
Roni memulai cerita 18 tahun yang lalu ...
Siang itu sidang putusan yang diikuti Roni selaku pengacara dari pihak korban berjalan dengan lancar, suara teriakan tidak terima terdengar nyaring setelah ketukan palu Pak Hakim.
"Saya akan banding! Saya tidak bersalah!" Pria muda yang jadi tersangka itu berteriak tidak terima.
Lalu pria paruh baya menghampiri Roni dan menatap tajam ke arahnya seolah ingin menghabisi Roni saat itu juga.
"Aku sudah memperingatkan mu, tapi kau mengacuhkan itu. Berani sekali kau membuat putraku mendekam di penjara dengan hukuman seumur hidup?" pria itu mencengkeram pundak Roni dengan sangat kuat.
"Tapi putra Anda memang bersalah, dia melakukan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Hukuman itu nggak setimpal dengan rasa sakit keluarga korban yang kehilangan putrinya." ujar Roni sembari menepis dengan kasar tangan pria itu.
"Cih ... berani sekali kau! Kau tahu kan siapa aku? Aku bisa berbuat apapun kepadamu bahkan kepada keluargamu." ancam pria itu dengan sangat angkuh.
"Aku sangat tahu siapa Anda, Tuan Rudi Wilson! Anda pengusaha terhebat dan terkaya di kota ini. Anda bisa melakukan apapun, tapi sayangnya Anda tidak bisa mempermainkan hukum." balas Roni sambil menepuk pundak pria itu dan berlalu pergi.
"Kurang ajar! Kau akan menyesal!" teriak pria itu penuh emosi.
Roni terus berjalan tanpa memedulikan teriakannya.
***
Sebulan kemudian ....
Hari ini Roni berjanji akan pulang lebih awal untuk menjemput Mona dan Rey kecil di rumah Alex, karena lusa Rey sudah harus masuk sekolah, tapi karena masih ada urusan yang sangat penting, Roni belum bisa meninggalkan kantornya.
Akhirnya Roni menyuruh Martin untuk menjemput anak dan istrinya.
Martin adalah supir yang sudah 5 tahun ini bekerja pada Roni, bahkan keluarganya pun tinggal di rumah pemberian Roni. Setiap malam Martin selalu pulang ke rumah untuk bertemu putra dan juga istrinya yang sedang hamil tua, lalu pagi-pagi sekali dia sudah kembali lagi ke rumah Roni untuk bekerja.
Namun hari ini berbeda, Martin tahu dia tidak akan bisa pulang malam ini, mengingat perjalanan ke rumah Alex cukup jauh, bisa dipastikan besok pagi baru mereka tiba di rumah lagi, maka dari itu sebelum menjemput Mona dan Rey, dia singgah sebentar ke rumah hanya untuk sekedar mengecup kening istrinya dan memeluk putranya.
"Aku mungkin tidak pulang, aku akan keluar kota menjemput Nyonya dan putranya. Kau tidak apa-apa kalau aku tinggal? Atau mau aku panggilkan Kakakmu?" Martin menatap wajah sendu Anna, dia khawatir meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.
"Memang apa yang akan terjadi kepadaku? Aku akan baik-baik saja, anak kita pasti menunggumu pulang, jadi jangan khawatir." balas Anna sembari tersenyum dan mengelus perut buncitnya.
Martin memeluk istrinya dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskannya, mengecup bibir dan keningnya berulang kali.
__ADS_1
Begitu juga dengan putranya, dia memeluk tubuh kecil itu.
"Rekha, jagain Bunda sama Adik ya! Sekarang Rekha gantiin tugas Ayah." Menepuk pucuk kepala putranya yang bernama Rekha itu.
"Siap, Ayah! Aku pasti jagain Bunda dan Adik!" Rekha meletakkan telapak tangannya di ujung pelipis seperti memberi hormat.
Lalu Martin menunduk, dan menciumi perut buncit istrinya, "Jangan menyusahkan Bundamu, ya! Tunggu Ayah pulang!"
Martin pun berpamitan pada istri dan anaknya, tapi entah mengapa saat itu terasa begitu sedih melepas kepergian suaminya, air mata Anna menetes turun.
"Hati-hati di jalan, Mas."
"Bye, Ayah." Rekha melambaikan tangan.
Martin hanya mengangguk sambil membalas lambaian tangan putranya itu.
***
Martin memacu mobil dengan kecepatan tinggi, dia berharap bisa segera tiba di rumah Alex sebelum terlalu malam.
Tiba-tiba Martin merasakan sesuatu yang aneh, dia nggak bisa mengerem laju mobilnya, sementara di depan jalan sana suasana lagi macet.
Martin panik dan takut, dia bingung harus melakukan apa, dia nggak ingin mencelakakan orang lain. Akhirnya Martin membanting stir dan menabrak pembatas jalan, karena benturan yang sangat kuat, mobil yang dikendarai Martin terguling dan meledak lalu terbakar bersama tubuh Martin yang sudah tak berdaya.
Di tempat terpisah, Anna yang tengah bersantai di kamar dikagetkan dengan pigura foto pernikahannya dengan Roni yang tiba-tiba jatuh dan pecah.
Praaaaangg ...!
"Ya, ampun! Kok bisa jatuh? Perasaan nggak ada angin." Anna menatap heran serpihan pigura yang berserak di lantai
"Ada apa,Bunda?" Rekha berlari dari luar kamar dan terlihat khawatir.
"Nggak ada apa-apa, Sayang! Foto ini jatuh, mungkin tertiup angin." Anna berbohong agar putranya tidak cemas.
Tapi tiba-tiba hati Anna mulai merasa tidak enak, dia teringat suaminya yang sedang berada di jalanan.
"Ya Tuhan, tolong lindungi suamiku!" batin Anna.
__ADS_1
***
Roni kaget setengah mati mendengar kabar kecelakaan Martin, dia langsung menuju TKP dengan meminjam mobil teman kantornya.
Perasaan takut dan khawatir merasuki otak Roni, seketika dia hilang akal, tak tahu harus berbuat apa saat melihat tubuh gosong Martin yang dikeluarkan dari mobil yang sudah tinggal kerangka itu.
"Ya, Tuhan! Apa yang harus aku katakan kepada anak dan istrinya? Apa yang harus aku lakukan?" Roni berlutut meremas rambutnya, sudut matanya mulai basah
Kriiiiinggg ...
Ponsel Roni berdering mengagetkan pria itu, buru-buru dia menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Mona.
"Ha-halo ...."
"Halo, Sayang! Martin jadi jemput kami?"
"Mo-mobil yang dikendarakan oleh Martin kecelakaan dan terbakar. Ma-Martin ... meninggal."
"Apaaaa?! Ya Tuhan! Ya sudah nanti kalau Kak Alex tidak sibuk, aku akan meminta tolong kepadanya untuk mengantarkan kami pulang."
"Iya, aku ingin mengurus jenazah Martin dan mengabarkan keluarganya." Roni mengakhiri panggilan telepon itu, lalu bergegas menyusul mobil ambulance yang sudah membawa jasad Martin.
Setelah dari rumah sakit, Roni memberanikan diri mendatangi kediaman Martin. Langkahnya berat sekali, tapi ini harus dia lakukan, apapun yang akan terjadi nanti, dia harus siap menerimanya.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, tampak Anna membukakan pintu dan tersenyum ramah.
"Eh ... Pak Roni? Tapi bukannya suami saya sedang ..." Anna berhenti bicara saat melihat sudut mata Roni basah dengan raut wajah penuh kesedihan. Dia memberanikan diri bertanya duluan, "Ada apa, Pak?"
"Ma-Martin ..." Roni tertunduk tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Suami saya kenapa?" Anna mulai takut.
"Martin kecelakaan, Dia ... dia ... meninggal!"
"Nggaaaak ...! Itu nggak mungkin! Ya, Tuhaaaaan ... jangan ambil suamiku!" Anna menjerit histeris dan menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba kakinya terasa lemas dan tak sanggup menopang berat tubuhnya, seketika kesadarannya hilang. Secepat kilat Roni menangkap tubuh lemah itu agar tidak terhempas ke lantai dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Rekha yang masih bingung hanya menangis dan mengikuti langkah Roni.
***