
"Mau kemana kamu?" cegat Rafah.
Meihan mengkerutkan keningnya sehingga muncul tiga garis berbentuk gelombang di dahinya. Dia juga nampak sedikit terkejut.
"Kamu tidak perlu mengunjungi Anna. Aku muak melihat kelakuanmu," ujarnya lagi dengan muka merah padam.
Meihan mengangkat salah satu alisnya "Mengunjungi siapa? Aku kesini untuk mengantar tunanganku berobat." Dia mengangkat bahunya dengan ekspresi mengejek.
Rafah seperti meledak. Dia langsung melayangkan tinjunya ke pipi Meihan "Aku sudah memperingatimu untuk tidak melukainya."
Meihan mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya. Lebam mulai memerah di pipi kananya.
"Kamu pikir aku tidak punya tangan untuk membalas?" Dia balas melayangkan tinjunya hingga Rafah jatuh tersungkur ke lantai rumah sakit. "Dasar pec*ndang!" Makinya.
"Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar sayang." Kenda berusaha menenangkan. Dia merangkul salah satu tangan kekasihnya yang sedang dibakar emosi itu.
Sementara Rafah sudah berhasil berdiri kembali. Dia mengamati gadis yang berdiri di samping Meihan.
"Aku sudah merasakan silaturahmi dengan tinjumu dan itu sangat lemah. Hahahaha...."
Meihan sigap, siap untuk melayangkan tinju keduanya.
"Kau tidak perlu mengeluarkan energimu lagi. Banyak orang yang memerhatikan. Apa kata orang nanti. Aku tidak ingin perbuatanku ini akan menjadi cibiran di pernikahanmu nanti." Rafah bergumam sambil memerhatikan Kenda yang berusaha menyembunyikan wajahnya di punggung Meihan.
"Apa maumu?" tanya Meihan masih dengan pose siap menyerang.
"Rupanya gadis ini? Dia tunanganmu yang menyamar jadi pelayan itu? Katanya kalian sudah lama bersama. Apa kamu percaya padanya?" tanya Rafah dengan sorot mata mengejek.
Meihan hanya terdiam, dia masih mencoba mencerna pertanyaan yang seperti ditujukan untuk menjebak salah satu dari mereka.
"Sebaiknya kita pergi saja..." bisik Kenda sambil menarik baju Meihan dari belakang.
"Syukurlah. Semoga hubungan kalian langgeng. Aku tidak perlu heran, biasanya Ayah dan anak itu memiliki tipe wanita yang sama. Tidak sabar rasanya menunggu akhir kisah hubungan kalian." Dia tersenyum mengejek sekaligus sinis sebelum melangkah pergi.
*Flash back on
"Kamu sudah kemasi seluruh barang Anna untuk diangkut kembali ke rumah?" tanya Rafah pada salah satu pelayan.
Pelayan itu mengangguk menandakan dia sudah menyelesaikan tugasnya.
"Baiklah kamu boleh pergi, sudah tengah malam."
Pelayan itu membungkuk lalu pergi.
Uhuk-uhuk
Rafa memegang tenggorokannya. Dia butuh air untuk meredakan sakit di tenggorokannya. Sambil bersiul kecil, dia melangkah ringan ke dapur. Namun langkahnya terhenti saat melewati teras. Dia melihat pemandangan tidak mengenakan tepat di depan taman.
__ADS_1
"Kau ingin mendapatkan restu dariku?" bisik Ayah Meihan pada Kenda. Bulu kumis tipisnya menggelitik leher Kenda hingga dia sedikit bergidik.
"Wanita itu sudah memberi tahumu? Bagaimanapun aku tidak akan menyerah. Aku sudah menyalin vidio itu berulang-ulang. Jika kau macam-macam vidio itu akan bocor ke media," ancam Kenda.
"Ssssstttt...." Dia menyentuh bibir Kenda dengan jari telunjuknya "Aku tidak peduli dengan vidio itu," dengan cepat tangannya yang lain menarik pinggang Kenda untuk menempel pada tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Kenda.
Ayah Meihan tersenyum nakal "Sekarang aku tahu kenapa anakku mati-matian mempertahankanmu. Rupanya aroma wangi, bau bunga hutan. Hahahaha... lehermu juga menarik." Dia mengenduskan nafasnya di leher Kenda membuatnya tidak mampu berkutik meski bulu kuduknya sudah berdiri tegak menerima sinyal rangsangan.
"Lepaskan aku!"
"Baiklah...." Ayah Meihan melepasnya begitu saja.
Kenda tidak boleh melewatkan kesempatan itu, dia buru-buru melempar langkah pertamanya dengan cepat untuk segera pergi dari sana.
"Kamu masih ingat Ayah dan Ibumu 'kan?" Ayah Meihan mengambil rokok disakunya lalu membakar satu batang rokok itu menunggu Kenda menghentikan langkahnya.
Tentu saja mendengar itu Kenda langsung berhenti.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?"
"Aku belum melakukan apapun sekarang. Nyawa mereka tidak banyak lagi hanya seperti batang rokok ini sekarang. Kau adalah gadis keras kepala, jadi mari buat kesepakatan. Waktumu tidak banyak," ujarnya sambil menyemburkan asap rokok keluar dari mulutnya.
"Kesepakatan? Aku tahu kau akan menjebakku lagi."
"Apa maumu?"
"Mustahil untuk menyuruhmu menghapus vidio itu, kau pasti sudah menyalinnya berulang-berulang. Jadi... bagaimana jika kau menemaniku malam ini?" ucapnya sambil menyemburkan lagi asap rokok yang terperangkap di saluran pernapasannya.
"Kamu pikir aku sebodoh itu?"
"Aku akan merestui hubunganmu dengan anakku, kamu tidak keberatan menjadi istri ke duanya 'kan?"
"Enak saja! Kamu pikir aku siapa? Yang kamu tawarkan itu lebih terdengar seperti ancaman. Aku seperti menjadi orang yang dirugikan."
Ayah Meihan mengambil gadget dari sakunya "Baiklah, satu panggilan dari HP ini cukup untuk memenggal kepala ke dua orang tuamu."
"Kamu selalu menggunakan kelemahan kami untuk menyerang?! Dasar bajingan! Sampah!" teriak Kenda.
"Cepat putuskan! Aku sudah tidak sabar lagi...."
Kenda menutup erat matanya dan mengepalkan tinjunya. Dia menggeram sambil menggigit bibirnya, sudah cukup adiknya yang menjadi korban akibat dirinya. Orang tuanya tidak boleh ikut terseret menjadi korban kisah asmaranya. Berapa orang lagi yang harus dikorbankan.
"Sudah diputuskan? Mendekatlah jika kau setuju," ucapnya dengan tatapan penuh nafsu.
Kenda melangkah pelan dengan perasaan campur aduk. Sedih, kecewa, dan rasa bersalah.
__ADS_1
"Harusnya kau bersyukur jika menjadi sekutuku. Jalanmu akan mulus. Kemari cepat, hapus air matamu."
Aroma rokoknya itu semakin pekat, langkahnya tinggal sejengkal jarak antara mereka. Rasanya dia juga ikut mengisapnya rokok yang baru saja disemburkan lekaki paruh baya itu.
"Kamu tidak akan kecewa. Aku lebih hebat dari Meihan." Dia menggigit leher Kenda dengan buas.
"Apa kita melakukannya di sini?" tanya Kenda sedikit terkejut.
Ayah Meihan tidak peduli dengan pertanyaan itu. Dia dengan penuh gairah mendekap tubuh Kenda dan melahap mulutnya tanpa aba-aba. Kenda tidak bisa menyeimbangi gerakan kasar Ayah Meihan hingga dia hampir muntah dan kewalahan.
"Kenapa kamu begitu lemah?" bisik Ayah Meihan.
Kenda meramas rerumputan disekitarnya merasakan sakit luar biasa hebat yang menyerangnya.
"Sudah berapa orang yang kau layani hari ini? Kamu mematahkan ekspetasiku."
"Bisa tidak kamu lakukan itu dengan benar. Kamu terlalu kasar."
"Baiklah, rupanya kamu masih sangat muda." Dia mengecup dahinya lalu memulainya kembali.
Belum puas membuat Kenda merintih kesakitan. Pria itu masih belum cukup puas. Dia bangun sebentar memperbaiki posisinya. Sementara Kenda masih terbaring lemas di tanah hampir tidak sadarkan diri.
"Butuh berapa lama agar kau pulih?" tanyanya.
Kenda sudah tidak mampu menjawabnya. Dia masik sibuk menarik nafas.
"Aku ingin mandi, ayo mandi bersama." Dia mengangkat tubuh Kenda dan membawanya ke kolam renang di halaman samping vila.
"Aku hampir tidak bisa bernafas. Bisakah kita menghentikannya sampai di sini? Ucap Kenda dengan nafas tersenggal-senggal.
"Enak saja, kamu bahkan tidak memuaskanku sama sekali." Dia melemper tubuh Kenda ke dalam kolam lalu menyusul. "Kamu membayar mahal untuk ini. Jangan menyesal."
Ayah Meihan menarik tubuh Kenda, membawanya ke pojok kolam.
"Malam ini adalah perjuanganmu, jika kau berhenti bernafas maka akulah pemenangnya dan kamu harus siap berpisah dengan putraku."
Mendengar itu Kenda seperti mendapatkan kekuatan entah dari mana. Dinginnya air membangunkan kembali semangatnya.
"Aku akan memberi tahumu siapa aku." Kenda melingkarkan tangannya di leher pria itu agar memiliki tumpuan lalu dia mulai melahap mulut Ayah kekasihnya itu seperti yang dilakukannya tadi. Aksi balas dendam terjadi di sana.
"Wah, kamu sangat nakal." Ayah Meihan menghapus darah di bibirnya akibat gigitan Kenda.
Kenda menatapnya penuh kemenangan. Tapi pertempuran tidak sampai di situ saja. Ayah Meihan kembali menyerangnya. Dia mendekap tubuh Kenda dan membuatnya masuk ke dalam air. Dia kembali mengeluarkan jurus andalannya membuat Kenda kesakitan luar biasa.
Uhh....
***
__ADS_1
Rafa menggeleng kepalanya lalu tersenyum pahit, melangkah pergi dari sana.