Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
11. Menyaksikan Kesakitan


__ADS_3

"Seseorang bisa ke sini?!" teriak lantang Ayah Meihan, lalu terdengar langkah kaki tergesah-gesah menuju kamar Meihan.


"Ada apa tuan?" Muncul kepala pelayan yang membawa sendok cake di tangannya.


"Kenapa dia bisa ada disini?!" teriak Ayah Meihan emosi.


"Maaf tuan, serahkan dia padaku. Aku akan mengurusnya."


"Kamu kerja yang becus sedikit!" Ayah Meihan menjambak rambut kepala pelayan itu hingga rambutnya berantakan.


"Maaf tuan," ujarnya sedikit menahan sakit.


"Kalau ****** itu sampai hamil, aku tidak akan melepaskan anakmu! Ingat itu!" ancamnya.


"Ada apa ini?" Ibu Meihan tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Lihat anak tidak berguna itu. Kamu bilang ada kabar gembira. Apa ini kabar gembiranya?!" Amarah Ayah Meihan semakin tidak terkontrol.


"Biarkan kepala pelayan yang mengurus ini sayang, tamu dibawah sudah menunggu," bujuk Ibu Meihan.


Selang beberapa detik suasana mencekam akhirnya Ayah Meihan menyerah, dia keluar masih dengan wajah kemerahan disusul Ibu Meihan yang sempat melempar tatapan kesal pada anak semata wayangnya.


Huft, kepala pelayan menarik nafas panjang lalu memperbaiki rambutnya yang terurai.


"Sini kamu!" Dia menjambak rambut Kenda dan menyeretnya ke kamar mandi.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Meihan mencegat.


Kepala pelayan itu sejenak terdiam lalu keluar dan mengunci mereka dari luar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Meihan dengan jantung hampir copot.


"Aku takut!" pekik Kenda yang gemetaran.


"Kamu tenang saja, aku akan melindungimu." Mereka saling berpelukan dengan erat.


Langkah kaki kembali terdengar lalu suara kunci pintu yang bergesekkan juga ikut terdengar. Meihan dan Kenda semakin erat berpelukan. Keringat mereka bercucuran karena ketakutan. Pintu sudah terbuka dan di sana berdiri kepala pelayan bersama dua orang pelayan pria yang tubuhnya sedikit kekar.


"Pisahkan mereka!" teriak kepala pelayan itu.


"Baik...."


Dua pria itu menyeret tubuh pasangan itu dengan mudah. Mereka bahkan belum sempat memakai busana.


"Lepaskan!" teriak Kenda sambil menutupi daerah sensitifnya.

__ADS_1


"Lepas!" teriak Meihan menyusul Kenda. "Aku yang menggaji kalian, beraninya kalian!" Meihan menatap dua pelayan itu dengan mata membelalak seperti akan menerkam.


Salah satu dari pelayan itu tampak tidak peduli, dia terus menatap ke arah Kenda. Matanya hampir tidak berkedip, dia malah tertarik dengan lekuk tubuh Kenda.


"Kamu mau?" tanya kepala pelayan sambil mengunci pintu dan menyalakan lampu. Kamar itu kini tampak terang.


Pelayan pria itu tersenyum malu-malu.


"Dia sekarang wanitamu. Kamu bisa melakukannya. Berapa umurmu?"


"17 tahun," jawabnya dengan sedikit ragu.


"Baiklah, lepas pakaianmu. Kamu tidak perlu diajar kan?" ujarnya tanpa peduli Meihan yang terus memberontak melepaskan diri.


"Apa yang kau lakukan Iblis! Lepaskan aku!" Meihan semakin meronta melihat Kenda yang mulai menangis. Sementara pelayan pria itu sudah selesai melepas pakaiannya.


"Kalian bisa bergantian," perintahnya pada pelayan yang satu lagi.


"Aku mohon. Jangan lakukan ini pada Kenda! Aku mohon!" pekik Meihan yang hampir tidak berdaya.


"Lepaskan! Aku mohon! Aaaaaa!" teriak Kenda yang kini sudah dalam jangkauan pelayan itu.


"Kalian berani melakukannya di siang bolong seperti ini? Apa kamu begitu ingin melakukannya sampai tidak bisa menahan hasratmu dan melakukan itu dengan pelayan hina?" bentak kepala pelayan.


"Tidak semudah itu...." Kepala pelayan menganggukan kepalanya seperti memberi isyarat pada pelayan pria yang satunya. Pelayan itu menangkap kodenya dan langsung memukul tengkuk Meihan hingga dia pingsan.


"Lanjutkan tugas kalian," ujarnya lalu keluar dari sana.


Ketika kepala pelayan itu membuka pintu, dia terkejut bukan main karena Anna berdiri di sana. Mematung dengan wajah polos


"Hah!" teriaknya reflek karena terkejut. "Apa yang kamu lakukan di sini?" ujar kepala pelayan itu sambil mengusap dadanya.


"Aku mau bicara sama Meihan," jawabnya dengan tatapan polos. Kepala berusahaelihat ke dalam.


Kepala pelayang itu dengan cepat langsung mengunci pintu. "Dia sedang tidak sehat, kamu sebaiknya jangan dulu ganggu istrahatnya," lanjutnya.


"Tapi...."


"Anna! Sini nak, kita makan siang yang lain sudah menunggu, biarkan Meihan istrahat," panggil Ibu Meihan.


"Baik Bu," jawabnya sembari melangkah mengikuti Ibu Meihan.


Kepala pelayan itu juga bergegas pergi ke meja makan menyiapkan segalanya. Sementara di dalam kamar Meihan, Kenda dengan pasrah membiarkan tubuhnya digerayangi dua pria sekaligus.


"Awas saja kau Anna! Aku janji akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan ini. Kamu harus membayar semuanya!" rintihnya lemas.

__ADS_1


Di ruang makan villa itu tersedia bermacam-macam hidangan. Mereka semua makan tanpa bercakap satu sama lain. Wajah kesal Ayah Meihan masih melekat di sana. Dia menarik nafas panjang beberapa kali dan membanting alat makannya.


"Anna! Kamu tidak keberatan jika pernikahanmu dengan Meihan dipercepat?" tanyanya langsung membuka diskusi.


Rafah yang sedang asik memotong daging menggunakan pisau dan garpuknya, langsung terhenti. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Anna.


"Yah, aku tidak keberatan," ujar Anna tanpa ragu dan sedikit tersenyum.


"Baiklah... besok kita sudahi liburan ini. Besok kita pulang dan langsung menyiapkan pernikahan," ujar Ayah Meihan lalu lanjut menyantap makanan di piringnya.


"Tapi... bukannya terlalu cepat? Anna masih harus melakukan terapi psikologis," sanggah Rafah.


Anna menelan ludahnya, perutnya seperti terkocok. Dia tidak menyangka kalau secepat itu pernikahannya akan digelar.


"Anna tidak keberatan. Nanti Meihan yang membantunya. Meihan tidak hanya menjadi suaminya nanti tapi dia juga akan menyembuhkan Anna. Bagaimanapun dia juga seorang psikiater." Jelas Ayah Meihan.


"Tapi...."


"Sudahlah Rafah, percayakan semuanya pada Anna. Dia sudah dewasa," ucap Kesya sambil tersenyum puas mendengar itu.


"Aku tidak keberatan tapi bagaimana dengan Meihan?" tanya Anna menengahi perdebatan itu.


"Justru Meihan yang ingin mempercepat pernikahan ini. Dia tidak sabar ingin punya anak yang akan meneruskan jejaknya nanti. Hahahha...." Ayah Meihan terlihat sudah mulai rileks.


Anna tertunduk, dalam hati kecilnya dia sadar kalau pernikahan ini akan semakin mempersulit jalannya. Tidak mudah baginya untuk melakukan itu karena dia masih punya tanggung jawab untuk merebut perusahaan dari tangan Ibu tirinya.


Meihan mulai mendapati kesadarannya. Badanya serasa sakit-sakitan. Dia menoleh ke sekelilingnya mencari keberadaan Kenda. Namun jejak darah di lantai tidak jauh dari tempatnya berbaring membuat tulangnya lemas tidak berdaya. Matanya berkaca-kaca. Dia mengamati bercak darah itu lekat-lekat. Kalbunya memberontak, langit dan harapannya runtuh. Rasa dingin mulai menyerembab menyerbunya, hingga dia sedikit bergidik dan berdiri mengambil pakaiannya. Ketika berjalan dia melihat pakaian Kenda masih di sana lengkap dengan pakaian dalamnya.


"Maafkan aku Kenda, aku...." Dengan cepat dia memakai pakaiannya lalu keluar dari kamarnya mencari keberadaan Kenda. Dia terhenti sejenak melihat jam di dinding. Sudah pukul 10 malam.


"Mau kemana?" tanya Anna menghampirinya.


Meihan berbalik dan Melihat ke sumber suara, Anna sedang tersenyum padanya. Sontak saja Meihan merasa muak. Kalau bukan karena gadis itu, semua ini tidak akan terjadi. Ketika Anna sudah berada tepat di hadapannya, dia langsung menarik tangannya, menyeretnya masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu harus mati! Maka semua ini akan berakhir!" Dengan kasar dia menarik tangan Anna menuntunya ke dalam kamar mandi dan langsung mencelupkan kepala Anna ke bak mandi. Anna terkejut dan memberontak berusaha melepaskan diri.


"Apa yang kau lakukan?!" jerit Anna yang hampir kehabisan nafas.


"Dulu harusnya kubiarkan kau mati saja ******! Mati kau!" hardik Meihan kesetanan.


"Lepas! Lepaskan! Tolong!" pekik Anna yang kepalanya masih dalam air.


Meihan tidak ragu. Dia terus memegangi kepala Anna dan terus menceburnya ke dalam bak. Selang beberapa menit Anna sudah tidak bergerak lagi. Dia baru saja sadar atas apa yang dia lakukan. Dengan cepat Meihan mengangkat tangannya. Wajah Anna sudah mulai pucat, dia juga tidak bernafas. Tangan Meihan sontak gemetar hebat. Dia baru saja membunuh calon istrinya.


"Anna! Bangun, maafkan aku!" rintihnya.

__ADS_1


__ADS_2