Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Flashback: Selamat Datang Ruby.


__ADS_3

Roni dan Mona berlari menuju ruangan Anna, saat membuka pintu ruangannya, Roni dan Mona terperangah tak percaya melihat tubuh lemah Anna yang terbaring tak sadarkan diri dengan kaki dan tangan terikat ke pinggiran ranjang rumah sakit.


"Ada apa, Dok? Kenapa dia diikat?" tanya Roni.


"Maaf, Pak! Kami terpaksa mengikat pasien karena tadi pasien mengamuk lagi dan berusaha kabur, kami takut terjadi sesuatu dengan kandungannya." jawab dokter wanita yang bernama Vira.


"Ya, Tuhan! Sudah seminggu dia seperti ini, apa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya?" Roni menatap Dokter itu penuh harap.


"Kami sudah memeriksa kejiwaannya dan melakukan beberapa tes dengan psikolog, pasien menderita depresi berat. Kami akan memberi obat kepada pasien dan akan mencoba pengobatan dengan Psikoterapi, kalau tidak ada perubahan baru kami lanjutkan dengan Terapi Elektrokovulsif, mudah-mudahan cara ini berhasil menghilangkan depresi pasien." ujar Dokter Vira seraya menatap wajah pucat Anna yang sedang terlelap karena pengaruh obat penenang.


Roni menarik napas dalam, lalu menghelanya pelan, "Lakukan saja yang terbaik, apa pun itu!"


"Tapi kami akan melakukan operasi untuk mengambil bayi di rahimnya dulu, baru pengobatan bisa kita lakukan dengan maksimal. Karena kondisi pasien yang tidak stabil bisa membahayakan bayinya, apalagi pemberian obat penenang bisa mempengaruhi perkembangan janin. Lagipula usia kandungannya juga sudah cukup." Dokter Vira melanjutkan penjelasannya dengan raut wajah khawatir.


"Iya, silahkan, Dok!" Roni hanya pasrah.


"Baiklah kami membutuhkan tanda tangan dari wali pasien untuk proses operasi, mungkin saudaranya ada?" Dokter Vira menyodorkan selembar kertas.


Roni dan Mona saling pandang, mereka bingung harus mencari saudara Anna kemana, sedangkan yang datang ke pemakaman sudah kembali ke kampung.


"Saudaranya tidak ada disini, bisakah sa ..." Kata-kata Roni terputus saat suara seorang wanita mengagetkannya.


"Saya Kakak kandung pasien, saya yang akan menjadi walinya!" Wanita muda itu melangkah masuk ke ruangan Anna dan langsung mengambil kertas yang dipegang Dokter lalu menandatanganinya.


"Baiklah, kami akan mempersiapkan operasinya setelah kondisinya stabil dan bebas dari efek obat penenang. Saya permisi!" lanjut Dokter Vira dan segera pergi.


"Saya Alisa, panggil saja Lisa! Saya satu-satunya keluarga kandung Anna yang masih ada. Maaf saya baru bisa datang semalam." Wanita yang bernama Lisa itu mengulurkan tangannya ke hadapan Roni dan Mona.


"Saya Roni, dan ini istri saya Mona! Syukurlah kamu sudah di sini." Roni menjabat uluran tangan Lisa.


Mona tersenyum dan menjabat tangan Lisa.

__ADS_1


"Oh, ini Pak Roni dan Nyonya Mona? Senang bisa berkenalan dengan Anda berdua, Anna banyak cerita tentang majikan suaminya yang baik hati." Lisa tersenyum memandang Roni dan Mona bergantian.


Mendengar kata-kata Lisa, membuat Roni dan Mona tersipu malu. Suasana akrab pun seketika tercipta di antara mereka.


***


Roni, Mona dan Lisa yang sedang berada di ruang tunggu tersentak saat mendengar tangisan seorang bayi yang begitu melengking.


Tawa mengembang menghiasi bibir mereka saat seorang perawat keluar membawa malaikat kecil yang dibalut kain putih itu, bahkan tangis haru Mona dan Lisa tak bisa dibendung lagi.


"Bayinya perempuan ya, Pak! Saya akan bawa ke ruangan bayi dulu untuk dibersihkan." Perawat berlalu membawa bayi mungil itu.


Mona dan Lisa mengikuti langkah perawat dengan cepat, tapi Roni memilih tinggal di ruang tunggu untuk menanti kabar Anna.


Di ruangan bayi, Mona dan Lisa bergantian menggendong bayi lucu yang sudah dibersihkan itu. Sudah 7 tahun Mona tidak pernah menggendong bayi lagi, sedangkan Lisa yang belum pernah menikah, terakhir kali menggendong Rekha yang masih bayi.


"Ih ... gemes banget sih kamu." Mona menciumi pipi mulus bayi itu.


Mona terlihat sedang berpikir, "Hemm ... siapa, ya? Oh ... kita beri nama Ruby aja, batu indah yang berharga."


"Bagus juga, terus di belakannya kita tambahin nama Bundanya ... Adrianna. Jadi Ruby Adrianna, cocokkan?" Lisa tertawa meminta persetujuan Mona.


Mona pun ikut tertawa dan menciumi bayi yang menggemaskan itu, "Cocok banget! Hai ... Ruby Adrianna, selamat datang di dunia ini, Sayang."


***


Ruang perawatan Anna sudah ramai dikunjungi Sandra dan Adam, ada Roni dan Mona juga serta tak ketinggalan Lisa yang selalu setia menemani Anna.


Mereka sengaja tidak mengajak Zea, Rey terutama Rekha karena tak ingin bocah itu melihat kondisi Ibunya yang memprihatinkan.


Sudah 4 hari sejak Ruby lahir ke dunia, Anna hanya berdiam diri tanpa bicara sepatah katapun, bahkan dia menolak untuk menyusui putrinya itu.

__ADS_1


Sesekali dia menangis tersedu-sedu, lalu tersenyum menatap langit-langit ruang perawatannya.


Roni dan Lisa semakin khawatir dengan kondisi Anna, ternyata kematian Martin membuat Anna benar-benar terpukul dan kehilangan akal sehatnya. Roni semakin merasa bersalah melihat keadaan Anna yang demikian.


"Lusa kita akan coba Psikoterapinya, mudah-mudahan ada perkembangan." Dokter Vira menatap cemas kepada Anna.


"Iya, lakukan yang terbaik, Dok! Saya mohon!" Roni memandang Dokter Vira dengan penuh harap.


"Kami akan usahakan yang terbaik, Pak!" balas dokter Vira.


***


Dua minggu berlalu, keadaan Anna belum ada perkembangan, malah semakin parah, dia sering berteriak dan menangis sejadi-jadinya, bahkan dia pernah berusaha untuk melompat dari balkon rumah sakit saat melihat seorang pria berjalan di bawah sana, dia berteriak memanggil nama suaminya. Untung saja petugas rumah sakit cepat bertindak menyelamatkannya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, kaki dan tangan Anna diikat agar dia tidak melakukan hal mengerikan lagi. Lisa selalu setia menemani adiknya itu setiap waktu, dia nggak pernah meninggalkan Anna.


Sementara Ruby sudah tinggal di rumah Roni, Mona mengurusnya dengan senang hati, karena Mona sangat menginginkan seorang putri, bahkan Mona berencana untuk mengadopsi Ruby kalau saja Anna tidak bisa disembuhkan.


Rekha terlihat sangat bahagia karena adiknya telah lahir, dia seolah memiliki teman baru. Rekha menjaga adiknya dengan baik, seperti pesan Ayahnya dulu.


Tapi bocah kecil itu sering merasa sedih jika dia teringat Ayah dan Bundanya, sering dia bertanya kemana Bundanya. Tapi Mona dan Roni memberi alasan bahwa Bundanya sedang bekerja.


Tapi bagaimana dengan Rey?


Dia selalu menatap sinis kedua kakak beradik yang sedang mencuri perhatian Mama dan Papanya. Mungkin dia merasa cemburu atau takut tersaingi oleh mereka berdua.


Walau sejujurnya, dia sangat ingin mencium Ruby kecil yang lucu itu, tapi rasa egois dan dinginnya lebih besar dari keinginan hatinya.


Jadilah dia hanya memandang mereka dari jauh tanpa mau mendekat.


***

__ADS_1


__ADS_2