
"Sudah bangun?" bisikan Meihan pelan.
Anna perlahan membuka matanya. Telapak tangan Meihan yang berurat tepat ada di depan wajahnya menutupi secercah sinar mentari agar tidak langsung membakar kulitnya.
"Sudah bangun?" bisik Meihan lagi.
Anna tersenyum tipis, lembut. "Rupanya semua ini bisa terjadi," gumamnya dalam hati. Matanya menatap Meihan dengan tulus dan terlihat gemerlap harapan di sana.
Meihan juga begitu, dia mentap khidmat pada Anna. Tatapan kedua insan itu tidak bisa di deskripsikan. Ada kehangatan, mungkin juga cinta tapi....
"Sudah tatap-tatapannya! Matahari sudah hampir meninggi. Kalian mau take foto prawedingnya atau tidak?" ucap ketus seorang gadis sambil menenteng foto digital di tangannya.
Anna menoleh, beralih melihat ke gadis yang sepertinya seumuran dengannya. Kemeja lengan panjang dengan perpaduan jeans yang sedikit sobek menggambarkan kalau wanita itu seorang tomboi. Rambutnya yang panjang diikat sehingga menjuntai seperti ekor kuda.
"Oh.... Maaf Ren, kamu sudah menunggu lama?" tanya Meihan ramah dan langsung menghampirinya.
Gadis itu tersenyum di ujung bibirnya setelah melepas tatapan kebencian pada Anna.
"Kenapa dia?" gumam Anna pelan sembari membuka pintu mobil.
"Kamu...." Meihan terlihat asik menyimak wajah gadis itu.
"Kenapa? Jangan bilang aku masih tidak mirip seperti seorang wanita. Kamu bisa tidak berhenti meragukan jenis kelaminku?" ujar manja gadis itu.
"Hahahahha, kamu udah lumayan cantik," ucap Meihan hampir tertawa menggodanya.
"Lumayan? Heh, di Australia banyak pria yang ngejar-ngejar aku. Bahkan ada yang rela berikan apapun, mungkin kalau negeri ini bisa dibeli, dia akan dengan sukarela mempersembahkannya untukku," ucap mantap gadis itu sambil sedikit terkekeh.
"Hahahahha... aku harus kenalan sama pria itu." Meihan tertawa mendengar ocehan gadis itu sambil mengusap rambutnya.
"Kenalan?"
"Iyah, aku perlu mengujinya sekaligus memberi peringatan untuk berhati-hati dan tidak boleh melukaimu."
Hahahahahaha, gadis bernama Iren itu tertawa sambil memukul pelan bahu Meihan. Mereka asik melepas rindu karena sudah lama tidak bersua.
Anna hanya menyimak kebingungan dari belakang. Dia sibuk mengganti gaun untuk persiapan pemotretan sehingga tidak dapat menghampiri dan mencegat mereka.
Warna-warni perasan. Begitulah hari ini dimulai dan akan berlalu.
Setelah menyelesaikan semua sesi pemotretan Anna buru-buru jalan menuju Meihan yang sedang bercanda dengan beberapa orang di sana. Iren juga di sana, beberapa kali diam-diam memerhatikan Meihan tanpa henti.
"Hei!" panggilnya tanpa aba-aba.
Meihan berbalik diikuti beberapa orang di sana.
"Aku?" tanya Meihan sambil mengangkat salah satu alisnya dan menunjuk dirinya sendiri.
Anna mengangguk salah tingkah. Pipinya sedikit merona mirip dengan rona merah di langit yang hampir senja karena perhatian tertuju padanya.
"Ada apa?" tanya Meihan lagi. Dia tidak menangkap sinyal cemburu dari Anna.
__ADS_1
Anna menggaruk kepalanya bingung. Meihan tidak peka dan seperti sedang mempermainkannya.
"Ada apa?" tanyanya lagi tanpa berusaha menghampiri gadis itu.
"Aku cape, bisa kita pulang sekarang?" ujarnya tanpa pikir panjang.
"Umm, baiklah..." balasnya sambil menjauh dari rombongan Iren dan yang lainnya.
Meihan kini sudah dalam dekapannya. Anna melingkarkan tangannya pada lengan kekar Meihan. Dia melakukan itu untuk melempar isyarat pada Iren. Pria dalam dekapannya itu adalah miliknya. Tidak ada izin untuk disentuh gadis lain, siapapun dia.
Anna membuka pintu mobil sendiri sambil melihat Meihan yang masuk tanpa menoleh padanya. Dia beberapa kali mengedipkan matanya secara konstan mengisyaratkan sedikit kekecewaan.
"Apa yang salah? Kenapa dia berubah terlalu cepat? Tadi dia bersikap manis. Kenapa sekarang seperti ini?" gumanya lalu masuk dengan muka cemberut, dia bahkan membanting pintu dengan keras agar Meihan tahu perasaannya.
Tapi lagi-lagi Meihan tidak peka. Dia menyalakan mobil dan akan menancap gas namun Anna menghentikannya.
"Terimakasih untuk hari," ucapnya sambil mengecup lembut pipi Meihan.
Sedikit terkejut, Meihan berbalik melihat ke arahnya. Anna tersenyum kaku.
"Dia hanya teman masa kecilku," ujarnya menjawab kegundahan perasaan Anna.
Kalang kabut, Anna langsung menyeka keringatnya yang langsung membanjiri pelipisnya. Pria yang mungkin dia sukai itu sebenarnya mengerti hanya tak ingin bebasa-basi.
"Oh, hahhaha, aku tidak pernah menanyakannya," jawab Anna mengelas.
Pria bermata elang itu tersenyum. "Bukannya semuanya jelas?" ujarnya menggoda.
"Bagaimana rasanya?"
"Rasa? Rasa apa?" tanya balik Anna yang sedang berusaha mengontrol degup di dadanya yang kian kacau.
"Itulah yang disebut dengan rasa cemburu," jelasnya singkat, pelan, penuh makna.
Oh..., rupanya begini rasanya.
Anna dari tadi hanya bergelut dan berusaha membuat pria yang mungkin dia cintai itu untuk menjauh dari gadis yang terus-terusan membuatnya tidak nyaman. Tanpa tahu bahwa itu pertama kali terjadi dalam hidupnya. Rupanya seperti itu rasanya cemburu.
"Aku akan mengajarkanmu semua hal tentang cinta. Rasa ketergantungan juga memiliki," ujarnya lalu menancap gas dan meninggalkan tempat itu.
Anna menggenggam kembali tangannya yang sudah dilepas Meihan beberapa menit yang lalu. Nafasnya sudah stabil kembali.
Kisah ini tidak akan sederhana dan manis. Kita sudah terjebak. Aku masih bertahan dengan semua ingatan itu, saat Ibuku mengajarkanku pelajaran yang tidak akan diajarkan oleh Ibu manapun. Jangan salah paham, meski aku tidak tahu rasa yang kau tahu, cinta.... Mari saling mengajar tentang cinta, kau cinta dengan kemurnian, aku cinta kotor dengan dendam.
"Kenapa melamum?" tanya Meihan.
Anna terperangah dan sontak menjawab. "Tidak...."
"Kamu terus melamun dari tadi, apa ada yang mengganggumu?" tanya Meihan lagi.
"Oh, tidak. Aku hanya sedikit lelah," jawabnya singkat.
__ADS_1
Meihan mengangguk lalu diam kembali. Hening kembali. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mobil hitam pekat itu sudah terparkir di depan rumah Anna yang masih ramai dengan orang-orang yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Hari bahkan sudah sore, orang-orang itu belum saja beranjak pergi.
"Ayo," ajak Meihan sambil mengulurkan tangannya.
Anna balas menerima uluran tangan itu lalu mereka berjalan beriringan.
"Oh, lihatlah mereka begitu serasi...."
Hiruk-pikuk terdengar, membuat Anna semakin memperkeras otot tungkai bawahnya agar mantap berjalan tegap.
***
"Kamu yakin?" tanya Rafah, menatapnya lekat-lekat.
"Memangnya ada solusi lain? Yakin tidak yakin, aku harus melakukan sesuatu. Sampai kapan aku harus menunggu nasib berpihak?"
"Masih belum terlambat Anna, aku bisa membujuk Ibu membatalkan semua ini."
"Berhentilah mencemaskanku Fah, aku bisa mengontrol semuanya," ujar Anna.
"Meihan itu bukan pria yang tepat. Dia berbahaya."
"Berbahaya? Kalau dia berbahaya lalu aku bagaimana? Gadis yang hidup dengan diagnosa psikis aneh. Aku bahkan kadang lupa apa yang sudah aku lakukan, tiba-tiba kudapati tanganku berlumuran darah. Apa aku bukan gadis yang lebih berbahaya?"
"Anna, dia hanya mencoba memainkan perasanmu. Aku sempat mendengar percakapan mereka, dia dan Ayahnya merencanakan sesuatu."
Anna menghela nafas panjang, lalu menatap Rafah beberapa detik. "Sedikit lagi, aku bisa saja terbebas atau terperangkap. Kau akan selalu berdiri di situ, menungguku celaka untuk membantu," ujarnya lalu berdiri dan pergi dari sana.
Tidak ada yang bisa menebak warna-warni perasaan. Rafah menatapnya kosong, kali ini dia harus benar-benar melepaskan dan biarkan kakak tirinya itu mengambil keputusannya sendiri.
"Selamat atas pernikahannya," ucap Kenda yang tiba-tiba muncul di depannya, menghalangi jalannya.
"Hah, mau apa kamu?" balasnya penuh kebencian.
"Aku tidak bisa naik di pelaminanmu besok, jadi aku memberi hadiahnya sekarang." Kenda tersenyum tipis, lengkungan pada ujung bibirnya terlihat dipaksakan.
"Aku tidak punya waktu menerima ini," ujarnya menolak paksa hadiah itu, lalu hendak melangkah pergi.
Kenda tetap berusaha memberikan itu, dia menarik tangan Anna dengan paksa juga kasar lalu menaruh kado kecil itu di genggamannya.
"Anggap saja semua yang terjadi sekarang adalah hadiah. Aku tidak akan dengan mudah melepas milikku, tunggu sampai aku merebutnya kembali."
Senyum puas menyungging dari bibirnya. Dia berlalu, memunggungi Anna yg diam mematung seribu bahasa. Karena merasa jijik, dia melempar kado kecil itu dengan keras hingga membuat benda di dalamnya ikut terlempar ke luar.
Matanya melebar sekaligus melotot melihat benda kecil berwarna belang putih dan biru, juga ada dua garis merah di sana, test pack. Anna menutup mulutnya lalu buru-buru memungut benda itu dan memasukkannya kembali ke dalam kado kecil itu. Matanya juga tertuju pada flash disk yang ikut terlempar keluar, dengan cepat dia mengambil benda kecil itu dan segera pergi dari sana.
[Setelah pernikahannya di gelar dan persiapannya sudah matang. Aku akan menceraikannya, kamu harus lebih bersabar. Jaga anak dalam kandunganmu itu. Kita akan bersatu kembali.]
Anna menggit keras bibirnya "Oh, begini rasanya patah hati? Hari ini kau mengajarkanku dua rasa sekaligus, cemburu dan penghianatan," sedikit gemetar, dia mencabut flash disk itu dari laptopnya.
__ADS_1