Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Drama Pagi Hari


__ADS_3

Cahaya mentari pagi mulai menembus masuk melalui jendela kamar, Zea terbangun dari tidurnya, mengumpulkan kesadaran dan meregangkan otot-ototnya. Tidurnya sangat nyenyak malam tadi.


Saat kesadarannya telah terkumpul sempurna, Zea menoleh kesamping kirinya dan mendapati Rey yang masih tertidur.


"Astaga ...! Aku ketiduran tadi malam, aku lupa kalau sudah menikah dengannya."


Perlahan Zea turun dari ranjangnya dan berniat untuk mandi, tapi matanya membulat sempurna saat melihat bercak darah di seprainya.


"Apa ini? Apa dia melakukannya saat aku tidur?"


Zea sontak mendekati Rey dan membangunkannya. "Bangun!!"


Teriakan Zea membuat Rey kaget dan langsung tersentak bangun dari tidurnya.


"Ada apa?" tanya Rey bingung.


"Kamu melakukannya saat aku tidur, kan?" tuduh Zea.


Rey mengernyit heran. "Melakukan apa?"


Zea menunjukkan bercak darah di seprainya, "Lihat ini, kamu memperkosaku di saat aku tidur!"


Rey langsung mengerti apa maksud Zea, dan sontak tertawa, "Menurutmu apa mungkin aku melakukannya, sementara kamu masih berpakaian lengkap begitu?"


Zea memandangi tubuhnya yang masih terbalut piyama dengan utuh, lalu dengan cepat dia tersadar bahwa tuduhannya kepada Rey tidaklah benar.


"Lalu ini darah apa?"


"Entahlah, mungkin kamu digigit drakula." Ray menjawab sekenanya lalu membaringkan kembali tubuhnya.


Zea masih berusaha berpikir keras, lalu matanya terbelalak saat dia teringat sesuatu. "Apa jangan-jangan aku haid?"

__ADS_1


Zea bergegas lari ke kamar mandi untuk memastikan.


Rey geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu. "Pagi-pagi sudah drama, buat panik saja."


Setelah selesai, Zea keluar dengan perasaan malu.


"Iya, benar. Aku haid." ujar Zea meskipun Rey tidak bertanya apa-apa.


"Lain kali cek dulu kebenarannya, jangan asal tuduh saja."


"Iya. Aku minta maaf."


"Aku juga nggak akan menyentuhmu, kalau kamu tidak mengizinkan!"


Zea hanya tertunduk malu dan merasa bersalah.


"Ya sudah, aku mau mandi dulu."


Rey beranjak dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


***


Setelah drama singkat yang terjadi di kamar pengantin baru, kini mereka sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Tapi Vano tak terlihat disana, membuat Zea bertanya-tanya.


"Kak Vano mana, Ma?"


"Dia nggak pulang semalam, mungkin menginap di rumah Lisa." jawab Sandra.


Lalu tiba-tiba sosok yang dibicarakan muncul dari pintu utama, Vano berjalan gontai dengan penampilan kacau balau. Dia meremas pelan tengkuknya yang terasa kaku, kepalanya masih terasa pusing tapi dia tetap memaksakan diri untuk pulang dan meninggalkan apartemen temannya.


"Kamu darimana, Van?" cecar Adam.

__ADS_1


"Dari rumah teman, Om! Ada acara."


"Mari sarapan dulu!" Ajak Sandra


"Aku udah sarapan, Tante! Aku ke kamar dulu!" balas Vano, dia melanjutkan langkahnya melewati meja makan.


Di kamarnya, Vano segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya, wajah Zea masih bergentayangan di pikirannya. Dia sontak membuka mata dan beranjak kemudian masuk ke kamar mandi.


Vano memandangi pantulan dirinya di cermin, dia semakin merasa kesal pada takdir hidupnya. Sejenak bayangan wajah Zea kembali mengusiknya, begitu juga wajah Rey. Membuat emosi Vano naik sampai ke ubun-ubun.


"Aaaaaaarrrgghh....." Vano berteriak dan meninju cermin di kamar mandinya hingga pecah menjadi beberapa bagian, tangannya berdarah hingga menetes dilantai dan wastafel.


Tak ada yg mendengar teriakan Vano ataupun suara pecahan cermin karena jarak kamar Vano yg dilantai 2 dengan ruang makan sangat jauh, Vano hanya terdiam merasakan sakit di tangannya yang terluka dan juga sakit dihatinya karena harus merelakan gadis yang dia cintai menikah dengan orang lain.


Sementara diruang makan, mereka masih melanjutkan sarapannya.


"Ze, tadi kamu ngapain ke ruang cuci? Tumben! " tanya Sandra.


"Cuci seprai, Ma! Tadi terkena darah haidku." sahut Zea.


"Kamu haid?" tanya Sandra lagi.


Zea mengangguk.


"Wah.... Kasihan dong, Rey!" ledek Adam.


Kata-Kata Adam membuat Rey tersedak dan terbatuk-batuk, Zea segera memberikan minum untuk suaminya itu.


"Papa ...! Jangan begitu, dong! Nanti mereka malu." tegur Sandra.


"Maaf, Om cuma bercanda!"

__ADS_1


Rey hanya menyunggingkan senyum.


***


__ADS_2