Menikahi Bayangan Rupawan

Menikahi Bayangan Rupawan
5. Hubungan Rumit


__ADS_3

"Oh, rupanya kamu?!" teriaknya sambil melempari Anna juga dengan garamnya yang hampir habis.


"Iya! Aku! Apa aku perlu meminta maaf pada anak Ibu? Haruskah aku bersujud juga?" tanya Anna sedikit berteriak sambil tersenyum pahit.


"Kalian yang berdiri diatas tidak pernah tahu apa itu dasar cinta, apa salahnya...."


"KENAPA!" teriak Anna menyela pembicaraan wanita itu. "Kami memang hidup tidak mengenal cinta. Apa Ibu mau aku menceritakan bagaimana rasanya hidup seperti kami? Mau aku ceritakan dari mana? Sejak aku lahir? Atau dari awal mula aku berdiri di sini. Atau jikalau mau, aku ceritakan kisah bagaimana seorang Ibu mengorbankan hidupnya melayani puluhan pria dan menyuruh anak semata wayangnya menyaksikan semua itu, menatap tanpa berkedip? Atau mau aku ceritakan bagaimana Ayahku ditembak mati Ibuku sendiri tepat dihadapanku? Kisah mana yang menarik untuk didengar?" tanyanya dengan mata membelalak merah menantangnya.


Wanita itu terdiam. Kenda juga sudah mulai menghapus air matanya.


"Hidup kami dikontrol bukan atas kehendak kami. Aku dulu bahkan masih berumur 8 tahun tapi sudah menyimpan misi membalaskan dendam yang diemban kan untukku. Bukankah itu hidup yang sangat bahagia?"


Ibu Kenda hanya terdiam. Anna merasakan tanganya mulai gemetar. Untuk pertama kali baginya mengakui kisah yang sudah menjebaknya bertahun-tahun. Rasanya sedikit lega tapi juga menyakitkan. Tangannya semakin gemetar, nafasnya juga berburu untuk bernafas lebih cepat. Dia bahkan bisa mendengar kerja keras otot jantungnya yang berusaha mengontrol. Gadis itu mulai ketakutan. Pekik rintih Ibunya yang kesakitan mulai terdengar tanpa sumber yang jelas. Sebelum semuanya semakin parah untung saja Meihan sigap dan menyadari itu. Dia bangun dari sujudnya dan menggenggam tangan Anna yang terus bergetar hebat.


"Ayo pergi dari sini!" ajaknya.


Anna bahkan hampir tidak bisa jalan.


"Rafah," bisiknya pelan. Di saat seperti itu orang yang bisa menenangkannya hanyalah Rafah.


Meihan berusaha memapah tubuhnya dan memasukkannya kembali ke dalam mobil. Anna berusaha sekuat mungkin bersikap sadar dan mengontrol semuanya.


'Bagus nak, Ibu bangga padamu. Kamu harus melakukanya....'


'Anna...!'


"Stop! Hentikan!" Anna menutup telinga menggunakan jarinya. "STOP!"


Handphone-nya berdering, handphone Meihan juga ikut berdering secara bersamaan. Tampaknya mereka sudah membuat kedua belah pihak keluarga menunggu.


Meihan memegang kepalanya, dia bingung kini apa yang harus dilakukan. Bajunya sangat kotor juga kondisi Anna yang sedang kambuh. Dia nenar-benar bingung harus melakukan apa. Kini handphone-nya berdering kembali, panggilan dari Ayahnya, diiringi pesan masuk.


[Apa yang kalian lakukan di lingkungan kumuh itu? Kau bahkan ikut membawa Anna juga ke sana? Aku hancurkan keluarga itu kalau kamu tidak bisa menemukan solusi untuk menenangkan ketegangan di sini.]


Meihan terpaksa mengangkat panggilan masuk. Dia berdalih kalau sedang mengajak Anna makan di luar dan mereka keasikan sampai lupa waktu.

__ADS_1


Sementara Anna belum juga tenang, kondisinya bahkan semakin parah. Wajahnya semakin pucat dan dia hampir tidak sadarkan diri. Meihan langsung menancap gas dan keluar dari gang sempit itu. Tanpa pamit pada Kenda dan keluarganya.


Di rumah Anna kini situasinya sudah mulai terkendali. Rafah melihat ada yang tidak beres. Dia tahu Anna tidak mungkin mau makan di luar. Anna bahkan terlalu takut jalan di lingkungan asing. Dengan penuh rasa cemas, dia buru-buru mengambil handphone-nya dan menelpon Anna. Karena panggilannya tidak tersambung dia langsung mengalihkan dan malah menelpon Meihan.


Wajahnya pucat ketika mendengar penjelasan Meihan tentang kondisi Anna. Tanpa pikir panjang dia langsuang mengambil kunci mobil untuk segera menyusul mereka.


"Mau kemana kamu?" cegat Ibunya yang tidak setuju dia pergi begitu saja dari sana. Rafah tidak menjawab dan buru-buru pergi, tapi Ibunya berhasil menarik tangannya.


"Masih banyak tamu yang harus kamu sapa. Mereka orang penting dan tidak boleh diabaikan," ujarnya mengancam.


"Kalau Ibu mencegahku, Anna akan benar-benar meninggal kali ini. Rencana Ibu akan gagal total," ujarnya.


Wanita itu reflek melepas tangan anaknya.


"Kak!" panggil seorang gadis muda berusaha menyusulnya.


"Kesya! Rafah lagi ada urusan mendadak," teriaknya menghentikan langkah gadis itu.


"Aku tidak boleh ikut?"


Dengan kecepatan tinggi Rafah mengenderai mobilnya berharap masih bisa menyelamatkan Anna yang hampir diambang kematian.


Sementara Meihan masih kebingungan karena di pelataran rumah sakit sudah penuh dengan puluhan reporter yang ingin menginput berita tentang pernikahan mereka. Bahkan rumah sakit tidak bisa mengontrol privasi pasiennya. Meihan kalang kabut melihat Anna yang hampir tidak bernafas. Dia berusaha memompa dadanya beberapa kali namun nihil tidak menimbulkan reaksi lebih baik. Hal yang membuatnya semakin putus asa adalah nadi gadis hampir tidak terasa.


Kepalanya berputar keras mencari solusi. Jika dia berlari menembus awak media maka semuanya akan semakin kacau. Jika dia hanya diam saja maka gadis yang dipanggil Anna itu akan mati tepat di hadapannya. Untung saja Rafah datang tepat waktu bersama dokter pribadi yang biasa mengobati Anna.


"Dimana Anna?" tanya Rafah ngos-ngosan.


Meihan sigap dan langsung membuka mobilnya. Selang beberapa menit menegangkan kini Anna berhasil bernafas kembali. Mereka langsung meninggalkan tempat itu, sebelum para reporter mengetahui keberadaan mereka. Wajah Rafah memerah menahan emosi di sepanjang perjalanan.


Mereka akhirnya membawa Anna kembali ke apartemen elit rahasia Rafah. Sesampainya mereka di sana dan Meihan baru saja mau melangkah keluar dari mobil. Rafah langsung menyambutnya dengan tinjun bertubi-tubi ke wajah Meihan. Pertengkaran itu tidak dapat dihindari. Muka keduanya bahkan sampai babak belur. Untung saja petugas keamanan menghentikan mereka.


"Apa menjaganya begitu berat? Aku awalnya cukup percaya melihat aksi heroikmu terakhir kali. Kau sigap dan berhasil menyelamatkannya. Sekarang kau ingin membunuhnya?!" teriak Rafah yang masih dipegangi beberapa petugas keamanan.


Mulut Meihan mengatup rapat, hanya terdiam, badannya sudah cukup babak belur dipukuli Ayah Kenda tadi. Dia sudah tidak punya tenaga lagi bahkan hampir pingsan. Petugas keamanan memapah tubuhnya langsung memasukkannya ke apartemen.

__ADS_1


Rafah masih belum puas memberi pelajaran ke pria itu untung saja Anna sudah sedikit sadar dan mencegahnya pertengkaran berikutnya di dalam apartemen itu.


Kurang lebih 30 menit menunggu kondisi Anna untuk stabil. Kini mereka siap untuk pergi ke pertemuan keluarga.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Rafah khawatir dengan kondisi saudari tirinya itu.


Kondisi Anna memang belum terlalu stabil, dia hanya berusaha menguatkan diri. Menjadi lebih kuat sedikit lagi.


"Ann, kamu yakin baik-baik saja?" tanya Rafah lagi sambil mengamati wajah Anna yang masih terlihat pucat.


Anna tersenyum geli "kamu mau jadi suamiku?" godanya mengalihkan kekhawatiran adik tirinya itu.


Rafah nampak salah tingkah beberapa saat sebelum akhirnya mengubah wajahnya kembali menjadi datar.


"Kamu adalah pria yang paling aku percaya setelah Ayah," ujar Anna pelan lalu menyandarkan kepalanya di pundak Rafah.


Diam-diam Meihan memerhatikan mereka dan ada desiran aneh di hatinya ketika melihat itu. Anna begitu nyaman berada di samping Rafah. Kenapa bersamanya tidak? Dia lalu tersadar dan langsung menepis kalau itu adalah rasa cemburu. Dalam hatinya ada wanita hebat yang sedang bertahta di sana. Tapi melihat pengakuan sekaligus pembelaan Anna tadi di depan toko kusam itu sedikit mengubah cara pandangnya melihat gadis malang itu.


"Kenapa aku tidak bisa mengalahkan rasa percayamu terhadap Ayah? Dia itu pria brengsek," ucap Rafah lirih sekaligus pelan.


"Kata Ibu, aku akan menjadi anak yang paling bahagia di dunia ini karena lahir sebagai anak Ayah."


Hahahaha....


Rafah menahan tawanya yang terdengar pilu.


"Seberapa mirip aku denganya? Kamu selalu bilang kalau hampir lima puluh persen wajahku mirip dengannya." tanya Anna kemudian.


Rafah tidak menjawab itu, dia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum pahit. Pertanyaan itu terlalu menohok, dia bahkan tidak tahu bagaimana rupa Ayahnya. Mereka hanya disatukan demi status dan sengaja di acak menjadi labirin. Betapa ia sangat meragukan ikatan yang terjalin masing-masing pada pohon garis keturunan mereka, tidak terkecuali hubungan darah yang mengikat secara hukum antara dia dan gadis yang sedang terlelap di bahunya itu. Kalau memang darah lebih kental dari air, ah... semuanya terwakilkan dengan kalimat itu.


Mobil itu kini memasuki pelataran rumah megah milik keluarga Anna. Hari sudah mulai sore tapi di sana masih ramai saja. Orang-orang yang sedang berkerumun di pelataran rumah itu rela menunggu lama demi memperluas koneksi. Bagaimanapun dua keluarga yang menjadi tuan rumah adalah puncak atau bos atau raja yang mengontrol sistem perekonomian sekarang di negara itu.


Anna menarik nafas panjang, memperbaiki gaunnya dan keluar dari mobil itu.


Aku harus lebih kuat sedikit lagi.

__ADS_1


__ADS_2