
Suasana makan malam di kediaman Roni sangat kaku, Zea dan Rey bersikap aneh malam ini, keduanya hanya tertunduk sambil menyantap makanannya, tak ada dari mereka yang bersuara.
Roni memandang heran ke arah dua makhluk itu, Mona yang tahu alasannya tersenyum geli dan usil menggoda mereka.
"Eheem ... lagi pakai mode silent, ya?" sindir Mona.
Tapi yang disindir tetap bergeming, membuat ulah usil Mona semakin menjadi.
"Sepertinya Zea udah bisa dipingit, deh. Kalian nggak boleh jumpa sampai hari H. Besok Mama antar Zea pulang ke rumahnya." lanjut Mona.
"Jangan ...! Zea tetap disini!" Bantah Rey.
Zea dan semua orang sontak melihat ke arahnya.
"Tapi, Rey ...." seru Mona.
"Sabtu depan dia baru boleh pulang ke rumahnya, dan dia udah bisa cuti kuliah dari sekarang." sambung Rey tanpa memberikan Mona kesempatan bicara.
Zea menatap Rey dengan tatapan tajam.
"Aku penasaran sama isi kepala kamu! Kenapa cara berpikir mu selalu buat orang lain bingung, sih? Aku nggak boleh pulang tapi juga nggak boleh kuliah, jadi aku harus ngapain di sini?" Zea mengomel, meluapkan kekesalannya sampai dia tidak menghiraukan lagi Mona dan Roni yang memandang mereka.
"Belajar masak dan membereskan rumah, aku nggak mau punya istri yang nggak bisa melakukan apa-apa." sahut Rey seenaknya, membuat Zea semakin kesal.
"Kamu mau cari istri atau pembantu, haaa ...? Kalau nggak mau, juga nggak apa-apa, kok!" gerutu Zea dengan wajah masam.
Roni dan Mona hanya menghela napas mendengar perdebatan dua insan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Roni berdering, dengan cepat dia melihat layar ponselnya, saat tahu siapa si penelpon, dia beranjak dan menjauhi meja makan, setelah jaraknya cukup aman, barulah dia menjawab panggilan masuk itu.
Wajah Roni terlihat cemas, tapi tak tahu apa yang sedang dibicarakan dan siapa si penelpon itu.
Setelah mengakhiri pembicaraan, Roni pamit pada Mona, dan buru-buru pergi meninggalkan tanda tanya besar di hati Zea.
Zea ingin bertanya kepada Mona, siapa yg menelpon dan ada apa?
Tapi dia takut dinilai terlalu mencampuri urusan keluarga ini, akhirnya dia memilih utk bungkam.
Sementara Rey hanya menatap tajam ke arah Roni yang telah menjauh dari meja makan, ada rasa geram dihatinya.
"Pasti dari wanita ****** itu. Papa selalu pergi mendadak seperti ini saat mendapat telepon darinya. Aku benar-benar muak dengan semua ini." batin Rey.
Tanpa di duga, dia langsung berdiri, dan meninggalkan meja makan. Mona juga Zea menatap heran ke arah pria dingin itu.
***
"Ayah!" Gadis itu berhambur memeluk Roni dan terisak pilu.
"Di mana Ibumu?" Roni melangkah masuk dengan cemas.
"Bunda di kamar, Bunda sakit lagi, Yah." jawab gadis itu sembari terisak, dia sangat khawatir.
Roni langsung masuk ke kamar, tampak seorang wanita tengah terbaring lemah dengan hidung penuh darah.
"Lisa ...!" Roni memekik, lalu buru-buru mengangkat tubuh wanita yang bernama Lisa itu.
__ADS_1
Gadis muda itu pun mengikuti langkah Roni, menutup pintu rumah dan menguncinya.
Mereka lalu masuk ke mobil, dan melaju pergi ke rumah sakit.
"Bunda, bertahanlah! Bunda pasti baik-baik saja!" ucap gadis itu lirih.
Sudut mata Roni mulai basah, dia takut terjadi sesuatu dengan Lisa. Roni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di RS Medica.
Para perawat dengan cepat membantu memindahkan Lisa ke IGD agar segera ditangani.
Vano yang baru datang kaget melihat Roni, dia penasaran siapa yang dibawa Roni ke rumah sakit. Dia memandang lekat wajah wanita yang sedang ditangani itu. Saking paniknya, Roni nggak menyadari Vano yang sedang memperhatikan mereka.
Betapa kagetnya Vano saat melihat seorang gadis muda memeluk Roni sambil terisak.
"Ayah, Bunda pasti baik-baik saja, kan?" Gadis itu terlihat sangat sedih dan takut.
Seperti tersambar petir rasanya mendengar gadis muda itu memanggil Roni dengan sebutan Ayah, dia segera mengambil ponselnya lalu merekam kejadian itu.
"Kau akan terkejut setelah mengetahui semua ini." ucap Vano dalam hati.
Vano bergegas pergi meninggalkan ruang IGD, sebelum Roni menyadari kehadirannya.
Beberapa saat kemudian suasana IGD tampak tenang, kondisi Lisa sudah lebih membaik.
Wajah Roni dan gadis muda itu pun kelihatan lebih tenang.
***
__ADS_1