Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
28. Kesan Pertemuan Pertama Kita


__ADS_3

Mata Anna yang sedikit perih juga membengkak itu perlahan terbuka. "Apa semua itu mimpi? Syukurlah di sini hangat. Semua itu hanya mimpi?" Anna menggenggam selimut hangat yang menutupinya dan memerhatikan langit-langit yang tidak tampak seperti rumah sakit jiwa. Aroma di ruangan itu juga sangat lembut. "Dimana Rafah? Aku harus segera menemuinya dan menceritakan betapa buruk mimpiku." Dia begegas bangun dan mencari wujud yang sangat dirindukannya itu.


Tanpa dia sadari dua pasang mata sedang menatapnya diam-diam.


"Rafah?" panggilnya sambil berdiri dengan cepat. Air matanya menggumpal ketika melihat gaun putih lusuh yang melekat di badannya. "Semua bukan mimpi?" Dia memejam kecewa matanya sambil mengepal tangannya yang gemetar.


Berapa kali pun. Jiwa rapuh Anna masih belum bisa terima kemalangan yang menimpanya, baginya itu sangat tidak nyata dan tidak mungkin terjadi.


Bibirnya bergetar "Aku mohon bangunkan aku segera, mimpi ini begitu menyeramkan. Aku hampir tidak bisa bernafas," ujarnya dengan air mata yang terjun bebas dan sambil memukul dadanya yang kian sesak.


Melihat itu Guntur hendak menghampirinya tapi langsung dicegat Atzlan. Dia mengangguk lalu memukul bahu sekretarisnya itu, tak lupa tangan kirinya menarik tisu dan menghampiri Anna dengan langkah stabil.


Anna kini tersadar jika itu bukan mimpi seharusnya dia sudah terkurung di rumah sakit jiwa, lalu dimana dia sekarang? Dia hendak berbalik melihat sekeliling untuk mencari jawaban dan, jawaban itu menghampirinya dengan cepat. Matanya langsung menangkap sosok manis yang sedang menyodorkan tissue sambil tersenyum. Ketampanan pria itu memang di luar kadar tak terjangkau, Anna sempat tersihir dan terus menatap sosok itu dengan mulut sedikit menganga lengkap dengan ingus yang hampir masuk dalam mulutnya tanpa permisi.


Pria itu lalu memiringkan kepalanya 20 derajat, berusaha mengirim isyarat agar gadis di depannya berhenti menatapnya dengan mata bulat hampir melotot. Tidak mendapat respon, Atzlan lalu menjentik tangannya di depan wajah Anna hingga membuat gadis itu terkejut dan langsung menyerangnya dengan pertanyaan bernada tinggi.


"Siapa kamu?" pekik Anna sambil melangkah mundur dan mengacungkan kedua tinjunya.


Atzlan tak bereaksi, dia masih tersenyum seperti tadi dan mulai melangkah menutupi jejak langkah mundur Anna sebelumnya. Jarak mereka kini semakin dekat. Tubuh Anna yang mungil dan pendek tidak dapat melakukan apapun selain merespon dengan membatu seperti kakinya tertancap ke bawah. Di matanya pria yang sedang berdiri di depannya itu seperti jelman tongkat langit saking sangat tinggi, bahkan ujung rambut Anna yang sudah diakumulasi dengan tingginya yang sekian hanya mencapai perut pria itu.


"S-s-s-i-i-i-a-a-p-pa k-a-mu?" tanya Anna terbata-bata.


Pria itu lagi-lagi hanya tersenyum hingga membuat Anna merinding. "Kenapa dia hanya tersenyum?" batin Anna.


Melihat gadis itu seperti sangat ketakutan, dia rasa cukup untuk menjahilinya. Tissue di tangannya langsung dia gantungkan di kepalan tinju kecil Anna yang membatu.


"Bersihkan wajahmu," suruhnya dan mundur beberapa langkah.


Anna menghembuskan nafas kebebasan. Dia mengumpulkan kembali kekuatannya lalu bertanya lagi.


"Siapa kamu?" tanya Anna dengan mimik menyerang. Tidak lupa menggosok tissue pemberian pria itu ke wajahnya.


"Aku? Aku CEO perusahaan ini," jawabnya sedikit sombong sambil menengadahkan tangannya juga mengangkat salah satu alisnya agar terlihat semakin keren.


"CEO? Oh rupanya kamu? Haha." Anna menyadari posisinya, sebersit kecewa mengawani hatinya. Andai jika pria itu orang lain.

__ADS_1


"Kenapa jika aku CEO itu? Ada yang salah?" sangah Atzlan lagi.


"Apa tujuanmu?" tanya Anna dengan nada mengancam.


"Tujuan? Um, aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan sekaligus saham yang sudah kutanam di perusahaan ini." Atzlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Oh ya, perkenalkan ini sekretarisku yang tidak kalah tampan," ujarnya lagi seperti sengaja ingin memanasi Anna.


"Kamu tidak punya kerjaan lain? Kenapa harus perusahaan ini?" serang Anna lagi tanpa terpancing.


"Perusahaan lain yang mana? Aku hanya ditunjuk dan dengan suka rela menerima tawaran, enough?" balas Atzlan tetap santai.


"Huh...." Anna memegang dahinya yang sedikit pening.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Atzlan mengompori agar gadis itu semakin naik darah.


Guntur hanya mengamati dengan seksama. Dia sudah terbiasa dengan sifat usil Atzlan. Bahkan melihat wajah Anna yang merah padam dan hampir berasap hanya membuatnya menggeleng dengan senyum geli.


"Kenapa membawaku ke sini? Bukannya tadi kamu mengusirku?" Wajah Anna kini tidak hanya merah padam tapi urat di wajahnya juga ikut bersitegang.


"Oh, hanya ingin saja. Agar pertemuan pertama kita lebih berkesan," jawabnya lengkap dengan senyum termanis. Dia kembali mendekati Anna "Perkenalkan aku Atzlan, pria yang merebut posisimu untuk menyelamatkan perusahaan," ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


"Aku tidak perlu tahu namamu? Apa itu penting sekarang?" jawab Anna dengan ekspresi abstrak, tidak tahu harus tersenyum atau marah.


"Kamu lebih cantik dari dekat." Dia mengambil sehelai rambut yang menutupi bagian mata Anna lalu menaruh helaian itu di telinganya dengan lembut. Tidak sampai di situ Atzlan melanjutkan aksinya dengan membelai kepala Anna.


Anna benar-benar tidak tahan, darahnya sudah sangat mendidih "Sial...!" teriaknya lalu mengacak-acak rambut yang sudah disentuh Atzlan barusan.


"Eh, kenapa?" tanya Atzlan lagi, pura-pura terkejut. Membuat gadis itu emosi menjadi hobi barunya.


"Brengsek!" umpat Anna dengan mata tajam. Dia hendak berbalik dan akan keluar dari sana.


Hahaha....


Wajah Atzlan yang usil, benar-benar sangat menyebalkan. Kalau saja tinnginya hanya berbeda beberapa jengkal dengan Anna, dia mungkin sudah menonjok wajah menyebalkan Atzlan sampai hidungnya mimisan.


Anna menarik ganggang pintu, sebelum keluar dia berbalik melempar tatapan penuh kebencian pada Atzlan lalu tatapan itu di lempar ke Guntur juga. Sekretaris Gun yang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat bahu seperti mengisyaratkan dia tidak ikut campur atas segala keusilan sahabatnya.

__ADS_1


"Tunggu!" teriak Atzlan berusaha menghentikan langkahnya.


"Kamu lihat noda itu?" Atzlan menatap sekretarisnya.


Sekretaris Gun mengangguk "Sepertinya dia tidak tahu kalau sedang datang bulan," jawabnya.


Atzlan langsung berlari dan dengan cepat menyambar kunci mobil dan jas coklatnya di gantungan.


"Sementara, aku serahkan kantor padamu," ucapnya lalu berlari keluar.


Anna benar-benar emosi, dadanya naik turun seperti akan meledak. Dia juga sengaja menghentakan kakinya dengan keras ketika kakinya menapak di lantai. Tinju kecilnya juga masih mengepal dengan sangat erat. Beberapa orang yang berpaspasan dengannya dan tidak sengaja beradu tatap dengannya langsung diserang balik oleh Anna dengan sorot mata tajam. Amarahnya berhasil menumbuhkan dua tanduk di kepalanya. Dia bahkan menahan mulutnya untuk tidak berteriak.


"Tunggu," susul Atzlan sambil berlari menghampirinya.


"Kenapa lagi dia?" geram Anna mempercepat langkahnya menuju lift. Sayang sekali, liftnya terlanjur tertutup, Anna menekan tombol dengan cepat agar lift segera terbuka tapi sudah terlambat, dia harus menunggu beberapa menit.


"Tangga!" ucapnya lalu bergegas berlari tapi langkah Atzlan terlalu besar, berkat kaki jenjangnya dia berhasil meraih salah satu tangan Anna.


"Lepas!" pekiknya.


Atzlan tidak peduli pemberontakan gadis pendek itu. Dia melepas jasnya dan melingkarkan jas itu ke pinggang Anna.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Anna sedikit terkejut.


"Ada noda merah di...." Atzlan tersenyum.


"Apa?" Anna membeku, dia menelan liurnya tiga teguk tidak percaya "Tanggal berapa sekarang?" tanyanya tanpa sadar.


"Tanggal 23," jawab Atzlan sambil melihat jam di tangannya.


"Benar, siklusnya hari ini. Kenapa aku bisa lupa? Anna sadarlah," ucapnya dalam hati. Tanpa sadar kini pipinya mulai merona.


Atzlan masih berdiri di sana mengamati Anna yang bingung harus berbuat apa. Sudah beberapa menit berlalu, salah satu lift terbuka.


"Anna?" panggil Meihan dari dalam lift yang baru saja terbuka.

__ADS_1


Tiga muda-mudi itu saling melempar tatapan.


__ADS_2