Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Cemburu Part 1.


__ADS_3

Perut Vano terasa sangat lapar, karena sebenarnya dia belum makan dari tadi malam, hingga mengharuskannya untuk turun dan mencari makanan di dapur.


Saat tiba di depan pintu dapur, Vano tersentak kaget melihat Zea juga berada disana, dia sebenarnya ingin menghindar tapi tatapan mata Zea sudah lebih dulu menangkap sosoknya.


"Kak Vano? Sedang apa di sini?"


"Aku agak lapar, mau cari makanan."


"Tapi belum ada makanan, Kakak mau aku buatkan sesuatu?"


"Tidak usah!" Vano berbalik dan hendak melangkah pergi, namun Zea menahan tangannya, membuat Vano meringis kesakitan.


Vano segera menarik tangannya, sebelum Zea melihat lukanya. Tapi sudah terlambat, karena Zea terlanjur melihat luka itu.


"Tangan Kak Vano kenapa?" tanya Zea cemas.


"Ah... nggak apa apa, cuma luka kecil!"


"Luka separah itu, Kakak bilang hanya luka kecil?"


Vano bergeming.


"Mari aku obati, agar nggak infeksi!"


Zea menarik Vano ke ruang makan.


"Kakak tunggu di sini! Aku ambil kotak P3K dulu." pinta Zea, lalu bergegas mencari kotak yang berisi obat-obatan itu.


Vano hanya pasrah mengikuti perintah Zea.


Tak berapa lama, Zea kembali dengan air hangat dan handuk kecil serta kotak P3K. Pertama dia membersihkan luka di tangan Vano dengan air hangat dan handuk kecil, Vano hanya menatap Zea tanpa bicara sepatah katapun.


"Kakak kenapa sih? Apa yang terjadi sampai tangan Kakak terluka begini?"

__ADS_1


"Nggak ada apa apa! Cuma kecelakaan kecil saja, kok!" sahut Vano, dia masih terus memandangi wajah cantik Zea.


Setelah membersihkan lukanya, Zea pun mengoleskan obat.


"Sudah....! Aku sudah mengobati luka di tangan Kakak. Sekarang coba aku periksa luka yang ini." ujar Zea sembari menunjuk pelipis Vano.


Lagi-lagi Vano hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Zea, dari dulu dia selalu sulit menolak kemauan Zea, hingga membuat gadis itu begitu menyayanginya.


Zea membuka perban itu dengan sangat perlahan, luka di pelipis Vano sudah mulai mengering. Dengan hati-hati Zea mengoleskan obat di luka itu.


Jarak antara wajah Vano dan Zea sangat dekat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain, membuat jantung Vano berdebar kencang.


"Selesai!" seru Zea dan langsung menjauh dari Vano.


"Terima kasih ya, Ze!"


Zea hanya membalasnya dengan senyuman.


Tanpa mereka sadari, dari atas tangga Rey sedang memandang mereka dengan tatapan tajam. Dia merasa cemburu.


Zea bingung melihat tingkah suaminya itu, dia pun bergegas menyusulnya, meninggalkan Vano yang terdiam memandangi kepergiannya.


***


Zea masuk ke kamar, tampak Rey sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Zea pun segera menghampiri suaminya itu dan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa, sih?"


"Nanti sore kita pulang ke rumahku. Kemas barang-barang kamu!" pinta Rey tegas.


"Kenapa terburu-buru? Apa tidak bisa kita lebih lama lagi di sini?" protes Zea.


Rey menghela napas, lalu menutup laptopnya dengan kuat, membuat Zea terkejut.

__ADS_1


"Aku suamimu, jadi turutin aku!" ucap Rey dingin. Dia kemudian beranjak lalu keluar dari kamar, meninggalkan Zea yang terdiam.


Saat di tangga, Rey berpapasan dengan Vano. Keduanya saling melempar tatapan tajam.


"Aku tahu kau menyukainya, tapi sadarlah, dia istriku!" ujar Rey sinis.


"Lalu kenapa kalau dia istrimu?"


"Jangan berusaha mendekatinya apalagi menyentuhnya, atau kau akan menyesal!" ancam Rey.


Vano tersenyum sinis. "Kau sedang mengancam ku?"


"Menurutmu? Pecundang!" sahut Rey dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Berengsek!" gumam Vano geram sembari mengepalkan tangannya.


***


Hari sudah sore, Rey telah menyampaikan keinginannya untuk mengajak Zea pulang ke rumah orang tuanya kepada Adam juga Mona, dan mereka menyetujui permintaan menantunya itu.


"Kamu baik-baik di sana! Jadi istri dan menantu yang baik, menurut dengan suami." ujar Sandra sembari memeluk Zea.


Zea hanya mengangguk, ada sedikit kesedihan di hatinya, walaupun ini bukan yang pertama kalinya dia harus tinggal di rumah Rey.


"Titip Zea ya, Rey? Jaga dia baik-baik!" Adam menepuk pundak Ray pelan.


Rey mengangguk. "Itu pasti, Om!"


"Jangan panggil Om, dong! Panggil Papa dan Mama juga! Kan sudah jadi menantu." protes Sandra.


Rey tertawa, "Iya, Ma, Pa! Kalau begitu kami pamit dulu!"


"Iya, hati-hati di jalan."

__ADS_1


Kedua pengantin baru itu pun meninggalkan kediaman Adam.


***


__ADS_2