Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Akhirnya (Tamat)


__ADS_3

Rey mencari-cari keberadaan Zea di rumah besarnya itu, tapi tak juga dia temukan.


Rey mencoba menghubungi ponsel Zea tapi juga tak ada jawaban, membuat pria itu frustrasi sendiri.


"Kemana dia?"


Rey mengusap wajahnya, dia benar-benar cemas. Mona yang bingung melihat sikap Rey, menghampiri putranya itu.


"Kamu kenapa, Rey?"


"Aku mencari Zea, Ma."


"Oh, tadi Mama lihat dia berjalan tergesa-gesa keluar rumah, Mama nggak sempat bertanya karena dia sudah pergi naik taksi. Memangnya dia nggak bilang mau pergi? Kalian bertengkar?"


"Hem ... nggak kok, Ma!" bantah Rey. "Aku cari Zea dulu!"


Rey bergegas pergi keluar rumah.


"Mereka pasti bertengkar!" tebak Mona. "Anak zaman sekarang, baru nikah 2 hari tapi sudah begini."


Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri setiap jalan yang dia lalui, berharap menemukan Zea.


"Kemana dia malam-malam begini?" ujar Rey sembari celingukan kesana-kemari.


Tiba-tiba Rey teringat sesuatu dan dia tahu harus mencari istrinya itu ke mana.


***


Sementara itu, Zea sedang menangis sambil memeluk Ruby. Ternyata dia pergi ke rumah Lisa yang berada tak jauh dari rumah Roni.


"Ada apa, Ze? Kenapa malam-malam ke sini sendirian? Suami kamu mana?" cecar Ruby khawatir.


"Aku kesel banget dengan manusia salju itu, By. Sejak siang dia terus bersikap dingin, dia nggak mau bicara padaku." adu Zea.


"Dia kan sudah biasa seperti itu, memang sudah bawaan lahir, mau gimana lagi?" sahut Ruby santai, membuat Zea semakin kesal.


"Kali ini beda, By! Iihh... Kamu nggak ngerti, deh!" rajuk Zea dengan wajah cemberut.


Ruby terkekeh, tapi sejenak dia tertegun memandang wajah Zea, yang tetap cantik meskipun sedang cemberut.


"Dia memang begitu cantik, pantas saja ketiga pria itu menyukainya. Beruntung sekali kamu, Ze." batin Ruby.

__ADS_1


"By .... Ruby...!"


Ruby tersentak. "Haa...? Kenapa, Ze?"


"Kamu mikirin apa, sih?"


"Ah, nggak ada!"


"Selamat malam." seseorang tiba-tiba menyapa.


Mata Zea dan Ruby membulat saat melihat Rey sudah berdiri di ambang pintu.


"Silakan masuk, Pak." ucap Ruby.


Rey melangkah masuk dan langsung duduk di samping Zea yang sontak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku buat minum dulu, ya." Ruby bergegas ke dapur, dia sengaja meninggalkan dua insan itu.


"Kamu kenapa ke sini nggak bilang-bilang? Kan aku bisa mengantarkan mu."


"Memangnya kamu peduli, bicara padaku saja kamu nggak mau." sungut Zea kesal, air matanya jatuh menetes.


"Hei, jangan menangis." Rey mengusap air mata Zea. "Aku minta maaf. Aku hanya cemburu tadi."


"Ze, jangan! Aku bisa mati kalau kehilangan kamu."


"Makanya kamu berubah! Jangan seperti ini lagi!"


Rey menghela napas. "Baiklah, aku akan coba mengontrol rasa cemburuku. Maafkan aku, ya?"


Zea mengangguk.


"Kalau begitu kita pulang, yuk! Ini sudah malam." pinta Rey.


Zea kembali mengangguk, tepat bersamaan dengan kedatangan Ruby yang membawa dua cangkir teh hangat.


"By, kami pulang dulu, ya!"


"Loh, aku sudah buatkan teh hangat." tutur Ruby. "Diminum dulu, dong!"


Zea dan Rey pun meminum teh hangat buatan Ruby. Setelah itu, keduanya pamit pulang.

__ADS_1


Di dalam mobil, Rey terus menggenggam tangan Zea dengan sebelah tangannya.


"Ze!"


"Iya."


"Hem, kamu sudah selesai datang bulan?" tanya Rey hati-hati.


Wajah Zea seketika merah, jantungnya berdebar kencang.


"Sudah, kemarin."


"Kalau begitu, sudah bisa dong!"


Zea yang malu hanya mengangguk.


Rey tersenyum girang. Dia menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di rumah.


Begitu sampai di rumah, Rey langsung menarik Zea masuk ke kamar. Dia mendorong gadis itu ke atas ranjang, lalu menindihnya.


Tanpa basa-basi, Rey menyatukan bibir mereka, menikmati kelembutan yang begitu membuatnya candu. Zea pun menikmati sentuhan lembut bibir suaminya itu.


Meskipun awalnya malu-malu, tapi lama-kelamaan keduanya semakin terbawa suasana, membuat akal sehat mendadak hilang entah ke mana.


Rey terlalu berapi-api dan penuh semangat, dan saat ini Zea tak bisa melakukan apa-apa selain berserah diri, menikmati setiap sentuhan yang memabukkan.


Semua Rey lakukan dengan cepat namun tetap melengah kan.


Rey pun mulai melakukannya dengan sangat lembut, karena ini yang pertama untuk Zea, mereka sedikit kesulitan. Dan Rey hampir menyudahinya karena tak tega melihat Zea kesakitan, tapi wanita itu meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


Akhirnya mereka menyatu di dalam kenikmatan atas nama cinta, begitu melenakan. Kini Zea benar-benar telah menjadi milik Rey.


***


Seminggu kemudian, Zea mendapatkan kabar dari Sandra jika Vano akan melanjutkan sekolahnya ke Singapura.


Tak ada yang tahu jika keputusannya pergi keluar negeri adalah untuk menyembuhkan luka atas kehilangan Zea, dia sudah memutuskan untuk mengikhlaskan orang yang dia cintai itu menjadi milik orang lain. Dan cara terbaik untuk melupakannya adalah dengan pergi sejauh mungkin.


Vano berharap bisa membuka lembaran baru hidupnya dengan cinta yang baru juga.


Sedangkan Karina yang sudah mulai move on dari Rey, juga memutuskan untuk keliling dunia menikmati hidupnya. Dia berharap bisa segera menemukan pengganti Rey.

__ADS_1


💜TAMAT💜


__ADS_2