
Reyhan yang melihat Hendra dan Nisa berbicara Sangat akrab , ia mulai cemburu dan wajahnya mulai memerah.
"dokter Hendra apa mau aku buatkan kopi" tanya nisa
"iya boleh" jawab Hendra cepat
Nisa pergi dari ruangan direktur dan mulai membuatkan kopi.
disisi lain reyhan semakin geram dengan Hendra yang sikapnya begitu manis kepada Nisa.
"Rey .... Nisa itu baik, cantik, cowok mana yang tidak menyukainya" ucap hendra memuji nisa
"aku tau itu " jawab reyhan dingin
"ya ampun, kapan sih Hendra ini pulang, aku sudah muak dengan kata katanya itu" gumam reyhan dalam hati
"Rey .... apakah Nisa sudah mempunyai kekasih" tanya Hendra
"kau datang kemari hanya menanyakan itu " jawab reyhan ketus
"hehehe .... dari mana kau tau" tanya Hendra heran
"kau menyukai Nisa? dia sudah mempunyai kekasih" jawab reyhan yang mengalihkan pembicaraan
"siapa" tanya hendra heran
"ak ....? kau tidak perlu tau itu" ucap reyhan dan memandang wajah Hendra dengan tidak suka
"aku tidak percaya" jawab Hendra dingin
"apa mungkin Rey juga menyukai Nisa " gumam Hendra dalam hati
"terserah .... kau mau percaya atau tidak" ucap reyhan dingin
disisi lain Nisa yang telah selesai membuat kopi , ia kembali keruangan direktur dan memberikannya kepada Hendra.
Hendra yang melihat Nisa memberikan kopi kepadanya langsung ia minum.
"Nisa apa ini buatan mu" tanya hendra
"iya, emang kenapa? apa tidak enak " tanya Nisa heran
"tidak .... ini sangat enak" ucap Hendra dan memberikan senyumannya.
Nisa yang mendengar perkataan Hendra pun ikut tersenyum.
"jangan memujinya" ucap reyhan ketus
Nisa yang melihat reaksi reyhan membuat dia binggung dan mengerutkan dahinya.
"apa tuan gerandong cemburu?" gumam Nisa dalam hati
"baiklah saya tinggal dulu, ada pekerjaan yang saya harus kerjaan" ucap Nisa dan hendak pergi dari reyhan dan Hendra
__ADS_1
"tunggu" panggil Hendra
"kenapa ya tuan" tanya Nisa heran
"Duduklah disini ,ada yang mau aku tanyakan" ucap dokter hendra dan menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
"tidak .... jangan duduk di sampingnya" ucap reyhan dingin
"kenapa emang gak boleh" tanya hendra heran
"tidak" jawab reyhan dingin
"yasudah, Nisa duduk disini" ucap hendra dan menyuruh Nisa duduk di tengah reyhan dan dia.
Nisa yang mendengar perkataan Hendra, dia menuruti kemauan Hendra dan duduk di sebelahan Hendra dan reyhan.
"emangnya tuan mau bertanya apa" tanya Nisa kepada Hendra
"apa kau sudah mempunyai kekasih?" tanya hendra dan memandang wajah nisa
"kekasih? aku rasa ti ...." ucap Nisa terpotong dan melihat wajah reyhan yang memegang tangannya
"maksudnya, dia sudah mempunyai kekasih " ucap reyhan dan memandang wajah Nisa
"aku tidak bertanya kepada mu, aku bertanya kepada Nisa" tutur hendra dan memandang wajah reyhan
"apa bedanya .... sama aja" jawab reyhan dingin
Nisa yang melihat perdebatan mereka berdua membuat dia binggung dan mengerutkan dahinya
"aku sudah bilang, aku ti ...." ucap Nisa terpotong dan melihat wajah reyhan yang menggenggam tangannya secara erat.
"ti .... apa? tanya Hendra binggung
"tidak apa-apa" jawab Nisa cengengesan dan memandang wajah reyhan
Hendra yang melihat tingkah laku Nisa yang berbicara tidak jelas membuat ia binggung.
"Ndra .... apa kau tidak mempunyai pasien, sampai kau harus bertanya tentang kepribadian Nisa" tanya reyhan ketus
"hari ini aku tidak mempunyai pasien, lagian Nisa tidak marah aku menanyakan tentang kepribadiannya, dan kau Rey .... kenapa kau yang marah" tanya hendra heran
"tuan gerandong dan tuan Hendra kenapa ya?" gumam Nisa lirih dan memandang wajah reyhan dan Hendra bergantian.
"siapa yang marah,lebih baik kau kerumah sakit sana" ucap reyhan dingin
" iya .... Lagian aku kesini hanya menanyakan itu Kepada Nisa" jawab Hendra dan memandang wajah nisa
"baiklah Nisa aku pergi dulu" ucap hendra dan mengelus rambut Nisa dan pergi dari ruangan direktur
Nisa yang mendapatkan perilaku romantis dari Hendra ,ia membulatkan kedua matanya dan berdiri seperti patung.
Reyhan yang melihat perilaku Hendra kepada Nisa membuat ia geram dan melepas genggaman tangannya dan pergi ke kursi kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Nisa yang melihat tingkah laku reyhan berubah membuat dia binggung dan mendekati reyhan yang sedang fokus ke dokumen
"apa dia benar-benar cemburu" gumam Nisa dalam hati dan memandangi wajah reyhan
Nisa yang ingin berbicara kepada reyhan tiba-tiba kia masuk dan mendorong Nisa untuk menjauh dari reyhan.
"jangan sesekali kau ingin mendekati tuan reyhan" bisik kia dan menatap tajam Nisa, tapi Nisa tidak menggubrisnya sama sekali, dia tetap melihat wajah reyhan dan berfikir bagaimana cara untuk memujuk reyhan.
"tuan .... apa mau aku pijitin lagi" tanya kia dengan suara manjanya, dia sekilas memandang wajah Nisa dengan senyuman liciknya.
"hmmm .... "
Nisa yang melihat tingkah laku reyhan yang benar-benar berubah membuat dia cemburu dengan sikap dia kepada kia, ia lebih memilih kembali dan membereskan dokumen-dokumen berserak yang sempat ia rapikan.
kia yang berhasil untuk mendekati reyhan membuat dia senang ,ia memijitkan kepala reyhan Sangat lembut.
disisi lain reyhan yang fokus melihat dokumen ia sekilas melihat wajah Nisa yang cemberut dan menyusun dokumen secara asal ,dia merasa bersalah karena sudah mengabaikan Nisa begitu saja.
"kia sekarang keluarlah" perintah reyhan kepada kia dengan nada yang dingin.
"tapi tuan .... pijitannya kan belum selesai" ucap kia dengan suara manjanya
"aku bilang keluar" ucap reyhan tegas
kia yang mendengar perkataan reyhan, ia menghentakkan kakinya dan pergi dari ruangan direktur
Reyhan yang melihat kia sudah pergi dari ruangan dia berdiri dari kursinya dan mendekati Nisa yang membereskan dokumen.
"apa kau marah" tanya reyhan dan membantu Nisa merapikan dokumen yang Nisa salah letak.
"tidak? tuan .... lebih baik tuan kembalilah ke meja kerja mu tuan, ini adalah tugasku" ucap nisa dingin dan tidak memandang wajah reyhan sama sekali.
"apa Mak Lampir ini memang betul-betul marah" tanya reyhan dan menahan tertawanya
"tidak?"
"ayolah Mak lampir, waktumu balas dendam dan marah itu malam bukan siang, Waktunya siang Mak lampir itu selalu ngoceh" tutur reyhan dan menggoda Nisa
"balas dendam apa? lagian aku bukan memang betul-betul Mak lampir, tuan saja yang memberi aku gelaran ini. orang tuaku saja susah-susah mencari nama untuk ku dan kau tuan enak saja memanggil ku Mak lampir ,kadang gadis bodoh juga" gerutu Nisa yang tidak ada habisnya
Reyhan yang melihat Nisa mulai ngoceh dan menggurutu membuat dia gemas dan mencubit kedua pipi nisa, tapi Nisa tidak menggubrisnya sama sekali.
"kau marah aku memanggil mu Mak lampir? baiklah kita ganti saja", ucap reyhan dan berfikir nama yang cocok untuk Nisa
Nisa yang mendengar perkataan reyhan dia menghentikan membereskan dokumen dan memandang wajah reyhan.
_
_
_
_
__ADS_1
bersambung,,,,,,,