
Meihan melepas jasnya dengan cepat dan langsung membaluti tubuh pelayan itu dengan jasnya.
"Ela!" jerit Kenda berlari menghampiri, lalu memangku pelayan wanita itu.
Semua orang tampak ngeri. Terpaksa pesta harus berhenti lebih cepat.
Rafah melihat ke atas mencari petunjuk dari mana asal pelayan wanita itu jatuh.
"Rafah, ayo pergi. Aku takut," rengek Kesya sembari merangkul tangan pria itu.
Rafah lupa, Anna sendirian di kamarnya. Mungkin saja dia juga dalam bahaya. Tanpa pikir panjang ia melepas tangan Kesya dan berlari ke kamar Anna.
"Siapa yang melakukan ini padamu?!" jerit Kenda tidak kuasa melihat adiknya tewas secara tragis.
***
Hari sudah pagi. Seluruh pekarangan rumah dipenuhi petugas polisi dan detektif yang sedang menyelidiki kasus jatuhnya pelayan wanita tadi malam.
"Kamu masih mau hidup 'kan?" ancam kepala pelayan. Setelah melihat anggukan pelan dari pelayan pria itu. Dia pergi dari sana.
Anna baru bangun dan dia merasa lebih segar. Untuk pertama kalinya dia dapat tidur dengan nyenyak.
"Maaf Pak, kalian tidak boleh masuk ke kamar Nona." Kegaduhan terdengar di depan kamarnya.
"Kami harus memeriksa seluruh rumah ini untuk menyelediki kasus ini segera, kalian harus kooperatif." teriak detektif yang kekeh ingin masuk ke kamar Anna.
"Bukannya kasusnya sudah ditutup?" ujar kepala pelayan muncul dan berusaha menghentikan detektif itu. "Jangan buat kegaduhan, selesaikan ini dengan damai kalau kau masih ingin menjadi seorang detektif."
Anna membuka pintu kamarnya. "Ada apa ini?" tanyanya kebingungan.
Detektif itu melihat Anna dengan seksama lalu berbalik, pergi dari sana tanpa bicara.
"Ada apa?" yanya Anna lagi karena tidak mendapat jawaban.
Pelayan yang berjejer di sana hanya bisa tertunduk. Kepala pelayan juga hanya melihatnya sebentar lalu pergi.
"Kamu sudah bangun?" Rafah menghampirinya.
"Kenapa ramai sekali? Ada apa ini?"
"Kamu tidak perlu tahu, ganti bajumu sekarang!" Dia dengan cepat menoleh pada pelayan di sana. "Kalian bantu Anna kemasi beberapa barang yang dibutuhkan untuk berlibur," suruhnya.
"Liburan? Kenapa tiba-tiba?"
Rafah hanya tersenyum simpul lalu berbalik pergi meninggalkannya.
Anna terdiam sesaat menyadari ada yang tidak beres.
"Jika satu dari kalian ada yang berani menceritakan apa yang terjadi, aku naikkan gaji kalian 10 kali lipat." Anna membujuk pelayan yang sedang sibuk mengemasi barang.
Tapi tidak satupun dari pelayan itu mau menjawab. Mereka malah sibuk mengemasi barang-barang Anna.
"Apa yang terjadi tadi malam?" Dia memejamkan matanya berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Namun dia seperti tersihir dan tidak ada satu pun yang tersisa di ingatannya.
****
__ADS_1
"Anna...! Bagaimana perasaanmu?" Ibu Meihan menyambutnya dengan ramah.
"Baik Ibu," jawabnya sambil tersenyum.
Mata Anna tertuju pada mobil polisi dan garis polisi yang melingkari pekarangan di dekat taman. Dia sontak menutup mulutnya seperti mual. Ada sesuatu yang muncul di ingatannya, namun otaknya tidak mampu menerjemahkan dengan baik sinyal tersebut. Anna refleks memegang tubuh Ibu Meihan karena merasa sedikit pusing.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ibu Meihan khawatir.
Anna menggeleng dan memperbaiki posisinya.
"Dimana Meihan?" tanyanya kemudian karena tidak mendapati sosok Meihan di sana.
"Dia nanti menyusul, kita harus cepat pergi nanti ketinggalan," ajak ibu Meihan. Menarik tangannya.
"Dimana Ibu? Rafah juga? Kenapa situasinya aneh sekali di sini?" tanyanya lagi.
"Mereka tadi sudah duluan." jelas Ibu Meihan seadanya. "Pak jalan," perintahnya pada supir ketika Anna sudah masuk dalam mobil.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedikit tinggi. Anna melihat ke luar jendela mobil, memancing sinyal aneh di otaknya tadi agar dia bisa sedikit mengingat apa yang terjadi tadi malam. Tapi tetap saja, dia tidak bisa mengingat apapaun.
Mobil itu kini sudah sampai di dermaga. Anna buru-buru keluar karena melihat Rafah di sana.
"Rafah!" panggilnya sambil sedikit berlari melawan angin yang hampir menerbangkan topi pantai yang dikenakannya.
Rafah hanya berbalik sebentar lalu mengalihkan pandangannya. Anna buru-buru menghampirinya. Tapi ketika dia tepat berdiri di sebelah adik tirinya itu. Rafah sedikit bergeser seperti menghindar.
"Kesya!" serunya memanggil Kesya yang baru saja keluar dari mobil.
Anna tampak kebingungan, kenapa Rafah bersikap berbeda dan menghindarinya.
Rafah menggeleng sambil tersenyum.
"Pasti kamu kelelahan? Apa semuanya sudah terkendali?" Suara Kesya tertiup angin pantai sampai terdengar nyaring di telinga Anna.
"Anna! Di sini panas. Ayo masuk ke kapal," ajak Ibu Meihan menglihkan fokusnya.
Anna mencengkram tangannya sendiri. Merasa hanya dia satu-satunya manusia bodoh di sana. Dia memberanikan diri bertanya untuk terakhir kalinya. Nafasnya menderu agar ia bisa meyakinkan Ibu Meihan di sampingnya.
Anna memperbaiki posisi duduknya agar tidak terpengaruh oleh guncangan ombak. "Ibu, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kalian merahasiakannya? Apa semalam aku membuat kekacauan?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Meihan tampak Iba, dia mengelus pelan rambut Anna dan merapikannya. "Semua ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Kami hanya tidak ingin Anna khawatir," jelasnya dengan nada pelan.
"Aku tidak akan khawatir. Ceritakan saja, lebih baik aku tahu dari pada merasa bodoh seperti ini. Aku merasa seperti satu-satunya orang asing di sini," ucapnya sambil menangis.
"Sudahlah Anna," Wanita itu memeluknya dengan erat berusaha menenangkannya.
Angin berderu, terik membakar. Pagi yang cerah, saat yang tepat untuk beristirahat sebentar.
"Ibu, aku tidak gila. Aku normal, hanya saja semua orang yang membuatku seperti ini. Aku tidak meminta dilahirkan dengan kecacatan jiwa. Aku normal sebelum malam itu...." Anna semakin terisak.
"Ibu tahu, semua ini bukan salahmu. Kamu sudah sangat menderita. Ibu tahu...." Dia menepuk pelan punggung Anna.
Rafah dan Kesya masuk ke dalam kapal, disusul Meihan dan beberapa pelayan lainnya. Sebelum duduk di kursi kapal jetliner bagian pojok. Meihan menyempatkan diri melepar tatapan benci pada Ibunya. Wanita itu hanya bisa menarik nafas berat menyadari satu-persatu masalah muncul, merenggangkan hubungan antara anak dan Ibu itu.
"Anna? Kamu sudah merasa baikan?"
__ADS_1
Anna mengangguk pelan lalu menghapus sisa air mata di kelopak matanya.
"Ibu mau bicara sebentar dengan Meihan."
"Baik Ibu...." Anna melepaskan pelukannya, dia duduk sendiri sekarang. Sementara Ibu Meihan menghampiri anaknya.
Wanita itu duduk di kursi yang bersebelahan dengan tempat Meihan duduk sekarang. Dia menarik pelan tangan anaknya lalu mengusapnya perlahan.
"Maafkan Ibu. Semua ini sudah di luar kendali," ucapnya sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh yang lain.
Diam-diam Rafah memerhatikan mereka dengan seksama.
Meihan hanya terdiam, dia membuang jauh pandangannya. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak melihat wajah Ibunya itu.
"Ibu hanya melakukan apa yang Ibu bisa. Kenda ada diantara pelayan. Ibu sengaja mengajaknya untuk menghiburmu. Hanya itu yang bisa Ibu lakukan menggunakan kuasa Ibu. Semoga kamu mau memaafkan kekhilafan Ayah dan ketidak mampuanku," lanjutnya.
Mendengar itu, Meihan spontan melihat ke arah jendela dan melihat ke rombongan pelayan di ujung dermaga. Benar saja ada gadis yang dia cintai di sana, Kenda.
"Bagaimana dia bisa ada di sini?"
"Hanya ini jalan paling aman untuk melindunginya sementara."
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke samping Anna. Tatapannya kosong membayangkan bencana apa lagi yang akan datang satu jam ke depan.
Para pelayan yang semula berdiri di dermaga kini satuh persatu masuk ke dalam ke kapal jetliner yang lain. Meihan masih belum bisa melepaskan pandangannya dari gadis yang dicintainya itu sampai dia benar-benar masuk ke dalam jetliner.
"Kita berangkat sekarang?" Suara nyaring Kesya terdengar memecah kesunyian.
Rafah hanya mengangguk.
"Ibumu? Ayah Meihan? Mereka tidak ikut?" tanyanya dengan nada yang sengaja di imut-imutkan.
"Mereka nanti menyusul," jawab Rafah singkat.
Kapal jetliner itu kini melaju menembus kepulan gelombang laut yang datang menyerbu secara acak. Angin memberontak dengan keras menabrakkan diri melawan pergerakan jetliner. Anna membuka jendela merasakan angin membujuk hatinya untuk terbang sejenak bersama.
Rafah sedikit berbalik melihat Anna, lalu pikirannya kembali teringat kejadian tadi malam.
*Flashback on
Anna...!
Rafah masuk ke dalam kamar Anna dan melihat kepala pelayan di sana sedang mengusap rambut Anna dengan pelan.
"Aku tahu kamu akan ke sini," ujarnya menyambut kedatangan Rafah.
"Kamu yang melakukan itu?!" pekiknya emosi.
"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk melakukan hal yang seperti itu. Kamu sudah tahu jawabanya, tapi masih pura-pura tidak tahu. Kamu juga pernah menyaksikan hal yang serupa 'kan?"
"Berhenti melukai Anna, wanita iblis!"
"Kamu harusnya berterima kasih. Siapa dulu yang membunuh anak itu? Kalau tidak ada Anna, tidak akan ada orang yang memanggilmu Rafah. Sadari posisimu dan jangan libatkan perasaanmu. Manekin kecil!"
***
__ADS_1