
Anna membanting pintu kamarnya dengan keras. Ulah Kenda barusan sangat menggangu pikirannya. Baru saja beberapa detik dari sekarang dia merasa bangga dan terlena akan rasa yang dianggapnya sebagai cinta. Rupanya semua itu salah, hal itu menjebak sekaligus menyakiti. Tidak ada alasan, semua itu memang apa adanya dan kenyataan pahit yang harus ditelannya bulat-bulat.
Anna sengaja mengunci kamarnya agar seharian di kamar dan tidak ada seorang pun yang mengganggunya. Dia duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan jendela, dari sana seluruh halaman filla terlihat dengan jelas. Kamarnya sengaja dipilihkan sebagai tempat strategis dengan pemandangan terbaik agar dapat sedikit menjadi obat pada kondisi psikisnya yang kadang-kadang terganggu.
Tok-tok-tok.
Dari luar terdengar ketukan yang sengaja dianaikan volumenya. Dia acuh tak acuh seolah tidak mendengar ketukan itu. Namun ketukan itu perlahan keras bahkan terdengar seperti akan mendobrak pintu kokoh kamarnya.
"Ya...!" teriak Anna menghentikan suara dobrakan yang semakin keras.
Dia tertegun melihat sosok di depannya.
"Turun ke bawah," ucap Ibu tirinya dingin.
Anna menelan ludahnya, sudah lama wajah Ibu tirinya yang kejam itu tidak dilihatnya. Dia bergidik lalu dengan cepat menyusul langkahnya untuk turun ke lantai bawah. Takut jika wajah seram itu melototinya.
Dia terhenyak sesaat melihat keramaian di bawah dan Dia juga tahu itu rombongan siapa. Ingatannya membawanya pada wajah detektif terakhir kali yang menatapnya curiga tepat di depan kamarnya.
"Anna, jawab pertanyaannya seadanya," bisik Ibunya sebelum berlalu dan duduk di sofa.
Rasanya guratan aneh menyerebak, suasananya tegang dan horor.
"Kami menemukan sidik jari tanganmu di badan pelayan yang tewas kemarin," jelas detektif itu.
"Pelayan? Siapa? Aku tidak tahu pelayan mana yang kamu maksud," jawab Anna sambil mengernyitkan dahi.
Semua orang nampak tegang termasuk tamu-tamu penting Ayah Meihan dan Ibunya yang ikut menyaksikan. Kehadiran rombongan detektif itu sangat mendadak dan tanpa info.
"Kamu ada dimana saat kejadian malam itu?" tanya detektif lagi.
"Kejadian apa? Aku hanya ingat saat aku akan tidur...."
Anna tidak melanjutkan kata-katanya, dia sekilas menangkap sinyal aneh lagi yang mengalir serentak mengejutkan saraf otaknya yang belum siap. Dia ingat namun ingatan itu bercampur dan sontak membuat cairan merah keluar dari hidungnya.
"Aku malam itu tidur lalu tidak tahu apa yang terjadi," ucapnya setengah terbata-bata. Entah bagaimana bisa kalimat penyangkalan itu keluar dari mulutnya. Hal itu menegaskan kalau dia melihat suatu yang mengerikan di ingatannya.
__ADS_1
[Aku tidak boleh berhenti bernafas]
Dia mengatur nafasnya yang sedikit tersenggal, namun getaran hebat yang entah bersumber dari mana berhasil membuatnya terduduk lemas. Anna sekilas mengingat wajah gadis pelayan itu yang memohon di depannya.
"Pak, Anna itu sakit, dia tidak boleh terkejut, takut, atau apapun. Tidak ada orang di negeri ini yang tidak tahu latar belakang Anna dengan traumanya. Atas dasar apa kau menuduh Anna melakukan itu?" tegas Ibu tiri Anna yang berusaha membelanya.
"Kami memiliki bukti juga surat penangkapan. Untuk sementara Anna harus ikut dengan kami," ujarnya mantap.
"Membawanya kemana?" tanya Ibu tiri Anna dengan mata membelalak.
"Dia harus ikut dengan kami ke kantor polisi," ucap detektif itu sambil memapah tubuh Anna yang hampir tidak berdaya.
Rafah berdiri dari duduknya ancang-ancang untuk melakukan apapun agar detektif itu tidak membawa Anna seenaknya.
"Kamu tidak lihat Anna hampir pingsan?!" teriak Ibu tiri Anna emosi.
"Anna sekarang menjadi satu-satunya saksi dan mungkin saja tersangka. Dia harus ikut bersama kami," detektif itu kekeh pada pendiriannya. Uang suap tidak berhasil menggoyahkan rasa keadilannya.
"Kamu mau berapa? Apa atasanmu tidak memberimu pesangon untuk menutup mulut?" tanya Ibu tiri Anna yang juga Ibu biologis Rafah itu dengan nada yang sengaja ditekan beberapa kali.
"Aku tidak sudi memberi makan anak dan istriku dengan uang haram itu, cuuih!" ucap detektif itu sambil meludah ke lantai merasa jijik.
Anna muak mendengar itu, dia tahu seberapa tidak berharganya dirinya dibalik reputasi yang selalu dibaik-baikkan. Rasa jijik merayap menggelitik di sekujur tubuhnya.
"Aku yang membunuhnya," ujarnya tanpa ragu menghentikan perdebatan itu.
Sejenak hening. Suara detak jantung beriringan dengan detik jam sejenak mengisi kekosongan itu. Sesak di dadanya sejenak berubah menjadi semangat. Anna berdiri mantap lalu mengulangi kalimatnya.
"Aku membunuhnya," ujarnya sambil menyodorkan tangannya untuk diborgol.
Detektif menatap keheranan padanya, seluruh isi ruangan dibuat pangling. Mereka baru saja mendengar pengakuan mendadak Anna yang menjadi pelaku pembunuhan tragis tiga hari yang lalu. Bagaimana bisa gadis selemah dia bisa melakukan itu.
Detektif menelan ludahnya lalu mengambil borgol dan akan memborgol tangan Anna tapi Rafah langsung menarik borgol itu dan membantingnya ke lantai.
"Bukannya kamu sudah tahu kondisi psikis Anna? Apa daya gadis selemah Anna melakukan pembunuhan setragis itu? Untuk mengangkat sendok makannya saja dia hampir tak mampu, apa lagi sampai membunuh orang dengan tragis. Apa tidak ada tersangka lain yang bisa diselidiki selain Anna?" bentak Rafah dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Anna hanya tersenyum simetris, senyumnya semakin lebar sampai terlihat menyeramkan. Rafah mendekatinya dan menggenggam erat tangannya.
"Aku di sini, kamu jangan takut Anna, jangan sampai kamu kehilangan kewarasanmu," bisiknya.
"Dia sudah mengakuinya, aku hanya menjalankan tugasku," ucap detektif itu sambil mengelap peluh di benaknya.
"Aku tidak ingin melihat pertumpahan darah lagi di depanku, aku mohon!" ujar Anna pelan setengah berteriak.
Melihat kondisi yang sepertinya tidak akan selesai kecuali detektif itu mati atau dibunuh, kepala pelayan buka suara dan mengaku kalau dia pelaku pembunuhan itu.
"Aku yang melakukannya, pelayan itu keras kepala. Dia mencuri beberapa kali dan melakukan perbuatan tidak senonoh dengan pelayan pria yang lain. Aku memberinya beberapa pelajaran tapi pelayan itu dengan suka rela melompat dari balkon karena merasa tidak ingin dipermalukkan," jelas kepala pelayan sambil terlihat menerawang kejadian malam itu.
Ayah Meihan terlihat terkesima, dia tidak percaya kepala pelayan sekaligus kekasih gelapnya itu dengan suka rela menawarkan diri untuk di bawa rombongan detektif yang haus keadilan itu.
"Aku juga muak melihat pertumbuhan darah," ujarnya.
Kepala pelayan itu mengambil borgol yang tergeletak di lantai keramik dan memborgol tangannya sendiri. "Aku siap diadili," ujarnya.
Raut wajah takut tak bisa disembunyikan oleh detektif itu ketika mendengar pertumpahan darah, beberapa orang yang tergabung dalam rombongannya juga ikut menahan kaki mereka yang gemetar siap berlari kalau-kalau ada ancaman.
"Akhirnya kamu mengaku juga." Anna berucap sambil tersenyum iblis.
Belum lagi usai ketegangan di sana, ucapan horor Anna membuat semua orang hanya bisa menelan ludah.
"Aku tahu kamu tidak akan mungkin membiarkanku masuk dan mendekam dalam sel menjijikan itu karena kekacauan yang kau buat sendiri." Sorot mata Anna sudah tak terkendali, dia sejenak melepas kepolosan dan kemurnian yang biasa menjadi ciri khas wajahnya.
Rafah semakin erat menggenggam tangannya. Anna tidak boleh menunjukan dirinya yang lain. Rahasia itu cukup dia, Ibunya, dan kepala pelayan yang tahu.
"Jika kau tidak ingin membawaku sekarang maka nyawamu taruhannya," ucap kepala pelayan sambil melihat ke arah Anna yang sedang melap darah yang keluar dari hidungnya dengan tangannya sendiri sehingga membuat darah itu memenuhi setengah wajahnya
Beberapa orang yang berdiri di samping detektif dengan cepat menangkap Kepala Pelayan itu dan segera mungkin keluar dari sana. Tidak ada kemungkinan, jika mereka mati tidak akan ada yang menguburkan mayat mereka bahkan mungkin mereka akan hilang tanpa pencarian. Tidak ada gunanya melawan dua keluarga besar itu, hanya detektif gila yang menangani kasus ini yang berani membenturkan sendiri kepalanya ke dinding.
"Baiklah, hmm...." Detektif itu menyusul langkah anak buahnya ke luar dari fila itu, terbesit rasa takut dalam sanubarinya. Bagaimanapun mati bukan pilihan, dia masih punya anak dan istri yang bergantung padanya.
"Cepat panggil dokter," teriak Rafah.
__ADS_1
Mata Anna sudah memerah, wajahnya semakin horor dengan bercak darah yang terus keluar dari hidungnya.
Sementara Meihan tidak tahu menahu dengan kejadian itu, dia asik mendekam di kamar ditemani Kenda yang terus menggoda dan membujuknya untuk dipuaskan.