Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
27. Kau Harusnya Tersenyum


__ADS_3

"Tuan, ada yang ingin bertemu." Masuk seorang pegawai setelah mengetuk berapa kali.


Atzlan mengangkat salah satu alisnya.


"Dia memaksa untuk masuk."


"Siapa dia?" Tanya Guntur menanggapi.


Atzlan masih sibuk dengan tumpukan berkas di depannya. Pandangannya tidak teralihkan sama sekali.


"Nona muda Tuan, Anna," jelas singkat pegawai itu.


"Aku sangat sibuk, jangan biarkan dia masuk," perintah Atzlan lalu fokus kembali ke berkas di depannya.


Guntur yang merupakan sekretarisnya itu sedikit berbalik tidak setuju dengan perintah Atzlan. Dan sinyal itu ditangkap oleh tuannya.


"Kita di sini untuk bersenang-senang, bukan berurusan dengan gadis yang memiliki kelainan jiwa." Dia melempar kalimat yang langsung membuat Guntur mengangguk paham.


"Lakukan sesuai perintah," ujar Guntur kemudian.


Satu anggukan pegawai itu keluar untuk melakukan perintah.


"Sibuk?" Tanya Anna dengan sorot mata memerah. Dia masih mengenakan gaun polos putih yang dikenakannya kemarin. Gaun itu bahkan sudah sangat kotor dan bau.


"Maaf, Tuan tidak bisa diganggu."


Beberapa satpam memegang tangan Anna untuk menyeretnya keluar dari sana. Tubuh kerempeng Anna begitu mudah diseret. Tidak berdaya, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak.


"Kalian semua pencuri! Kalian penghianat! Penjahat! Kenapa mengusirku di perusahaanku sendiri? Itu semua uangku, aku yang menggaji kalian, uang yang kalian beri untuk anak dan istri kalian itu! Lepaskan! Kenapa kalian perlakukan aku seperti ini!? Aaaaa..." pekik Anna sambil berusaha memberontak dari cengkraman satpam.


Sorot mata penuh kebencian mengawasi Anna penuh kemenangan. Mulut mereka menyungging penuh kepuasan tanpa sedikitpun belas kasihan. Satu dari mereka memulai dialog maut lalu disahut yang lain sehingga terdengar bersahut-sahutan.


"Dia kacau."


"Mau apa dia ke sini?"


"Siapa peduli jika itu uangnya?"

__ADS_1


"Dia hanya sundal gila."


"Tidak berguna."


Gongongan kutukan itu lebih terdengar menjijikan. Mereka bahkan merasa lebih beruntung tanpa melihat dari sudut berbeda. Kesya tiba-tiba muncul dan melihat kekacauan itu. Semua perhatian sedang tertuju pada Anna, ini saat yang tempat untuk mengumpulkan empati dan kekuatan publik.


"Lepas! Lepaskan?" teriaknya yang terdengar manja mendayu.


Gadis itu melenggok mempercepat langkahnya. Di bawah matanya masih menghitam hampir persis dengan lingkaran hitam di bawah mata Anna. Dia juga sepertinya habis berduka atas kehilangan. Tampangnya yang ceria membuat orang-orang tidak sadar akan itu.


"Anna? Oh Anna? Maafkan mereka. Lepaskan dia!" Suruh gadis itu lalu menghambur kepelukan Anna dan memeluknya seolah peduli.


Anna diam sesaat. Dia tahu rencana gadis licik ini.


"Aku akan membuatmu benar-benar hilang tanpa jejak. Semua ini salahmu. Apa yang begitu tidak adil di matamu?" bisik Kesya sepelan mungkin tepat menjurus pada lubang telinga Anna.


Mata Anna semakin menajam, batinnya berusaha menebak apa rencana wanita licik di depannya itu.


"Kami sudah menelpon seseorang untuk menjeputnya. Kalian tidak perlu khawatir," ujar Kesya dengan senyum khas manjanya.


"Seseorang akan menjemputku? Siapa?" terka batin Anna kebingungan.


"Rumah sakit jiwa?" Mata Anna semakin melotot sekaligus bersiap untuk lari.


"Pegang dia dengan erat, tapi kalian harus berhati-hati jangan sampai melukai lengannya. Oh Anna yang malang...." Kesya tersenyum puas sambil memutar bola matanya, lalu bertingkah kepanasan sambil mengibaskan tangannya tepat di wajahnya.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Anna tidak percaya.


"Itu adalah keputusan terakhir untukmu. Kamu harus mendapatkan perawatan instan untuk segera pulih oh Anna yang malang," jelas gadis itu dengan mimik menyebalkan.


Tempat mengerikan yang terlintas di benak Anna membuat sekujur tubuhnya gemetar, "Tidak, aku tidak punya siapa-siapa sekarang. Aku tidak boleh ke tempat itu." Anna berperang dengan pikirannya, memikirkan cara untuk tidak masuk ke mobil itu.


"Lepaskan! Lepas! Aaaaa...!" Keputusan terakhirnya adalah berteriak setelah memutar otak dan tidak menemukan jawaban dan cara menyelamatkan diri.


"Aaaaaa! Lepas!" rintihnya saat dua petugas yang keluar dari ambulance itu menarik paksa tangannya.


Izinkan waktu berhenti atau biarkan dia berputar mundur. Apa yang sudah terlewatkan hingga seluruh kekacauan dan kesialan terus menempel di sini. Di tubuh yang tidak berdosa ini.

__ADS_1


Karena Anna terus memberontak, salah satu petugas mengeluarkan jarum suntik untuk segera ditancap ke lengan Anna agar dia berhenti menggila seperti zebra bodoh.


"Aku mohon siapapun, tolong aku, tolong, tempat itu sangat menakutkan. Tolong siapapun... Rafah aku sekali lagi rindu. Keputusanmu salah, bajingan sialan itu pengecut...." Lirih Anna merasakan jarum itu masuk ke pori-pori kulitnya lalu sampai ke sel darahnya dan mengalirkan sesuatu di sana. Sel sarafnya melemah, neuron dalam tubuhnya tidak berdaya, cairan itu menaklukan sistem saraf dalam tubuhnya. "Aku mohon tolong aku..." matanya hampir menutup, sebelum itu dia sempat menangkap sosok baru yang hadir di sana dengan wajah yang tak cocok untuk marah.


"Ada apa ini?" tanya Atzlan yang datang memeriksa. Ekspresi datar di wajahnya memang terlihat sangat tidak cocok.


"Maaf tuan, Anna sakit. Aku hanya ingin membereskan kekacauan," sambut Kesya dengan wajah genit. Tidak ada gunanya berduka, dia telah membidik target baru.


Atzlan diam dengan ekspresi datar, matanya masih mengamati dua petugas kesehatan yang sedang melumpuhkan tubuh Anna dengan kasar. Gurat di wajahnya menegang. Senyum indahdengan kadar gula tinggi yang tidak pernah lepas dari tatapannya mendadak hilang tanpa jejak segaris pun.


"Siapa yang memerintah? ujar Atzlan kemudian, pelan, tegas sekaligus sangar.


Dua pria yang sebelumnya merasa berkuasa atas teriakan Anna mendadak diam dan tunduk di depan Atzlan.


"Siapa yang memerintah?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih pelan namun lebih menakutkan.


"Maaf, aku menelpon untuk menghentikan kekacauan. Dia memang seharusnya di sana." Kesya buka mulut untuk mencairkan suasana.


"Bawa dia ke ruanganku," perintahnya pada sekretaris Guntur yang berdiri di sampingnya.


Setelah mengangguk pria berjas hitam itu langsung mengambil alih tubuh kerempeng dan mungil Anna, mendekapnya dengan rasa aman penuh perlindungan.


"Jangan pernah kembali ke sini kalau kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan dengan jaminan penolakan di seluruh perusahaan maupun rumah sakit yang akan kalian jadikan sebagai pelarian. Apa lagi menyentuh gadis ini," pungkasnya dengan serius dan sorot mata yang siap membunuh tanpa ampun.


Dua petugas itu mengangguk lalu buru-buru masuk kembali ke dalam ambulance dan segera pergi dari sana dengan cepat.


"Kalian pikir ini perusahaan apa?" Atzlan mulai melakukan penyerangan berikutnya, dia mengambil gadget di sakunya dan mulai melakukan panggilan. "Potong semua gaji pegawai yang meninggalkan kursinya dan pecat semua pegawai yang sedang berbaris di depan perusahaan tanpa kompensasi seidkitpun kecuali satpam dan petugas keamanan." Dia mematikan telepon itu dan berbalik tegak menyusul sekretarisnya dari belakang.


Sial menimpa seluruh pegawai di sana. Baru beberapa detik, perintah pemecatan berdering pada kotak canggih di saku mereka, masing-masing langsung disambut dengan ******* tidak percaya. Riuh di sana, mata berkaca-kaca juga muka memerah menampar balik seluruh orang yang sempat menggonggong seperti anjing itu. Tak terkecuali Kesya, notif itu juga memenuhi layar hp-nya.


"Apaan ini? Dia juga...." Kakinya lebih cepat dari mulutnya sehingga kalimat itu terputus. Dia melangkah setengah berlari menyusul Atzlan dan sekretarisnya yang akan segera masuk lift.


"Stop!" Dia berlari dan berusaha masuk ke pintu lift yang perlahan tertutup.


Atzlan enggan mengeluarkan tangan dari sakunya untuk memencet tombol agar pintu lift itu terbuka kembali. Dia hanya tersenyum melihat Kesya yang kewalahan sampe di depan lift yang hampir tertutup rapat.


"Kamu bukan sainganku. Menggigit dan menendang. Kamu terlalu rakus dan serakah. Ini perusahaanku, bukan rumah tikus-tikus tak bermoral."

__ADS_1


Lift itu naik dengan lancar.


__ADS_2