
Rey dan Zea berjalan beriringan memasuki ruang keluarga, Sandra yang lebih dulu kembali ke ruangan itu hanya mengulum senyum melihat kedatangan mereka.
"Kenapa kalian lama sekali?" Mona menatap Ray dan Zea bergantian.
Belum sempat keduanya menjawab, Sandra sudah lebih dulu bersuara.
"Kamu seperti nggak pernah muda saja, Mon! Mereka kan juga ingin berduaan." Sandra melirik Rey dan Zea yang tertunduk malu.
Mona tertawa karena Sandra menggoda kedua orang itu.
"Baiklah, sekarang sudah ada Rey dan Zea di sini, kita balik lagi ke topik pembicaraan tadi. Jadi bagaimana sekarang?" tanya Adam.
"Saya sudah memutuskan akan tetap melanjutkan pernikahan ini!" Rey tiba-tiba menyahut sambil melirik tajam ke arah Vano.
"Akhirnya kamu sadar juga!" sela Roni.
Adam menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu!"
Sandra, Mona dan Zea pun ikut tersenyum mendengar keputusan Rey.
"Lain kali kalau emosi, jangan sembarangan ambil keputusan, nanti kamu menyesal." Roni memperingatkan.
Rey hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Papanya itu. Walaupun terlihat tenang, tapi sejujurnya hati Rey dan Zea sedang takut dan khawatir mengingat ancaman Vano.
Terlebih pria licik itu tengah memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Setelah keluarga Rey pulang, Zea mulai menjalankan rencananya.
Sesuai kesepakatan keluarga, Zea harus tinggal di rumah Adam sampai hari pernikahan mereka tiba. Sebenarnya alasan utama Zea untuk tetap tinggal di rumahnya adalah untuk memantau gerak-gerik Vano, dia harus memastikan bahwa sepupu liciknya itu tidak bisa menjalankan rencananya.
Tok ... tok ... tok ...
"Kak Vano, udah tidur belum?" teriak Zea sembari mengetuk pintu kamar Vano.
Tak butuh waktu lama pintu kamar itu terbuka, "Ada apa?"
"Kak Vano punya nomor telepon Tante Mona? Aku minta dong!"
Vano mengerutkan dahinya, merasa heran dengan sikap Zea. "Kenapa meminta itu padaku?"
__ADS_1
"Hmm ... aku sudah coba ketuk pintu kamar Mama dan Papa, tapi sepertinya mereka sudah tidur. Sementara nomor Rey tidak bisa dihubungi, dan sialnya aku tidak menyimpan nomor telepon Tante Mona atau pun Om Roni, Kak." dalih Zea.
"Memangnya ada perlu apa malam-malam begini kamu mau hubungi Tante Mona? Nggak bisa besok pagi saja?" tanya Vano dengan tatapan selidik.
"Iiiihhhh .... Kak Vano bawel, deh! Kakak ada simpan atau nggak?"
Sejenak Vano terdiam menatap wajah Zea, membuat gadis itu salah tingkah dan takut ketahuan.
"Aku nggak ada simpan!" jawab Vano.
"Ya sudah deh kalau begitu!"
Zea berlalu meninggalkan Vano yang masih berdiri menatapnya, ada rasa curiga di hati Vano melihat tingkah gadis itu.
"Maaf, aku telah membohongimu! Aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku." batin Vano.
Di dalam kamarnya, Zea buru-buru menelpon Rey, dia menceritakan apa yang barusan terjadi.
"Aku yakin dia berbohong!"
"Hemm ... aku juga berpikir begitu! Sekarang lakukan tugas kamu, jangan sampai rencana kita gagal!"
"Kan aku sudah katakan, bahwa kita akan hadapi semua ini bersama." ucap Zea.
"Iya, sayang."
"Apaan, sih, kamu?" wajah Zea merona merah.
"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Selamat malam, mimpi yang indah."
"Iya, kamu juga. Selamat malam." balas Zea.
Keduanya pun mengakhiri pembicaraannya.
***
Rey mengetuk pintu kamar orang tuanya, setelah ketukan ke tiga, barulah pintu itu terbuka, Mona keluar dengan raut wajah mengantuk.
"Ada apa, Sayang?"
"Maaf aku sudah mengganggu, Ma. Aku cuma mau pinjam ponsel Mama. Ponsel aku hilang." ujar Rey bohong.
__ADS_1
"Loh, hilang di mana, Rey?" pekik Mona heboh, matanya membulat seolah rasa kantuknya hilang entah kemana.
"Hemm ... mungkin jatuh waktu di restoran, Ma."
"Ya, ampun! Kamu hati-hati dong, Rey! Coba dicari lagi atau diingat-ingat, mungkin kamu lupa meletakkannya." pinta Mona.
"Iya, Ma!"
"Kalau begitu, tunggu sebentar!"
Mona melangkah masuk ke kamarnya untuk mengambil benda yang akan dipinjam oleh sang putra.
Setelah beberapa saat, Mona keluar lagi lalu memberikan benda pipih itu kepada Rey. "Ini, Sayang."
"Aku pinjam dulu ya, Ma?"
Rey meraih ponsel itu dan hendak melangkah pergi, tapi Mona menahan lengannya.
"Rey, jujur sama Mama! Kenapa kemarin kamu membatalkan pernikahanmu dengan Zea? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Rey terdiam, dia tak mungkin mengatakan alasan utamanya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita! Mama yang akan bercerita. Ayo, ikut Mama." Mona menarik Rey ke balkon lantai dua.
"Ada apa, Ma? Mama mau cerita apa?"
"Kemarin Zea cerita, katanya sejak kecil, si Vano itu selalu bilang kalau kamu membenci Zea, kamu cemburu karena Mama dan Papa menyayanginya. Hingga akhirnya Zea memutuskan untuk sekolah keluar kota dan menjauhi keluarga kita, karena Zea nggak mau kalau kamu semakin membencinya. Tapi Mama tahu itu nggak benar, Mama sudah menceritakan yang sebenarnya kepada Zea." tutur Mona.
Rahang Rey mengeras mendengar cerita Mona, dia mencengkeram erat pagar besi pengaman balkon.
"Pantas saja Zea begitu tidak suka padaku. Kau benar-benar berengsek! Akan kuberi kau pelajaran!" ujar Rey dalam hati.
"Menurut Mama, sepertinya dia juga menyukai Zea sejak kecil, lagi pula dia cuma sepupu angkat, pasti dia berharap lebih pada Zea. Haa ... Mama jadi kesal kepada anak itu!" lanjut Mona.
"Terima kasih ya, Ma! Mama sudah mau menjelaskan semuanya kepada Zea." Rey menggenggam tangan Mona.
Mona tersenyum lalu memeluk tubuh tinggi putranya itu, "Sudah tugas seorang Ibu untuk memperjuangkan kebahagiaan anaknya."
Rey pun membalas pelukan sang mama.
***
__ADS_1