
Malam yang dinanti telah tiba, Sandra membantu Zea berdandan dikamar nya, dia ingin putrinya terlihat cantik malam ini.
"Kamu harus tampil cantik di depan calon suamimu, Ze." Sandra memoles bibir Zea dengan lipstik berwarna baby pink.
"Calon suami? Yang benar saja." batin Zea sembari memutar bola matanya.
"Mama ...! Calon besan kita sudah datang ni, ayo buruan!" teriak Adam.
Zea kembali memutar bola matanya, merasa geli dengan ucapan sang papa -calon besan-
"Iya, Pa!" sahut Sandra. "Ayo, Sayang!" Sandra menarik lengan putrinya untuk segera menemui Rey dan keluarganya.
Zea hanya pasrah mengikuti langkah Sandra, hatinya ingin sekali berontak tapi tubuhnya malah berbuat sebaliknya.
Di ruang keluarga sudah ada Adam, Rey dan kedua orang tuanya. Dengan anggunnya Zea menuruni anak tangga, gaun berwarna peach selutut membalut tubuh semampai nya, rambut hitamnya tergerai indah.
Membuat Rey menatapnya terpesona, sambil menyunggingkan senyum.
"Berhenti menatapnya seperti itu, dia nggak akan kemana-mana." Roni menyenggol lengan Rey, membuat putranya itu tersentak dan tertunduk malu karena terciduk.
Zea dipaksa duduk di samping Rey, membuat jantung pria tampan itu berdetak lebih cepat. Dia benar-benar gugup.
"Baiklah ayo kita mulai acara ini!" Adam begitu antusias untuk memulai acara dadakan ini.
__ADS_1
Setelah acara basa-basi yang tidak terlalu penting berakhir, tibalah momen saat Rey memasangkan cincin ke jari manis Zea.
Tangan Rey tampak gemetar, wajah tampannya kelihatan tegang dan gugup.
Rey berhasil memasangkan cincin itu, dengan cepat Zea menarik kembali tangannya dari hadapan Rey. Sedari tadi tak tampak senyum menghiasi bibir Zea, wajahnya hanya datar tanpa ekspresi.
"Jadi kapan pernikahannya kita laksanakan?" tanya Mona penasaran.
Adam, Sandra dan Roni tampak berpikir menentukan waktu yang tepat.
Tapi dengan cepat Rey menjawab, "Minggu depan!"
Membuat semua orang terperangah dan saling pandang, bahkan Zea spontan berteriak tak terima.
"Apaaaa ...?! Kau gila ya?"
"Sudah ... sudah ...!" Roni menengahi. "Rey, apa itu nggak terlalu cepat?" Roni berusaha untuk bernegosiasi dengan putranya itu.
"Nggak! Aku mau minggu depan!" Suara tegas itu menjadi keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat lagi.
"Wah ... rupanya Rey benar-benar udah nggak sabar ya?" Sandra tertawa, menggoda sosok dingin nan keras kepala itu.
Rey tak membalas ledekan calon mertuanya itu, dia hanya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, pernikahannya kita adakan minggu depan. Kita akan buat acara akad dulu, nanti baru resepsinya menyusul." Keputusan Adam benar-benar membuat Zea frustasi.
"Tapi Pa, aku masih mau kuliah. Papa sendiri yang menyuruhku untuk menjadi pengacara yang handal, sekarang apa ini?" Zea berusaha protes tidak terima.
"Kamu masih tetap bisa kuliah, kok. Siapa bilang kalau sudah menikah nggak bisa kuliah lagi dan berkarir? Lihat Mona, dia melanjutkan S2 nya bahkan setelah Rey lahir, dan sekarang dia menjadi jaksa yang hebat." ujar Adam.
Zea sangat kesal dengan semua orang, terutama dengan Rey. Ini semua sungguh tidak masuk akal. Saking kesalnya, Zea sampai bertindak impulsif.
"Aku mau bicara sama kau!" Zea berdiri lalu mengajak Rey menjauh dari ruang keluarga. Semua orang jelas kebingungan dengan kelakuan Zea itu.
Setelah jarak mereka aman dari pendengaran semua orang, Zea menatap tajam wajah Rey, membuat yang ditatap memalingkan pandangannya kesembarang arah.
"Aku nggak tahu apa yang sedang kau rencanakan dan aku nggak perduli apapun yang kau pikirkan tentangku. Tapi yang harus kau tahu, aku nggak mencintaimu apalagi berharap menikah denganmu. Jadi tolong setelah menikah nanti, jangan meminta aku untuk melayani mu atau menjadi istri yang baik untukmu.
Aku udah turuti mau mu dan mau orang tua kita, jadi tolong kali ini turuti permintaanku. Dan satu lagi, jangan campuri urusan pribadiku, aku pun nggak akan campuri urusanmu." Zea melangkah pergi meninggalkan Rey yang terdiam, kata-kata Zea ini membuat hatinya sakit tapi dia bertahan karena dia yakin suatu saat Zea pasti bisa menerimanya.
Zea kembali ke ruang keluarga lalu disusul oleh Rey, Mona merasa khawatir melihat wajah putranya yang tiba-tiba sendu, dia yakin pasti ada sesuatu.
"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai, mari kita makan malam dulu." Adam mempersilahkan Ray dan keluarganya untuk ke meja makan.
Di IGD RS Medica tampak Vano yang tengah duduk sendiri menatap layar ponselnya, hatinya resah mengingat Zea, ingin dia menghubungi gadis itu, tapi dia ragu dan mengurungkan niatnya.
Sesekali tampak Vano mendengus kesal sambil mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Aku belum kalah. Aku nggak akan semudah itu menyerah." gumam Vano pelan.
***