
Meihan menggendong tubuh Anna yang sudah lebih ringan dari dulu. Dia kemudian membaringkan tubuh lemah itu di sofa dan siap menjarah seluruh tubuh Anna.
"Bukankah kamu terlalu serakah?" Ujar Anna ketika pria itu hendak memasukan tangannya ke bawah kain di bawah pusarnya.
Kegiatan Meihan terhenti. Dia kemudian menatap Anna dengan sedikit kesal karena kebuasannya terpendam lagi.
"Ada apa lagi Anna?" Nafas berat semburat menyapu wajah gadis di bawahnya.
"Kenapa kamu harus sekaligus menjadi dia? Sedekat apa kamu dengan dia? Sepertinya kalian tidak saling mengenal. Kamu seperti berubah menjadi orang lain," jelas Anna yang lagi-lagi menghentikan mulut Meihan yang akan menggigit lehernya.
"Anna, aku tidak bisa fokus!" Pekiknya kecewa.
"Apa perlu melakukan ini?"
Meihan mengangguk penuh semangat dan sekali lagi dengan mata jinak yang lebih dalam. Tangannya mulai melakukan pergerakan perlahan dan siap mencengkram keinginannya. Wajahnya berkeringat, otot tangannya menonjol, uratnya menegang. Tidak demikian dengan Anna, dia hanya terdiam dengan wajah hambar membiarkan pria itu hampir menyentuh daerah yang belum seharusnya dia sentuh.
"Aku benci ini," batin Anna berontak.
Tangan Meihan akan segera mendarat namun sisa makanan bersama cairan asam lambung Anna mendadak melayang dan menyerbu wajah Meihan yang sudah berkeringat. Pria itu terkejut bukan main. Matanya melotot tidak percaya.
"Kamu..." kalimatnya tergantung.
"Maaf, aku hanya...." Anna bergegas bangun ketika tindihan Meihan mulai melonggar.
Di sini wujud asli Meihan hampir keluar. Tangannya yang kekar berotot hampir segera menampar wajah mungil Anna. Reflek Anna menyilangkan tangannya di depan wajah agar pukulan itu tidak meninggalkan bekas membiru di wajahnya. Namun gertakan itu terhenti. Meihan menarik tangannya dan merapatkan kembali topeng yang harus tetap rapat di depan gadis itu.
"Maafkan aku..." sesal Anna sambil melap mulutnya.
Wajah Meihan perlahan melunak. Dia berjalan untuk segera memeluk Anna tapi gadis itu menolak dengan kasar dan langsung menamparnya.
"Kamu pikir semudah itu mengontrolku?" ujar Anna dengan tatapan yang sudah menajam.
"Anna...."
"Apa yang kau tahu tentangku? Kamu sudah membunuh dia, kau yang membunuhnya. Jangan membodohiku lagi...." Anna berlari ke arahnya dengan mulut menganga seperti akan memangsanya.
__ADS_1
Langkah Meihan bergerak mundur perlahan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Gadis yang dikenalnya lembut, polos, dan periang itu telah menjelma menjadi rupa lain yang bedanya sangat kontras.
Anna sudah ada di depannya dan langsung menggigit lengan Meihan seperti akan mencabik-cabik jaringan ikat di bawah lemaknya.
Arrrrgh!
Rintih dan teriak Meihan yang terdengar sangat kesakitan.
"Lepas!" pekiknya sekali lagi.
Lepas!
"Oh, maafkan aku." Anna berubah kewujud aslinya dan melepas lengan Meihan. Dia langsung duduk tersungkur di lantai dan menangis setengah menjerit.
Meihan yang masih syok was-was mengamati Anna dengan rambut yang tergerai menutupi wajahnya.
"Anna?" bulu kuduknya berdiri tegak bersamaan.
"Maafkan aku...."
Langkah Meihan kian mendekat sebelum akhirnya mundur lagi karena Anna yang tiba-tiba cekikikan seperti hantu. Pria berotot itu kembali was-was. Matanya mulai menyusun strategi pelarian, tidak ada orang di sana selain mereka berdua. Pelayanan di rumah itu sudah dipindah tugaskan ke rumah Anna yang baru. Hanya mereka berdua di sana. Dia memang selalu diperingatkan akan bahaya gadis yang hampir menjadi istrinya itu tapi dia tidak tahu kalau rupanya sebahaya ini yang dimaksud.
"Anna, ini aku." Meihan mundur sambil menjulurkan tangannya. Dia tiba-tiba teringat hari pertama bertemu gadis itu, ingatan itu juga ikut merekam jejak wajah Rafah yang sepertinya sudah lama tahu semua ini. Setiap tindakan Rafah yang selalu sigap menjelaskan betapa tulus dia melindungi Anna bahkan dia mampu mengontrol rahasia ini sehingga Anna terlihat stabil dan normal.
"Aku mohon. Ini aku Anna," pinta Meihan dengan wajah pucat pasif.
Anna berlari secepat kilat dengan pisau di tangannya. Meihan di posisi pasrah, matanya langsung merapat ketika melihat Anna akan segera menusuknya dengan pisau itu.
Bruak!
Terdengar suara balok yang menghantam tubuh mungil gadis itu membuatnya tiba-tiba jatuh, mendarat di badannya lalu tersungkur ke lantai.
"Kamu baik-baik saja?" Suara ngos-ngosan yang sangat akrab di telinganya terdengar seperti harapan setelah kengerian.
Mata Meihan langsaung terbuka dengan cepat dan melihat si pemilik suara yang sempat hilang beberapa hari.
__ADS_1
"Kenda? Hampir saja." Meihan mengusap mukanya yang penuh peluh.
"Ayo pergi dari sini," suruhnya sambil menarik lengan Meihan.
"Lalu Anna?"
"Dia itu gila! Kita bisa mati jika terus di sini!" teriak Kenda yang juga kelihatan takut.
Tapi....
Mereka keluar dari rumah yang hampir kosong itu meninggalkannya.
Tubuh mungil Anna yang masih bernafas terbaring di sana tanpa siapapun. Dia seperti tertidur dengan nyaman. Awan yang tadi mengepung langit perlahan luruh tertiup menghadirkan rintik-rintik kecil. Angin mulai tertiup pelan menyatu bersama dingin. Masuk ke pori-pori Anna, memandunya untuk segera terjaga.
"Dimana ini?" Dia meraba-raba sekelilingnya yang sudah gelap. Listrik di rumah itu sudah diputus sehingga sangat gelap tanpa penerangan. Dadanya langsung sesak.
"Meihan! Meihan! Meihan!?" Nama itu terus keluar dari mulutnya. "Kamu tidak di sini? Kamu tega...." bulir air yang menyerupai rintik mendarat indah di pipinya.
Hiks.
Tangisnya pecah ketika mengingat sosok tulus yang pasti tidak akan pernah membiarkan ini terjadi padanya. Biasanya ketika dia tidak sadarkan diri, tidak ada sedikitpun rasa risau di benaknya karena dia tahu seseorang akan mati-matian menolongnya, dia akan bangun di tempat hangat dan seseorang akan menggenggam tangannya dengan erat. Semua itu sudah menjadi kehilangan dan membebani dengan rasa yang perih. Kehilangan....
"Ibu! Aku ini anak manja, kenapa pergi membawa Ayah sekaligus? Rafah, dia juga pergi. Semua ini salah kalian. Pilihan kalian salah. Kalian salah! Hhh," tangisnya mengalir bersama hujan di luar. "Rafah tolong! Aku rindu sekaligus sakit. Dimana kamu? Aku hampir tidak bisa bernafas. Apa tangisku tidak cukup?" Dia berlari keluar dan membiarkan air menitik berirama di kulitnya.
Kita berkenalan cukup lama, tanpa sadar kita menyatu dan berbagi. Semua mengalir dan kita lupa betapa saling memiliki ini mengutuk. Tidak disadari waktu masih menggandeng takdir berjalan semestinya. Pertemuan kau dan aku menjadi mubazir dan hampa hingga arti hadir dikubur ratusan purnama yang terusir. Aku enggan tersenyum saat kau tersenyum, tidak peduli. Hadirmu bukan lagi prioritas. Apa dendam mulai memupuk sejak saat itu? Hingga kau membalasku dengan menghilang? Ini sangat tidak adil karena aku yang paling tersakiti. Aku rindu hadirmu saat kau tak bisa lagi di sini.
Rafah!
****
Atzlan mengamati hujan dari balik jendela apartemennya. "Kenapa kau memberiku dokumen tidak penting ini?" ucapnya sambil melempar dokumen itu ke meja.
"Semua itu penting. Dia sangat berbahaya, harus dilindungi atau dimusnahkan, pilihannya hanya itu," jelas sekretarisnya.
"Kenapa dia mengidap tiga penyakit mental mengerikan itu sekaligus? Satu saja sudah merepotkan, bagaimana dia bisa menahannya selama ini...." Dia menutup matanya yang indah membayangkan visual gadis yang dimaksud. Gerakan gadis itu melambat dalam ingatannya, caranya tersipu dan tersenyum, membuat pria itu tak kuasa dalam nostalgia.
__ADS_1
Dokumen itu sedikit bergerak tertiup angin lalu terlihat tulisan 'pasien mengidap dissociative identity disorder (DID)/kepribadian ganda, generalized anxiety disorder/GAD/ gangguan kecemasan, dan kecenderung psikopat.'
Ucapkan hello pada malam ini.