Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
4. Caramu Mencintai dan Caraku Membenci


__ADS_3

Lampu itu berkelap-kelip, semuanya sangat nyata. Aku gagal menantang takdirku.


"Kenapa kamu melakukan ini? Aku sudah melarangmu menjadi super hero di hidupku. Kamu terlalu sering menonton film fantasi," cerutu Anna.


"Aku tidak berusaha untuk mencegatmu kemarin. Hanya saja Meihan bersikap gentle untuk mendobrak pintu kamarmu. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi padamu," balas Rafah membela diri.


"Apa kamu tidak khawatir?" tanya Anna kemudian.


"Tentu saja tidak. Aku tahu kamu pasti sangat kesal. Aku pernah di posisimu, gagal mengakhiri hidup yang membosankan ini. Sampai akhirnya Ibu muncul dan bilang kami akan baik-baik saja dan akan memiliki hidup yang lebih baik. Lalu... semuanya terjadi begitu saja."


"Oh... Meihan namanya? Si pahlawan itu. Padahal jarakku dengan Ibu sedikit lagi."


Pandangan mereka kemudian teralihkan. Pria yang baru saja mereka sebut kini muncul dari balik pintu itu. Dia tersenyum simpul.


Anna sontak membuang jauh mukanya. Rafah reflek berdiri untuk meninggalkan mereka.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan ekspresi ramah namun terlihat dingin.


"Aku berharap kamu lebih ramah," ketus Anna.


"Lakukan tugasmu dengan baik," ucapnya kasar lalu melempar bunga yang dibawanya ke perut Anna.


Anna tersenyum pahit, ekspetasinya terpatahkan. Dia sempat berharap kalau pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus. Rupanya semua itu kisah klasik. Semuanya masih sangat rumit.


"Bangun dari sana. Kemasi barangmu, kita harus segera pergi di pertemuan keluarga untuk menyepakati tanggal pernikahan kita dan rencana lainnya."


"Rupanya semuanya semakin rumit. Padahal aku lebih nyaman berbaring di sini. Sekedar info kalau aku masih seorang pasien," ujarnya sambil meraih tas yang berisi pakaian dan perlengkapan lainnya.


Selesai mengganti pakaiannya, dia menyusul Meihan yang melangkah cepat di depannya seperti sedang terburu-buru. Anna melihat sekeliling mencari keberadaan Rafah.


"Aku berharap kau menculikku kali ini, biasanya kau melindungiku. Sekarang aku sedang terseret dalam masalah. Kemana kamu bocah," lirihnya dalam hati sambil mencari keberadaan Rafah. Tapi Rafah sudah tidak ada lagi di rumah sakit itu.

__ADS_1


Ketika masuk dalam mobil dia masih berusaha mencari Rafah. Matanya liar menatap ke luar sampai tidak sadar kalau di dalam mobil itu ia tidak hanya berdua dengan Meihan. Ada gadis lain di dalam mobil di sana yang duduk tepat di samping Meihan. Anna tidak sempat melihat wajahnya. Hanya rambutnya sebahu yang terurai rapi yang bisa ia llihat. Siapa gerangan wanita itu?


Beberapa saat dalam keheningan. Gadis itu kini terisak mengikuti iringan deru mobil yang terus melaju dengan kecepatan normal.


"Sudahlah, meski cincin itu melingkar di jariku, aku tidak akan membiarkan hatiku diikat juga olehnya. Sampai semua kesepakatan berhasil, aku akan segera menceraikannya secepatnya. Kamu hanya perlu menunggu," tegas Meihan berusaha menenangkan gadis itu.


Mobil terus melaju. Gadis itu masih tersedu menangis seperti tidak akan terhentikan. Anna hanya diam mengamati semuanya serba salah.


"Apa salahku? Aku sudah memintamu untuk mengakhiri semuanya sejak dulu," ucap lirih gadis itu. "Orang tuamu bahkan jijik melihatku saat tahu status sosialku. Orang tuaku yang hanya seorang pedagang biasa. Tanpa perusahaan gedung tinggi dengan banyak karyawan. Kisah Cinderella sudah terlalu kuno untuk didengarkan sekarang, kenapa kau menyeretku ke sini? Apa kau ingin menunjukkan seberapa cantik calon istrimu?"


"Kenda... tidak ada tempat baginya di hatiku. Meski status sosialnya tinggi, di mataku dia hanyalah wanita ****** yang dijadikan tumbal keluarganya. Bahkan latar belakang kelahirannya membuatku jijik setengah mati."


Anna mengenggam erat tangannya. Pria yang tiba-tiba mencium keningnya kemarin. Pria yang rela basah untuk mengangkatnya dari bath up dan membantunya untuk tetap hidup. Dia bahkan sudah merebut ciuman pertamanya meski hanya berupa ciuman pertolongan pertama. Tapi, hal itu sangat mustahil akan terjadi di kehidupannya. Trauma masa lalunya mencegah hal itu terjadi.


"Turunkan aku di sini!" pintanya masih sambil terisak.


Meihan tidak peduli, dia malah menambah kecepatan mobil itu. Sehingga mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Anna sampai ketakutan berpegangan dengan erat.


"Aku memilih caraku sendiri untuk mati, jangan menyeretku di masalah asrama kalian!" teriaknya hampir menangis, tidak terima harus ikut terseret ke pertengkaran asmara mereka.


"Turunkan aku di sini!" tegasnya lagi.


Meihan sedikit mengurangi kecepatan mobil, dia lalu berbelok masuk di sebuah gang kumuh yang sempit. Mereka berhenti tepat di sebuah toko usang yang seperti sudah berdiri puluhan tahun di sana tanpa renovasi. Toko itu menjual berbagai macam aksesoris juga beberapa kebutuhan pokok seperti beras, gula, garam, dan beberapa makanan ringan lainnya.


Meihan keluar dari mobil dengan cepat menyusul Kenda yang hampir masuk ke dalam tokoh itu tanpa berbalik melihat ke arahnya. Dia berjalan tegap sambil mengepal tinjunya.


"Kenda...!"


Anna merasa kesal di posisinya sekarang. Apa dia kini berperan sebagai pemeran wanita pendukung dalam kisah asmara dua sejoli yang tidak di restui?


Wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Kenda keluar dari toko itu menyambut kedatangan mereka. Dia tersenyum sangat tulus sampai melihat anaknya duduk terisak tepat di depannya.

__ADS_1


"Kenda? Ada apa nak?" Dia ikut duduk melihat anaknya yang sedang terisak.


"Usir pria itu Ibu!" pekiknya.


"Siapa?" Wanita itu kini melihat ke arah Meihan.


"Ada apa ini nak Meihan?" tanyanya kemudian.


Meihan hanya tertunduk tidak mampu menjawabnya. Dia hanya mampu membalas dengan duduk kemudian sujud di bawah kaki wanita itu. "Aku berharap Ibu bisa menungguku untuk menjemput anak Ibu ke sisiku di lain waktu. Aku dijodohkan dengan gadis lain."


Wanita itu hampir kehabisan kata-kata. Dia menunjukan mimik tegas lalu masuk ke dalam toko dengan cepat. Suara tangisan kenda semakin terdengar pilu. Tidak lama kemudian Ibu Kenda muncul kembali sambil membawa nampan berisi garam.


"Pergi kau!" teriaknya sambil mengambil segenggam garam lalu melemparnya ke Meihan. "PERGI!"


Meihan kini terisak, dia ikut menangis masih dalam posisi bersujud.


"Pergi!" ibu Kenda terus melemparnya dengan garam sambil menahan tangisnya.


Di tengah kegaduhan itu, tiba-tiba muncul seorang bapak memakai kemeja usang. Dia sepertinya Ayah Kenda. Di tanganya, dia memegang sebuah kresek yang terdapat nasi bungkus di dalamnya.


"Ada apa ini Ibu? Kenapa Ibu melempari Meihan begitu?" tanyanya menyela dan melindungi tubuh Meihan yang masih sujud di hapan mereka.


"Jangan bela dia Bapak. Dia tidak menghargai pengorbanan kita. Dia sudah membuat Kenda menangis. Sudah cukup keluarganya mempermalukan kita. Bawa dia pergi dari sini!" usir wanita itu dengan sangat kasar.


Pria berkemeja usang itu terdiam sesaat melihat anaknya yang menjerit di sela tangisnya. Wajahnya langsung memerah, ia lalu mengambil nasi bungkus dalam kresek yang ditentengnya dan melempar itu ke Meihan. Tubuh Meihan kini sudah dilumuri makanan.


"Bukannya keluargamu sudah janji? Kami sudah menjual aset kami untuk mendukung perusahaan Ayahmu. Apa kamu tidak tahu malu datang bersujud di sini? Meski uang kami tidak seberapa tapi kami menjual harga diri kami untuk dijadikan lelucon oleh Ayahmu dan rekan-rekannya! Pergi kamu!" teriaknya sambil berusaha menyeret tubuh Meihan untuk pergi dari sana.


Anna yang sebelumnya malas tahu dan hanya mengamati dari dalam mobil kini tergerak hatinya setelah melihat Ayah Kenda menendang dan memukuli tubuh Meihan menggunakan balok. Meihan kukuh, tidak beranjak sedikit pun. Tetap di posisi bersujud.


"Apa kamu merasa hebat dengan bersikap seperti itu?" teriak Anna yang membuat Ayah Kenda menghentikan aksinya. Mereka menatap Anna penuh rasa tanya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Ibu Kenda dengan mata melotot penuh amarah sedikit basah.


"Aku calon istri Meihan," balasnya sambil tersenyum sombong, entah bagaimana kalimat itu keluar dari mulutnya.


__ADS_2