Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Dia Bisa Tertawa


__ADS_3

Zea buru-buru berlari menghampiri Keanu diparkiran kampus, tampak pria itu mulai melajukan mobilnya dengan pelan sehingga membuat Zea mempercepat langkahnya dan langsung berdiri di depan mobil Keanu sambil merentangkan tangannya.


Keanu yang kaget dengan cepat mengerem laju mobilnya, nyaris saja mobil itu menabrak Zea.


Saking khawatirnya, Keanu buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri Zea.


Beberapa mahasiswa lain pun terlihat heran memandang mereka.


"Kamu nggak apa-apa, Ze?" Keanu memindai tubuh Zea dari atas sampai bawah.


"Aku baik baik saja." Zea yang masih terengah-engah berusaha mengatur nafasnya.


"Kamu apa-apaan, sih? Kalau tadi kamu tertabrak bagaimana?"


"Habis kamu selalu menghindari aku, jadinya aku buat cara ektrim ini." Zea menjawab seenak hatinya, lalu tersenyum manis.


Keanu hanya menghela napas melihat tingkah gadis ini.


"Aku capek, Ken. Cari tempat duduk yuk!" Zea menarik lengan Keanu.


"Tapi, Ze ...." Mata Keanu memandang kesana kemari mencari sosok Rey, dia takut dosen dinginnya itu melihat mereka.


"Tapi apa?"


"Hmm ... nggak apa-apa, yuk masuk ke mobilku saja!" Keanu membukakan pintu mobilnya untuk Zea dan gadis itu pun masuk.


Tanpa mereka sadari ternyata Rey sudah lebih dulu berada di dalam mobilnya, melihat semua kejadian yang terjadi.


Sebenarnya dia khawatir dan ingin turun saat Zea hampir tertabrak tadi, tapi dia urungkan niatnya ketika melihat Keanu turun lebih dulu dan Zea juga baik baik saja.


Berkali kali Rey mendengus kesal melihat tingkah dua orang itu, tapi dia tetap bertahan di dalam mobil agar bisa memperhatikan apa yang akan mereka lakukan.

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Keanu hanya terdiam saat Zea berulang kali bertanya tentang sikapnya yang berubah.


"Ini terakhir kalinya aku bertanya, kamu kenapa? Jawab dong!" Zea mulai kesal karena pertanyaannya tak kunjung di jawab oleh Keanu.


"Ok ... ok ... aku jawab! Aku nggak mau kamu selalu diusik oleh Kikan gara-gara dekat denganku." Keanu mulai bersuara, mencari alasan yang paling logis untuk menutupi alasan yang sebenarnya.


"Aku nggak masalah kok kalau dia mengusikku, yang penting kamu tetap ada di dekatku." Zea menatap Keanu dengan senyum ajaibnya, membuat dada pria itu berdebar-debar.


"Iya, tapi aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Ze. Aku say ...." Keanu tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Rey sudah keburu menggedor kaca mobilnya dengan kuat.


Ternyata Rey tidak tahan juga melihat mereka berduaan di dalam mobil.


"Habislah aku! Tertangkap basah oleh dosen gila ini." batin Keanu.


Rey meminta Keanu membuka pintu mobilnya, membuat pria imut itu menelan ludah dan takut, begitu juga Zea yang tampak khawatir melihat raut wajah Rey yang tidak bersahabat itu.


Dengan cepat Keanu membuka pintu mobilnya dan buru-buru keluar.


"Mobil kamu menghalangi mobil saya, saya nggak bisa lewat." Suara tegas itu menyadarkan Keanu bahwa dia telah memarkirkan mobilnya ditengah jalan, bukan ditempat parkir yang seharusnya.


Karena buru-buru masuk kedalam mobilnya tadi, Keanu lupa membalikkan mobilnya ketempat parkir semula.


"Maaf, Pak! Saya akan memajukan mobil saya agar mobil Anda bisa lewat." Keanu buru-buru masuk ke mobil, tapi dengan cepat Rey menahan pintu mobilnya agar tidak tertutup, membuat dua orang itu kaget dan semakin takut.


"Sampai kapan kamu mau duduk di dalam sana?" sindir Rey.


Zea mengembuskan napas sambil memutar bola matanya mendengar sindiran Rey.


"Nanti hubungi aku, ya!" Zea berbisik pelan kepada Keanu, tapi sialnya Rey mendengar itu.


Keanu hanya mengangguk tanpa berani menjawab.

__ADS_1


Zea keluar dari mobil Keanu dan berpindah ke mobil Rey.


Keanu segera melajukan mobilnya, meninggalkan parkiran kampus yang disusul oleh mobil Rey.


Di dalam mobil, Zea hanya terdiam, dia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya akan dikatakan Keanu tadi sebelum Rey datang.


"Aku bisa mati penasaran kalau begini." gumam Zea dalam hati.


Zea berniat mengirim pesan kepada Keanu, dia merogoh tas mencari ponselnya, tapi benda pipih itu tak bisa dia temukan. Zea mulai bingung, mencoba mengingat-ingat dimana ponselnya, Rey yang melihat tingkah gadis itu mengulum senyum.


Tiba-tiba Zea mengingat sesuatu.


"Kembalikan ponselku yang kamu sita tadi!" Zea menatap tajam ke arah Ray sambil menadahkan tangannya.


"Oh ... benda ini?" Rey mengeluarkan ponsel Zea dari saku celananya.


"Iya, sini kembalikan!" Zea berusaha merebut ponselnya dari tangan Rey.


Tapi dengan cepat dosen dingin itu memasukkan kembali ponsel Zea ke dalam saku celananya, lalu kembali fokus mengemudi. Membuat Zea kesal dengan tingkahnya itu.


"Loh, kok disimpan lagi? Cepat kembalikan!" Zea memukul pundak Rey, tapi pria itu tetap tidak menghiraukannya.


"Ambil sendiri!" Rey berkata tanpa menoleh ke arah Zea, membuat pipi gadis itu memerah.


"Apa ...! Kamu gila, ya? Kalau terpegang yang lain bagaimana? Dasar mesum...!!" Zea memekik dan melotot ke arah Rey.


Reaksi Zea membuat Rey tertawa, sesaat Zea terdiam dan memandang lekat ke arahnya.


"Ternyata dia bisa tertawa juga, baru kali ini aku melihatnya." batin Zea.


Selama ini Zea tak pernah melihat Rey tertawa, pria itu selalu bersikap dingin dengan wajah yang datar, apalagi ditambah sifatnya yang introver, Rey terlihat seperti membuat jarak kepada orang lain.

__ADS_1


***


__ADS_2