
Setelah saling menatap beberapa detik. Kini Meihan mulai menggerakkan kepalanya perlahan-lahan. Dia seperti akan menyentuhkan bibirnya pada bibir mungil Anna. Sorot matanya tidak terkontrol. Nafasnya menderu bebas. Tubuhnya sudah mulai menindih tubuh Anna.
"Apa yang kamu lakukan?" Anna menarik kepalanya lalu dengan cepat membenturkannya ke dahi Meihan.
Meihan akhirnya tersadar, dia langsung menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Anna. Mereka sama-sama berdiri dengan cepat dan memperbaiki lembaran baju mereka yang sedikit kotor.
"Dasar mesum!" hardik Anna.
Meihan nampak bingung. Dia tidak mengerti akan nalurinya. Gadis itu nampak begitu mempesona.
"Mungkin pengaruh hutan ini," bisiknya dalam hati.
Anna juga nampak terkejut dan tertegun. Dia sibuk dengan pikirannya.
"Wajah kami begitu dekat. Aku bahkan bisa mencium aroma nafasnya, tapi kenapa trauma itu tidak muncul? Padahal biasanya...." Dia berbalik dan melihat Meihan.
Meihan masih bingung dengan pikirannya. Dia berdiri tergugu dengan ekspresi kosong.
"Kamu bisa mengulangi apa yang kamu lakukan tadi?" Anna refleks mendekati Meihan. Secara tidak terduga dan dengan gerakan cepat. Anna menempelkan bibirnya pada bibir Meihan.
"Sialan! Apa yang kamu lakukan?" Kini berbalik, Meihan mendorong tubuh Anna.
"Ayo! Aku hanya mau memastikan sesuatu...."
"Kamu gila?" teriak Meihan yang tidak tahan karena Anna terus menempelkan badannya pada tubuhnya.
"Kamu tadi kan yang mulai, aku hanya ingin memastikan sesuatu...." Anna belum menyerah dia terus berusaha agar Meihan bisa mengulangi perbuatannya barusan.
"Anna!" panggil kepala pelayan. Mereka tidak sadar kalau sedari tadi beberapa pelayan bahkan Kenda juga ada diantara pelayan itu melihat semua perbuatan mereka.
"Ohh...." Anna terkejut dan menjauhi Meihan. Begitu juga dengan Meihan.
"Sudah cukup bermain-mainnya? Apa kami mengganggu?" tanya kepala pelayan dengan sengaja seperti mengompori Kenda yang nampak kesal.
Beberapa pelayan di sana selain Kenda nampak tersenyum menertawakan tingkah mereka. Sedangkan Kenda di posisi menyumpahi mereka. Dia menatap tajam pada Meihan. Matanya seperti akan menelan bulat-bulat pria itu. Dia diam-diam menyembunyikan tinjunya yang bergetar.
"Kami...." Anna berbalik melihat ke arah Meihan berharap pria itu bisa menjelaskan kesalahan pahaman itu. Namun Meihan hanya diam membatu seperti baru saja tertangkap basah karena mencuri.
"Hei, ayo jelaskan...." Anna menyenggol tangannya.
"Kami tersesat...." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Meihan sebelum dia tertunduk.
"Kalian menemukan mereka?" Rafah berlari menuju mereka. Ketika melihat Anna, dia langsung mendekat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rafah dengan ekspresi khawatir.
Anna tidak menjawab, dia masih kesal dengan perlakuan Rafah kemarin terhadapnya. Untuk membalas itu dengan cepat dia melepas tangan Rafah dan merangkul tangan Meihan.
"Aku harus memberinya pelajaran," ucapnya dalam hati. "Aku sama Meihan hanya tersesat, sudah cukup, ayo kita pulang," ucap Anna lagi sambil tersenyum simpul.
Rafah nampak tidak terkejut. Dia tahu Anna sedang memberinya pelajaran. Mereka pun jalan dan keluar dari hutan itu.
"Kasian si Anna itu, padahal dia cantik...." ucap salah satu pelayan yang sedang memangkas bunga.
"Kenapa Nona Anna?" tanya pelayan lain.
"Dia itu dipaksa menikah dengan orang yang tidak mencintainya," balas pelayan itu.
"Apa? Siapa bilang? Mereka saling mencintai kok. Aku melihatnya sendiri tadi di dalam hutan. Mereka bahkan saling menggoda. Mereka sangat serasi...." jelasnya sambil tersenyum membayangkan kejadian yang dilakukan Anna dan Meihan tadi di hutan.
__ADS_1
"Masa sih?"
"Iya! Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Dia juga melihatnya," ucap pelayan itu sambil menunjuk Kenda yang kini memangkas bunga dengan kasar dan tidak benar.
"Hei? Kamu melihatnya juga? Mereka pasti sangat manis dan serasi." Dua pelayan itu nampak tertawa dengan imajinasi mereka masing-masing.
Kenda melempar gunting di tangannya dan pergi dari sana dengan emosi.
"Kenapa dia?" Dua pelayan itu tampak tidak peduli dengan Kenda. Mereka melanjutkan diskusi mereka.
Kenda jalan sambil mengepalkan tinjunya. Matanya menyala karena api amarah.
"Kamu memang sesuatu yah..." ejek Kesya pada Anna yang sedang duduk santai di sofa.
Anna acuh tak acuh. Dia malah sibuk memainkan game di smartphonenya.
"Aku dengar dari beberapa pelayan. Kalian menjalani hubungan diam-diam?" Kesya masih terus menyerangnya.
Anna tidak peduli dengan gadis cerewet itu.
"Yah... bagaimanapun hal itu bagus. Kamu sudah tidak menempel lagi pada Rafah," celotehnya.
"Kamu jangan sok tahu anak manja. Lagian Rafah hanya mengganggapmu bocah ingusan yang sok dewasa. Dia pernah cerita, betapa muaknya melihat senyum palsumu itu. Kamu tidak capek?" Anna menyerangnya balik.
"Dasar anak haram. Kamu yang sok tahu. Aku sama Rafah sudah dijodohkan dari kami baru lahir," bantah Kesya.
"Bukan aku saja anak haram. Dia juga anak haram. Hahahha!"
"Maksud kamu? Dia siapa?" Wajah Kesya menyemburkan kebingungan.
Anna bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kesya yang sedang bertolak pinggang di depannya.
"Hei...!" teriak Kesya karena kesal.
"Kenapa Kesya?" tanya Ibu Rafah yang baru sampai. Di sampingnya berdiri Ayah Meihan.
"Ibu, Anna Ibu...!" Dia berlari dan memeluk wanita itu.
"Kenapa dengan Anna?" tanyanya kemudian.
"Dia bilang aku anak haram," rengeknya.
Anna berbalik melihat mereka. Tentu saja Ibu tirinya itu langsung menyambutnya dengan tatapan tajam. Anna mengangkat bahunya lalu melenggok pergi dari sana.
"Jangan pedulikan omongannya. Dimana Rafah sayang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan Tasya.
"Tadi dia bilang mau istirahat. Dia lagi di kamarnya."
Ibu Meihan kini datang menghampiri mereka dan pada akhirnya terlibat beberapa percakapan dan terlihat asik mengobrol.
"Ambil buah ini, bawa ke kamar Meihan!" perintah kepala pelayan pada bawahannya.
Kenda yang masih menyiapkan makanan berbalik dan menghentikan kegiatannya. Dia diam-diam mengikuti pelayan itu dari belakang.
"Biar aku saja yang bawa." Kenda menarik baju pelayan itu.
"Tapi...."
"Kamu bawa handuk ini ke kamar Kesya," perintahnya.
__ADS_1
Pelayan itu hanya tertunduk, dia akhirnya terpaksa mengikuti apa yang disuruhkan kenda.
"Apa aku perlu menjadi serakah?" gumam Kendala yang sudah berdiri di bingkai kamar Meihan sambil menyandarkan kepalanya. Dia mengamati Meihan yang sedang menatap laptopnya.
Meihan yang keasyikan tidak menyadari kehadiran Kenda di sana.
"Kenapa begitu susah memilikimu? Padahal kita sama-sama saling mencintai." Dia memandangi Meihan yang sedang serius mengurus laporan perusahaan Ayahnya.
Meihan akhirnya tersadar, dia mengangkat kepalanya dan mendapati Kenda sedang bingung menatapnya kosong.
"Kenda?" Meihan berdiri menghampiri gadis itu.
"Oh, iya..." jawabnya setengah terkejut.
"Ada apa?" Dia mengambil buah yang dipegang gadis pujaan hatinya itu lalu meletakkannya di meja dekat kasurnya.
"Kamu tidak ingin memberi tahuku sesuatu?" tanyanya dengan sedikit menggoda.
"Aku? Emmm, sepertinya tidak." Meihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang kamu lakukan tadi di hutan dengan Anna? Kamu tidak berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang aku lihat tadi?" tegasnya dengan ekspresi mengintimidasi.
"Kenda, aku hanya...."
Kenda berjalan mendekatinya lalu mengelus pipi Meihan. "Sudah cukup, aku tahu dia yang menggodamu...." ucap Kenda lalu memeluk pria itu dengan erat.
"Tanganmu?" Meihan menyadari ada luka di siku kanan gadis kesayangannya itu.
"Tidak apa-apa hanya sedikit tergores tadi." Dia menepis tangan kekar Meihan lalu kembali memeluknya dengan erat.
"Tidak bisa seperti ini." Meihan melepas pelukan gadis itu dan menuntunnya ke samping ranjang "Kamu tidak boleh terluka, kelak tangan ini yang akan menjadi tangan nyonya besar. Banyak orang yang akan memperhatikan, jangan sampai terluka." Dia mengoleskan obat pada luka di siku gadis itu.
"Lalu kapan saatnya? Bukannya tempat itu sudah di isi orang lain? Aku bahkan tidak punya kesempatan. Lihat pakaian ini, membuatku semakin mustahil untuk berada di sampingmu." balas Kenda sambil menatapnya dengan sayu.
Meihan menggeleng kepalanya. "Aku janji sayang, aku akan membereskan semuanya secepat mungkin. Kamu harus bersabar." Satu kecupan mendarat di dahi gadis itu.
"Sudah lama aku tidak mendengar kalimat itu, 'sayang' kamu tidak akan memanggil si ****** Anna dengan sebutan itu 'kan?"
"Tentu saja, hanya kamu gadis yang paling aku sayangi. 10 tahun kebersamaan kita tidak akan pernah tergantikan oleh apapun," balas Meihan sambil mendorong pelan tubuh Kenda dan sedikit menindihnya.
"Aku masih mencintaimu dan akan terus sebesar itu cintaku."
Mereka saling mencicipi, lidah mereka bertarung. Meihan menggerayangi leher Kenda sampai menyentuh bagian dadanya. Kemudian pelan-pelan dia melepas pakaian Kenda, lalu rok sampai pakaian dalamnya. Mereka begitu menikmati momen itu. Kalau dipikir-pikir ritual seperti itu sudah jarang mereka lakukan sejak terakhir kali, mungkin dua tahun yang lalu. Itupun tidak jadi karena tiba-tiba ibu Meihan masuk ke kamarnya.
Kini beralih pada Kenda. Sekarang gilirannya melucuti semua yang dikenakan Meihan. "Kita tidak pernah melakukan sejauh ini. Apa tidak masalah jika aku membukanya?" tanya Kenda yang ragu-ragu membuka resleting Meihan.
"Kamu percaya sama aku," ucap Meihan dengan suara serak dan berat. Tatapannya tak sabar.
"Baiklah...." Kenda menarik pelan resleting itu, lalu mereka mulai bergelut.
"Aku akan memuaskanmu. Kamu... Nggh.... Aaah...!"
Mereka kini beradu, sudah lepas saling merangsang dan pemanasan. Kini mereka akan segera masuk ke gerakan inti. Kenda merasakan keringatnya mulai bercucuran. Dia menatap langit-langit kamarnya lalu memejamkan mata perlahan, sementara Meihan siap memasukkan alat kebanggaannya. Kenda menggeram kecil tidak sabaran, ranjang berderit kecil lalu pintu kamarnya terbuka lebar.
"Meihan!" bentak Ayahnya yang langsung masuk tanpa aba-aba.
Kenda terkejut bukan kepalang. Mereka bahkan belum sempat saling menyatukan benih. Dia refleks menarik selimut. Sementara Meihan tanpa busana tak bisa berelak.
"Anak kurang ajar!" Ayah Meihan langsung menamparnya lalu menendangnya hingga dia terjungkal jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Om, maafkan Meihan om, maafkan kami!" pekik kenda ketakutan.