
Pagi-pagi sekali Zea sudah bangun dan buru-buru pergi, bahkan dia melewatkan sarapan bersama keluarga Daniswara.
Di meja makan sudah ada Mona yang tengah menata makanan di piring.
"Aku pergi, ya, Tan." Zea pamit.
"Nggak sarapan dulu, Ze?" tanya Mona.
"Nanti sarapan di luar aja, Tan. Aku buru-buru." sahut Zea yang bergegas keluar karena taksi online yang dia pesan sudah berada di depan rumah.
Mona memandang kepergian Zea dengan raut wajah bingung. "Dia kenapa? Nggak biasanya gitu."
"Selamat pagi, Sayang." sapa Roni yang langsung duduk di kursi kebebasannya.
"Selamat pagi."
"Ada apa?" tanya Roni demi melihat wajah bingung Mona.
"Aku heran aja, Zea buru-buru pergi, bahkan dia nggak sarapan. Dia kenapa ya? Aku jadi khawatir."
Rey yang baru saja turun terkejut mendengar ucapan sang Mama, dia bisa menebak ini pasti ada kaitannya dengan kejadian di restoran kemarin.
"Aku pergi dulu." ujar Rey yang bergegas melangkah keluar rumah.
"Nggak sarapan dulu, Rey?"
"Nggak!"
"Anak muda sekarang memang membingungkan." ucap Roni.
__ADS_1
Mona hanya menghela nafas melihat tingkah dua muda-mudi itu, tapi dia yakin pasti ada sesuatu.
***
Di suatu tempat Zea telah menanti kedatangan Vano, saat di dalam perjalanan tadi, Zea menghubungi Vano agar menjumpainya di tempat itu. Kebetulan Vano dapat shift malam hari ini.
Saat ini Zea benar-benar tidak berselera untuk masuk kuliah, dia masih kesal atas kejadian di restoran itu dan yang paling utama, dia malas bertemu dengan Rey.
"Hai, Ze ...! Kamu kenapa?" tanya Vano, dia khawatir karena tiba-tiba Zea mengajaknya bertemu sepagi ini.
Vano yang baru pulang dari rumah sakit belum sempat singgah ke rumah untuk mandi atau pun tidur, dia buru-buru menghampiri Zea.
Zea hanya menatap Vano, tampak sudut matanya mulai basa lalu dengan cepat air matanya meluncur turun.
"Ada apa? Kamu kenapa menangis? Cerita sama aku!" Vano semakin khawatir dan langsung mendekap gadis itu.
Perlahan-lahan Zea mulai menceritakan kejadian di restoran kemaren, dia merasa sangat malu dan sakit hati karena diperlakukan seperti itu di depan umum.
"Berengsek!! Ini semua gara-gara si pecundang itu. Aku akan membuat kau menyesal." batin Vano geram.
Tiba-tiba ponsel Zea berdering nyaring, ada panggilan masuk dari nomor baru. Tapi Zea enggan menjawabnya, dia hanya meletakkan ponselnya yang terus berdering itu di atas meja.
Vano curiga dengan si penelpon, dengan cepat dia menyalin nomor yang tertera di layar ponsel Zea tanpa sepengetahuan gadis itu.
Lalu tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Zea dari nomor yang sama.
"Ini Rey, kenapa tidak diangkat? Kamu dimana?"
Zea hanya membaca pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya.
__ADS_1
Pesan kedua pun masuk lagi.
"Kenapa kamu tidak masuk kuliah? Kamu dimana?"
Lagi-lagi Zea hanya membaca pesan itu, lalu mematikan ponselnya dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada Vano.
Melihat situasi ini, Vano menemukan ide licik untuk membalas Rey. Diam-diam Vano membuat foto selfie dengan Zea yang masih berada di dekapannya, lalu mengirimkan foto itu ke Rey melalui ponselnya.
Senyum kemenangan tersungging di bibirnya saat panggilan dari Rey masuk. Vano tidak menjawabnya, lalu dia pun ikut mematikan ponselnya.
***
Sebelumnya, Rey yang sudah tiba di kampus, buru-buru mencari keberadaan Zea, bertanya kepada beberapa mahasiswa termasuk Keanu, tapi tidak ada yang melihat gadis itu.
Mahasiswa-mahasiswa yang melihat tingkah dosen mereka ini menjadi semakin penasaran, ada apa antara Zea dan dosen tampan ini?
Rey menatap ponselnya yang tertera nomor dengan ID "my future wife", lalu mencoba menghubunginya.
Rey sudah sangat lama menyimpan nomor Zea, tapi dia tak pernah berani untuk menghubungi gadis itu. Mungkin inilah saatnya. Sementara Zea sama sekali tidak pernah menyimpan nomor telpon Rey di ponselnya.
Panggilan dari Rey tak satupun dijawab oleh Zea, Rey mengirim pesan menanyakan keberadaan gadis itu, tapi tetap tidak ada balasan.
Rey sangat frustasi dengan situasi ini, beberapa kali dia mendengus kesal. Dia tau Zea pasti masih marah padanya, karena sejak pulang dari restoran kemaren, Zea bahkan tak mau menatapnya.
Lalu tiba-tiba pesan dari nomor baru masuk, seketika emosi pria tampan ini naik ke ubun-ubun saat malihat foto Vano mendekap Zea.
Rey langsung menghungungi Zea, tapi ponselnya tidak aktif. Lalu dia menghubungi Vano tapi tidak dijawab, membuat Rey menggila.
"Aaarrggh, berengsek!!!"
__ADS_1
***