Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
20. Cintai Aku Sekali Saja


__ADS_3

Cintai aku sekali saja....


Aku tidak meminta lebih. Cukup sekali saja. Biar aku merasakan bagaimana rasanya dicintai dan saling berbagi rasa. Meski tidak tulus, lalu kau bisa pergi seenaknya, meninggalkanku untuk menyadarkanku sesakit itu rasanya mencintai.


Anna menggenggam erat selimutnya. Ruangan itu sudah kosong sama seperti kekosongan yang baru saja menganga memberi ruang besar jauh dalam hatinya. Pungung dan sosok Meihan seolah masih ada berdiri di sana menatapnya jijik sekaligus kasihan padanya.


"Setidaknya beri aku jawaban dari lengkungan bibirmu itu. Aku tidak mengerti maksud dari tatapan itu. Bisakah aku salah mengartikannya? Aku harap kau menyetujui dan tidak menolak." Dia membanting kakinya menendang-nendang selimut tebal yang membuatnya sedikit kepanasan.


Rafah kini masuk membawa tas coklat kesayangan Anna.


"Sudah cukup berbaring di sini," jelasnya tanpa sedikitpun melirik ke arah Anna.


"Kamu pasti marah sama aku," celoteh Anna.


Rafah hanya diam, dia berjalan dan duduk menghadap jendela. Di luar sudah gelap hanya kerlap-kerlip lampu memberi kesan, malam kota yang penuh gemerlap lampu, boros listrik, polusi mulai menyerang tempat kita berhirup dengan nyaman.


"Begini rupanya rasanya, di sini sangat kosong, meski sedikit melegakan. Butuh keberanian yang kuat untuk mengungkapnya. Tapi yang kita harapkan tidak mampu terjelaskan. Hatiku seperti sedang merengek juga memakiku karena rasa yang kulepas dari sini tidak terbalas malah dibuang begitu saja seperti tidak berarti," jelas Anna sambil memegang dadanya yang terasa kosong dan terluka.


Rafah berbalik ke arahnya "Dia tadi di sini?" tanyanya kemudian.


Anna mengangguk masih tetap memegang dadanya.


"Tidak perlu berharap lagi. Hidup kita seperti ini, aneh, kosong, dan membosankan."


Anna hanya mangut-mangut, kini dia sedikit tertunduk seperti mereka ulang kejadian penolakan Meihan tadi. Meski bukan penolakan tapi reaksi Meihan membuatnya menyerah.


"Aku janji Anna, aku akan membantumu keluar dari sini, bahagia tanpa beban juga tak perlu cemas akan tanggung jawab yang diembankan untukmu," tegas Rafah.


"Aku milikmu?" Anna bersenandung kosong lalu membuang senyum pahitnya "Atau siapapun dia yang akan menjadi milikku, aku sudah tidak peduli lagi."


***


Cuaca sedikit basah dan dingin. Deru angin menyerbu tanpa ampun. Anna memperbaiki rambutnya yang dikoyak angin tidak bertanggung jawab. Mungkin akan segera turun hujan. Dia berjalan santai memasuki pekarangan rumah megah dengan ciri khas patung bersayap yang mengeluarkan air dari matanya.

__ADS_1


"Kau masih terus menangis?" tanyanya dalam hati sambil menatap patung itu. Anna dulu selalu bertanya kenapa sipemahat patung membuat saluran agar air selalu mengalir dari pelupuk matanya. Seolah membuat patung itu terus menangis sepanjang musim tak pernah henti. Hal itu lah alasan Anna menyebut patung itu, patung menangis. Patung menangis yang pertama kali menyambutnya datang ke rumah itu, seperti sudah memberinya isyarat dan menandakan tidak ada kebahagiaan di sana.


Sekali lagi angin datang menyerbunya, menyadarkannya pada lamunan yang sempat membuatnya terhenti untuk menatap patung putih ikonik yang menghiasi rumahnya. Dia pun berbalik dan melangkah pelan di jalan setapak yang tidak terlalu jauh dari pintu.


Rumah megah itu selalu memiliki banyak pengunjung. Apalagi tiga hari dari sekarang pernikahannya akan digelar. Saking Banyaknya kerumunan orang, rumahnya seperti pasar malam yang bertepatan dengan malam minggu.


Properti pernikahan bergantian datang mengotori halaman luas rumah mereka. Anna terus berjalan sembari merapikan rambutnya. Dia sendiri, berjalan sambil membawa tas coklat kesayangannya. Rafah tidak mengantarnya. Dia memilih mengobati luka hatinya di apartemen rahasianya. Dia kini hanya sendiri berjalan di kerumunan mitra yang biasa mencibirnya.


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Kenda dengan gaun manis berwarna biru, Kenda tampak berbeda hari ini, kecantikan dan rasa percaya diri terpancar dari senyumannya. Dia memegang segelas anggur di tangannya, hampir membuat Anna lupa kalau gadis itu dulu begitu kumuh dengan seragam pelayan. Bukan di sana tempat untuk mengobati hati. Meihan berdiri gagah di samping Kenda dengan aura berbeda. Tidak jauh dari sana Ayah Meihan, Ibu tirinya, dan Ibu Meihan bercakap ria seolah tidak melihat Meihan yang memeluk gadis lain padahal pernikahannya akan segera dilaksanakan.


"Aku hanya melewatkan tiga hari, tapi perubahan terjadi sebesar ini. Sangat bertolak belakang dengan yang terjadi kemarin. Mungkin jika Ibu tidak melahirkanku semua akan berjalan lancar, sesuai harapan semua orang," ketus Anna dengan senyum pasrah.


Kuatlah sedikit lagi....


"Hanya perlu sedikit lagi, aku tidak akan kalah. Kaki ini harus kokoh." Anna menghentakan kakinya di tanah. Dia harus bertahan sendiri agar tidak kecanduan bergantung pada orang lain.


"Ibu!" teriaknya sambil berlari dan memeluk Ibu tirinya.


"Kenapa kamu hanya datang sendiri? Dimana Rafah?" tanyanya kemudian lengkap dengan tatapan teduh Ibu yang bijaksana.


"Dia ada urusan mendadak dan hanya mengantarku sampai di depan," ucap Anna dengan suara yang sengaja di imut-imutkan.


Dia kembali memeluk Ibu tirinya. Berharap sikap asli wanita itu bisa terpancing. Namun nihil, wanita itu malah bersikap sebaliknya.


"Kamu sudah baik-baik saja? Jika ada masalah kamu cerita saja sama Ibu." Kini tatapan seorang Ibu penuh penyayang terpancar dari wajahnya.


Anna menggeleng pelan seraya mencemberutkan mulutnya seperti anak manja.


"Apa ada yang menganggumu?" tanya Ibu tiri Anna ketika melihat reaksi anak pungutnya itu.


Anna pun mengangguk lalu menunjuk ke arah Meihan dan Kenda. "Siapa gadis itu? Kenapa dia begitu mesra di samping calon suamiku? Ibu bilang memilih laki-laki terbaik untukku. Kenapa dia bersikap seperti itu? Bermesraan di depan calon istrinya," ketus Anna. Dia sengaja sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Meihan dan Kenda.


Benar saja suara Anna yang terdengar seperti berteriak itu membuat Meihan dan Kenda berbalik ke arahnya.

__ADS_1


Ibu tiri Anna tersenyum "Owh, dia hanya teman lama Meihan. Anna tidak perlu khawatir. Dia bukan siapa-siapa."


"Apa Ibu membenarkan perlakuan mereka? Aku bahkan melihat wanita itu menggoda Meihan, calon suamiku." Anna sengaja menekan kata, 'calon suamiku' agar Kenda kebakaran jenggot.


Mendengar itu, Meihan sontak berjalan mendekati mereka, meninggalkan Kenda dengan muka merah padam.


Plak!


Anna langsung menampar Meihan ketika dia sudah berdiri sedikit dekat dengannya. Saatnya untuk melepas kekesalan yang mengganggu di dadanya.


"Kamu tahu apa yang sedang dilakukan orang-orang itu?" tanyanya sambil menunjuk petugas yang sedang membangun singgasana untuk pernikahan mereka nanti. "Kita akan duduk di sana bersanding sebagai suami istri. Masih belum terlambat untuk membatalkan pernikahan...."


Meihan hanya diam mematung sebelum akhirnya mengelus kepala gadis itu. Jangan lakukan itu, hati Anna yang haus kasih sayang akan luluh hanya dengan elusan tak bermakna itu.


"Kamu cemburu?" tanya Meihan setengah tertawa.


Anna menatapnya intens. Dalam hati kecilnya dia berharap senyum itu benar-benar tulus untuknya bukan sekedar kebohongan belaka untuk menipu semua orang di sana. Dia sempat berbalik ke arah Kenda yang menatapnya bulat dengan biji mata hampir keluar. Semua ini hanya perang hati dan perasaan. Anna tanpa ragu memeluk Meihan. Rasa hangat dan aroma pria itu membuatnya sedikit tenang.


"Aku hanya perlu kuat sedikit lagi...." Anna sengaja menutup matanya di pelukan Meihan.


"Kamu harus merawat dirimu terutama kesehatanmu, sebentar lagi Anna akan menjadi nyonya muda di keluargaku," bisik Meihan.


"Kenapa kau melakukannya senatural ini? Apa tidak ada rasa dari kalimat indah itu?" batin Anna berteriak.


Setelah puas berteduh di pelukan Meihan Anna pelan-pelan mendorong tubuh Meihan. Kini mata mereka beradu tatap.


"Tentu saja, aku harus menjaga kesehatanku saat semua orang tidak peduli, saat semua orang berharap aku tetap hidup demi keuntungan mereka, dan saat semua orang berdoa agar kematianku disegerakan," sindir Anna dengan mulus.


Meihan membalas ungkapan itu tetap dengan senyuman yang memancarkan ketulusan tanpa celah sedikit pun. Dia kembali mengusap kepala Anna.


"Tenang saja, aku akan menjadi seseorang untuk kamu andalkan. Jangan takut dan cemas lagi," ucap manis Meihan yang membuat Anna hampir pingsan mendengarnya. Jantungnya pura-pura malu hingga detak yang terdengar luar biasa menderu.


Anna hampir tidak bisa bernafas sekaligus berkedip. Apa pria beraroma maskulin itu menyetujui permintaanya?

__ADS_1


__ADS_2