Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
21. Lipstik Ajaib


__ADS_3

"Apa aku perlu menanyakannya dan mempertegas perlakuannya tadi malam? Apa kita sudah sama-sama saling menyepakati perjanjian itu?" Ribuan tanya menyerang pikiran Anna.


Pagi itu sedikit lenggang. Jalanan kota yang biasa penuh sedang bergaya menunjukan panjang dan lebarnya. Masih terlalu pagi, di tengah jalan itu. Meihan sengaja mempercepat sedikit kecepatan mobil itu agar mereka segera sampai. Sejak mulut kecil Anna terakhir kali menggumamkan keinginannya untuk saling memegang cinta bersama, membuat perasaannya campur aduk tidak jelas. Meihan bahkan tidak berani menatap Anna sekarang. Apa yang dia lakukan kemarin malam itu hanya bentuk naluri dan terlaksana begitu saja.


"Oh yah, apa aku sudah terlihat cantik?" Anna mengernyitkan dahi dan refleks membuka tasnya mencari cermin ajaib pemberian Ibunya. Anna mengamati setiap inci wajahnya menggunakan cermin itu "Cantik saja tidak cukup, aku harus terlihat menggoda," gumamnya dalam hati sambil tersenyum licik. Tangannya kembali masuk mengacak-acak tas coklat kesayangannya untuk mencari benda ajaib yang dapat membuatnya terlihat sangat menggoda. Anna semakin tersenyum gila ketika mendapatkan benda yang bisa membuat bibirnya memesona itu, lipstik.


"Mampus kau Meihan. Aku memang jarang menggunakan ini tapi mari kita lihat seberapa ampuh kekuatan benda ini." Anna menyipitkan matanya menatap benda itu lekat-lekat, lalu membukanya dan mulai menggosokannya di bibirnya yang mungil.


Anna terlalu keasikan menggosok benda kecil itu di bibirnya sampai tidak sadar ada mobil yang sedang menyalip dengan cepat di depan mereka. Meihan sontak menginjak pedal rem untuk menghindari tabrakan. Syukurlah mobil yang dikendarai mereka berhasil menghindar dan tidak terjadi apa-apa.


"Sialan!" maki Meihan sambil berusaha mengendalikan laju mobil.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Meihan sembari berbalik ke arah Anna yang tertunduk.


Anna merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena hentakan tiba-tiba barusan, sementara Meihan menahan tawa melihat ke arahnya.


"Kamu habis minum darah siapa? Hahahha..." tanya Meihan mengejek sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ihh, kamu sih. Kenapa rem mendadak? Lipstikku..." rengek Anna sambil memungut patahan lipstiknya. Mukanya memelas tidak berdaya.


Ekspresi Anna sangat menggemaskan, dia seperti anak kecil yang dicuri permennya. Matanya membulat sedikit berbinar dan hampir berair. Mulutnya sedikit moncong membuat Meihan tak henti menatapnya. Padahal barusan dia menolak menatap wajah gadis itu. Hatinya benar-benar tidak menentu.


"Apa lihat-lihat?" bentak Anna sedikit emosi. Dia mengambil tisu dan menggosok bercak lipstik yang berantakan di sekitar mulutnya.


Meihan masih menatapnya, tatapannya semakin dalam dan tak terkendali.


"Apa?" bentak Anna lagi masih sambil menggosokan tisu di sekitar mulutnya.


"Bukan begitu cara membersihkannya." Meihan menarik tangan Anna.

__ADS_1


Anna mengedipkan matanya dengan cepat. Sesuatu yang lembut sedang menempel di bibirnya yang bernoda.


"Apa lipstik itu benar-benar ajaib?" Dia perlahan menutup matanya.


Meihan melepas dan sedikit menjauhkan bibirnya "Apa ini masih berbahaya? Bagaimana dengan traumamu?"


Anna tidak jadi menutup matanya. Dia bernafas pelan dan seperti menghirup kembali udara yang terlepas dari hidung Meihan.


"Semuanya sangat terkendali jika pria itu kamu. Itulah kenapa pernikahan ini, pernikahan pertama dan terakhir dalam hidupku. Trauma sialan itu...." Anna tidak melanjutkan kalimatnya, bibirnya sudah disekap dan dilahap mulut Meihan.


Semuanya memang sudah terkendali, sangat terkendali dan hampir menggila jika itu adalah kamu. Tentu saja detik ini masih sangat pagi. Hanya mentari yang menyaksikan di sana, di ufuk timur yang jauh.


Anna benar-benar menghayati kejadian itu seolah hal itu merupakan kali terakhir dia melakukannya. Merasakan air berlendir itu masuk keluar dari mulutnya. Merasakan bagaimna tubuhnya sedikit merinding namun hangat. Mencium Aroma maskulin yang membuatnya mabuk sampai hampir lupa diri. Anna sengaja memancing Meihan untuk lebih berani. Tentu saja Meihan menangkap sinyal itu. Dia mulai meninggalkan bekas kecupan di leher Anna yang wangi dan mulus. Semua yang Ibunya ajarkan mulai berguna. Anna tersenyum pelan dan sedikit mendorong dada Meihan yang menindihnya, padahal Meihan baru saja membuka beberapa kancing bajunya.


"Ada apa?" tanya Meihan dengan suara parau diiringi nafas berat.


"Kamu mau membuat macet di pagi hari? Masa kamu tidak dengar suara klakson itu?"


"Apa lagi?" tanyanya sedikit kesal.


Anna tersenyum pasif "Aku beda dengan dia, jangan samakan aku dengan wanita murahan yang dengan sukarela memberikan semuanya untukmu. Aku harus menyadarkanmu karena di hatimu ada tempat yang belum kosong." Dia mengancing kembali bajunya sambil mendorong sedikit kasar tubuh Meihan yang masih menindih dan membuatnya hampir tidak bisa bergerak.


Meihan terdiam dan mulai tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya.


"Aku memang cantik, wajar kamu melakukan itu. Aku juga sengaja memancingmu tapi aku masih waras. Aneh bukan? Aku masih memikirkan perassan wanita lain yang akan terluka jika tahu apa yang baru saja kau lakukan. Kenapa kamu begitu goyah? Apa memang cintamu untuk Kenda seremeh itu?"


Meihan lagi-lagi diam mematung. Dia pelan-pelan mulai memperbaiki posisinya, kembali ke posisi seharusnya. Apa yang sudah dia lakukan.


"Anna, maafkan aku. Aku...."

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf, hahaha. Aku menikmatinya," batin Anna berteriak. "Sudah kuduga, dia hanya melakukannya karena terpancing. Tidak ada cinta di sana. Bagaimanapun Kenda masih di hatinya menghalangi semuanya."


Hening.


Mereka kini diserang kebisuan. Adegannya terlalu cepat berubah hingga beginilah suasana yang terbentuk sekarang. Mereka saling sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Anna," panggil Meihan pelan memecah keheningan itu.


Anna sontak melihat ke arah Meihan.


"Jika itu maumu, aku akan mengusahakannya," ujar Meihan.


"Tidak perlu, aku hanya bercanda kemarin. Sudah menjadi kebiasaanku. Berucap tanpa alasan."


"Aku melakukannya bukan karena kasihan padamu atau penasaran. Aku hanya ingin mencoba. Sepuluh tahun aku bersama Kenda. Tidak salah jika aku keluar dari zona nyamanku lagi."


"Mencoba? Apa aku serendah itu?"


"Tidak. Tapi terserah bagaimana kamu ingin mengartikannya. Semenjak berpacaran dengan Kenda, aku tidak pernah sekalipun menatap istimewa gadis lain. Meski dia begitu memesona. Hanya saja...."


"Baiklah aku mengerti. Mari mencobanya. Aku harap kamu terjebak dan mulai menyadari satu hal itu. Bahwa kita memang sama-sama hanya tahu berjuang dan tidak sadar kalau kita lupa akan satu hal, cinta. Rupanya bukan hanya aku yang kehilangan rasa itu." Anna tersenyum damai, dia mulai mengerti kelemahan hubungan pria itu dengan gadis pujaannya.


Cinta. Emosi itu sesungguhnya terjebak dimana? Bagaimana cara menangkapnya? Cara melihatnya? Apa senikmat itu sampai-sampai pahit jika terlalu kecanduan? Kita hanya butuh cinta untuk melepas dan menghancurkan kewarasan seseorang.


Mobil Sedan mewah itu kini sudah kembali melaju ke tujuan awal. Matahari sudah sedikit meninggi namun bumi masih sejuk dan dingin. Anna sengaja membuka jendela agar angin datang dan menampar wajahnya yang mengantuk. Namun tidak berhasil. Kini Anna tertidur dengan nyaman.


"Kita bisa foto prawedingnya sekarang?" tanya seseorang sambil menenteng kamera, dia fotografer yang sudah menunggu Meihan dan Anna sejak pagi buta tadi di sana.


"Tunggu, calon istriku masih tidur." Meihan tersenyum geli, mendapati lidahnya mengucapkan kata yang tidak seharusnya diucapkan.

__ADS_1


Mata ini terpejam beberpa detik. Matamu mengatup tak melihat. Kau lupa, dia diam-diam menatapmu dengan lembut.


__ADS_2