Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Hadapi Bersama part 1


__ADS_3

Zea duduk melamun di tepi kolam renang rumahnya, dia mencoba mencerna semua kejadian ini, rasa sedih dan bingung bercampur jadi satu di benaknya.


Vano yang melihat Zea duduk sendiri, segera menghampiri gadis itu.


"Eh ... ada mermaid cantik di tepi kolam! Tapi kok masih ada kakinya?" seloroh Vano sambil menunjuk kaki Zea yang terjulur ke dalam air.


Zea hanya memandang malas ke arah Vano, tanpa menjawab candaan pria itu. Dia masih kesal terhadapnya.


"Kamu kenapa sendirian disini? Sudah malam, entar masuk angin." Vano ikut duduk di sisi Zea.


"Aku lagi berpikir, Kak. Kenapa Rey tiba-tiba membatalkan pernikahan kami?" ujar Zea sambil melirik Vano.


Sesaat Vano terdiam, lalu menjawab pertanyaan Zea. "Itu karena dia nggak benar-benar mencintaimu."


"Hemm ... atau mungkin dia ada alasan lain? Misalnya dia sedang memilih untuk menyelamatkan sesuatu?" tebak Zea.


"Kenapa kamu berpikiran begitu?"


Zea menggeleng. "Nggak tahu, Kak. Tiba-tiba aku terpikir seperti itu."


Vano bergeming dan menatap Zea curiga.


"Apa si pecundang itu sudah memberitahukannya kepada Zea?" batin Vano.


***


Malam ini Roni memaksa Rey untuk ikut ke kediaman Danadyaksa, Roni ingin membicarakan perihal pernikahan Rey dan Zea. Roni tak ingin hubungannya dengan Adam menjadi tidak baik karena hal ini.


Rey hanya pasrah mengikuti perintah sang Papa, apapun yang akan terjadi nanti, dia harus siap untuk menghadapinya.


Ketika tiba, Adam dan Mona menyambut hangat kedatangan Roni dan keluarganya, Rey hanya tertunduk dengan perasaan campur aduk.


Semua berkumpul di ruang keluarga, tapi tak tampak Zea juga Vano.


"Zea ke mana, San? Kok nggak kelihatan?" tanya Mona.

__ADS_1


"Oh ... tadi sih aku lihat di dekat kolam renang, sebentar aku panggilkan."


"Biar saya saja yang panggil, Tan!"


Mendengar itu, semua orang saling pandang.


Sandra hanya mengangguk dan tersenyum.


Rey berjalan menuju kolam renang, tapi langkahnya terhenti saat melihat Zea dan Vano yang sedang duduk berdua di tepi kolam.


Rey mendengus kesal dan memandang tajam ke arah mereka.


"Eheeemm ...!" Rey berdehem.


Zea dan Vano sontak menoleh ke arahnya.


Zea terkejut melihat kedatangan Rey. "Kamu?"


"Mau apa lagi kau? Bukankah pernikahan kalian sudah batal?" sergah Vano yang menatap sinis kearah Rey.


"Kamu dipanggil!" sahut Rey, lalu berbalik dan hendak pergi tanpa memedulikan ucapan Vano.


Rey menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis itu.


Vano memandang heran kepada Zea, tapi gadis cantik itu hanya mengisyaratkan dengan matanya agar Vano meninggalkan mereka berdua saja.


Seolah mengerti maksud tatapan Zea, Vano pun pergi meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan kesal. Bahkan pria hitam manis itu sengaja menabrak bahu Rey dan melirik sinis dosen dingin itu. Tapi Rey enggan menanggapi kelakuan Vano, walaupun hatinya juga merasa geram.


Setelah Vano benar-benar menjauh dari mereka, Zea mulai mendekati Rey, lalu memeluknya, membuat pria itu terkejut bukan main. Tapi dia tidak membalas pelukan Zea.


"Katakan yang sejujurnya, kenapa kamu membatalkan pernikahan kita?" desak Zea.


Rey terdiam, memejamkan matanya dengan kuat, dia bingung harus mengatakan apa.


"Katakan, Rey!"

__ADS_1


"Karena aku nggak ingin memilikimu, agar aku nggak pernah merasa kehilanganmu." dalih Rey, walaupun klise tapi terdengar pilu.


"Benarkah? Kamu yakin bisa melupakanku?" Zea semakin mengeratkan pelukannya, membuat jantung Ray semakin berdebar tak karuan.


"Aku nggak mungkin bisa melupakanmu, tapi aku akan belajar melepaskan mu. Mungkin bisa memilikimu hanyalah sebuah mimpi." sahut Rey.


"Kalau begitu, tetaplah bersamaku hingga kita benar-benar mampu berdiri untuk mewujudkan mimpi itu." balas Zea. Dia masih memeluk erat tubuh Rey, merasakan detak jantungnya yang berdentam tak karuan.


Sementara Rey hanya terdiam, berusaha mencerna situasi ini.


"Disaat kita dihadapkan dengan sebuah pilihan, terkadang kita butuh seseorang untuk menemani langkah kita. Kenapa kamu tidak jujur kepadaku, agar aku bisa membantumu melalui semua ini." lanjut Zea.


Mendengar kata-kata Zea, Rey sontak melepaskan pelukan wanita itu dan menatapnya. "Apa maksudmu?"


"Aku tahu apa yang membuatmu membatalkan pernikahan kita, karena Kak Vano mengancam mu dengan rekaman video itu, kan?"


Wajah Ray berubah bingung, dia sangat kaget mendengar penuturan Zea. "Darimana kamu tau?"


"Dari ponsel kamu!" jawab Zea.


Rey terkesiap. "Maksud kamu?"


"Kemarin sepulang dari restoran, aku ke toko servis handphone dan aku memperbaiki ponsel kamu. Syukurlah masih bisa diperbaiki dan filenya masih utuh." ungkap Zea. "Dan aku nggak sengaja melihat pesan dari Kak Vano, juga rekaman itu."


"Jadi kamu sudah tahu semuanya?"


Zea mengangguk. "Iya, aku juga kenal dengan gadis di video itu, dia mahasiswi di kampus kita juga."


"Benarkah?"


Zea kembali mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan membantu kamu mencari tahu kebenarannya dan kita akan hadapi semua bersama. Sementara ini biar jadi rahasia kita berdua saja."


Rey spontan memeluk erat tubuh Zea, seolah nggak ingin melepaskannya lagi. Hatinya sangat bahagia, menikmati kehangatan dan kenyamanan yang selama ini dia impikan. Gadis itu pun membalas pelukan Rey, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

__ADS_1


Sandra yang baru datang untuk memanggil mereka, tersenyum melihat dua orang yang sedang berpelukan itu.


***


__ADS_2