
Kedua pengantin baru itu akhirnya tiba di kediaman Daniswara saat hari sudah gelap, Mona langsung memeluk anak dan menantunya, membuat Roni geleng-geleng kepala.
"Seperti sudah bertahun-tahun nggak jumpa saja!" Roni meledek istrinya
"Namanya juga kangen, Pa." balas Mona.
"Ma, Pa, aku ke kamar dulu! Mau istirahat!" Rey berjalan meninggalkan Zea.
"Aku juga!" imbuh Zea yang langsung menyusul Rey.
"Anak itu nggak berubah juga, tetap saja bersikap dingin, bahkan kepada istrinya sendiri." Roni menggerutu sambil memandangi kepergian anak dan menantunya.
"Sudahlah, Pa! Mungkin dia lelah!"
Sementara itu di dalam kamar, Rey langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia mengabaikan Zea.
Melihat sikap dingin Rey, Zea mendekati ranjang dan duduk di samping suaminya itu.
"Kamu kenapa, sih?"
"Nggak apa-apa!" jawab Rey ketus.
"Nggak apa-apa, tapi jawabnya ketus begitu." gerutu Zea.
Rey tak menjawab, dia hanya memejamkan matanya seolah tak memedulikan Zea.
Melihat sikap Rey, Zea mendadak mendapatkan ide untuk menggoda suaminya itu.
"Ya sudah, deh. Kalau begitu aku main ke rumah Keanu saja." ujar Zea, dia hendak beranjak turun dari ranjang.
Mendengar itu, Rey sontak membuka mata dan dengan cepat menarik lengan Zea, sehingga membuat gadis itu terjatuh di atas dadanya.
"Bilang apa kamu barusan?"
"Mau main ke rumah Keanu." sahut Zea.
"Kamu mau buat aku cemburu lagi?"
Zea mengernyit heran. "Cemburu lagi?"
Tawa Zea sontak meledak saat dia menyadari sesuatu. "Oh, aku ngerti sekarang. Jadi kamu sedang cemburu? Pasti karena kejadian tadi pagi, kan?"
"Telat banget kamu sadarnya!" cibir Rey.
"Ya ampun, Rey. Berapa kali aku harus bilang, kalau aku dan Kak Vano itu nggak ada apa-apa. Kami hanya sepupu, Rey."
"Tapi dia itu suka dengan kamu, lagian kan kalian bukan sepupu kandung.
__ADS_1
"Kamu ngaco!"
"Aku serius, Ze. Makanya aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia." ujar Rey.
Zea geleng-geleng kepala melihat suaminya yang cemburuan itu.
"Pokoknya kamu jangan dekat-dekat lagi dengan dia!" pinta Rey.
"Iya, deh, iya." jawab Zea pasrah agar Rey tidak berlarut-larut merajuk.
***
Keesokan harinya, Zea dan Rey sudah memulai kembali aktifitas mereka di kampus. Zea sangat rindu suasana kampus, begitu keluar dari mobil, dia langsung berlari meninggalkan Rey di parkiran.
Zea langsung menghampiri Ruby dan Keanu yang sedang berjalan menuju kelas.
"Hai, pengantin baru." seru Ruby.
"Ssstt.... jangan keras-keras bicaranya! Nanti yang lain dengar!" bisik Zea.
"Ups, sorry...!" Ruby menutup mulutnya sambil celingukan, memastikan tidak ada mahasiswa lain di sekitar mereka.
"Dasar mulut besar!" ejek Keanu.
Ruby mencibir.
"Memangnya kenapa? Aku nggak boleh masuk sekarang?" balas Zea.
"Boleh, dong! Boleh banget malah!" jawab Keanu sembari merangkul pundak Zea. "Biar kampus ini ramai, soalnya aku ngerasa sepi kalau nggak ada kamu."
"Heh, jangan gombalin istri orang! Entar tahu suaminya, tamat riwayatmu." seloroh Ruby.
"Sirik banget, sih!"
Dan benar saja, Rey yang melihat Keanu merangkul Zea, sontak naik darah. Dia mendekati ketiga orang itu dengan langkah yang lebar dan sorot mata tajam. Kemudian menarik Zea.
Zea, Keanu dan Ruby terkejut setengah mati.
"Ke ruangan saya sekarang juga!" pinta Rey dingin, lalu beralih menatap tajam Keanu, membuat bocah itu tertunduk takut.
Rey pun berlalu dari hadapan ketiga orang itu.
"Ze, dia marah, ya?" tanya Ruby.
"Sepertinya begitu. " jawab Zea. "Aku ke ruangannya dulu."
Zea bergegas menyusul suaminya itu.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu! Ngapain sih pakai acara rangkulan segala?" Ruby memarahi Keanu.
"Mana aku tahu kalau dia lihat. Lagian siapa suruh jadi suami cemburuan banget." sahut Keanu kesal.
***
Zea sudah berdiri di hadapan Rey, dia berulang kali menelan ludah untuk mengurangi rasa takutnya karena suaminya itu sedang menatapnya dengan tajam.
"Kamu tahu salahmu apa?" tanya Rey.
Zea mengangguk.
"Ze, tolong berhenti membuat aku cemburu! Aku nggak suka kamu berdekatan dengan lelaki lain!"
"Tapi Keanu itu teman aku, Rey. Masa kamu cemburu, sih?"
"Aku nggak peduli siapapun dia! Bukankah sudah aku katakan, jika aku tidak suka kamu dekat dengan dia dan juga Vano."
"Kamu gila, ya? Masa aku nggak boleh dekat dengan sahabat dan juga sepupu aku, sih?"
"Ze, aku ini suami kamu dan tolong hargai aku! Aku takut kehilangan kamu, aku mencintaimu, makanya aku cemburu jika kamu dekat dengan lelaki lain."
Zea mendekati Rey dan memegang tangannya. "Rey, percaya padaku. Aku pasti akan selalu setia, jangan khawatir! Dan tolong jangan cemburu pada mereka!"
Rey menggeleng. "Aku nggak bisa!"
"Baiklah, aku nggak akan dekat-dekat lagi dengan lelaki lain. Tapi tolong izinkan aku tetap berteman dengan Keanu dan juga Kak Vano, aku nggak mungkin menjauhi mereka tanpa sebab."
Rey bergeming.
"Rey ...."
Rey menghela napas. "Baiklah, tapi jangan dekat-dekat apalagi bersentuhan dengan mereka!"
"Iya, suamiku." balas Ruby sembari mencubit gemas pipi Rey.
Rey pun tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Zea. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Zea, dan hendak mencium bibir istrinya itu, tapi Zea mendorongnya.
"Rey, jangan! Nanti kalau ada yang tiba-tiba masuk, gimana?"
"Nggak ada yang berani masuk tanpa izin."
"Tapi ...."
Belum sempat Zea melanjutkan kata-katanya, Rey sudah lebih dulu mencium bibir gadis itu dengan mesra.
***
__ADS_1