karib itu.
Atzlan tidak meresapon, dia mengambil jasnya lalu keluar seperti tidak ada Anna di sana.
"Sial! Apa susahnya menjawab."
Gangang pintu bergerak lagi. Anna pikir itu Atzlan atau Sekretaris Gun tapi dugaannya salah. Kesya masuk setelah pintu terbuka.
"Rupanya kamu? Aku pikir pegawai tidak sopan mana yang masuk tanpa mengetuk," sindir Anna ketika melihatnya.
"Tanda tangan ini cepat." Dia tidak ada waktu membalas sindiran itu dan langsung menyodorkan berkas yang dibawanya ke depan Anna.
"Untuk apa ini?" tanyanya.
"Tidak usah banyak tanya Ayah Meihan yang menyuruhku. Dia bilang tanda tangani berkas ini kalau kamu masih mau kembali besok," ujarnya sambil meletakan pulpen di depan berkas itu.
Tanpa pikir panjang Anna langsung menandatangani berkas itu dan Kesya secepat kilatet mengambilnya. Dia seperti terburu-buru bahkan tidak sempat menutup pintu. Anna hanya bisa bangkit dari tempat duduknya dan menuju pintu, matanya mengamati Kesya yang setengah berlari menyusul lift yang hampir tertutup.
"Dia sangat keren. Andai aku bisa menukar hidupku dengannya," ucapnya pelan lalu menutup pintu setelah sosok Kesya sudah menghilang dari sana.
Dia kembali ke meja dan duduk menghayal tak melakukan apapun, hingga dia tertidur sambil menopang kepalanya di meja.
Di ruangan rapat tampak pertarungan terjadi.
"Bukankah itu perjanjiannya agar aku menjadi pemimpin di sini? Kalian mempermainkanku? Bahkan membagi ruanganku dengan gadis itu, apa tugasku menjadi pengawal dan melayaninya? Aku menolak akuisisi itu secara tegas!" Tegas Atzlan dengan mimik serius.
"Maaf tuan, berkasnya sudah disetujui," sanggah Kesya penuh dendam.
"Apa?"
"Nona Anna sudah menandatanganinya," ucap Kesya penuh kemenangan.
Dari luar perusahaan nampak Sekretaris Guntur setengah berlari untuk kembali.
Atzlan menarik dasi yang dikenakannya. Wajahnya memerah dan tidak terlihat bersahabat. Dia seperti akan menyobek berkas di genggamannya. Matanya yang biasa terlihat menenangkan mendadak membara. Ketika sampai di depan ruangan, dia langsung menendang paksa pintu sehingga membuat Anna yang masih di dunia mimpi bangun dan terkejut setengah mati. Dia mengamati Atzlan dengan wajah memerah mendekati mejanya.
Bruuakk!
Anna semakin terkejut, nyawanya seperti ditarik paksa kembali. Dia sangat kebingungan, kenapa pria itu begitu marah dan menatapnya dengan sorot tak biasa.
"Siapa yang menyuruhmu menandatangani ini!?" Peliknya menggelegar.
__ADS_1
Tangan Anna langsung gemetar "Aaku...." Rasa sesak yang biasa mencekik jantungnya mulai melakukan serangan lagi.