Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Meluapkan.


__ADS_3

Setelah mendengarkan kisah pilu yang diceritakan Roni, keempat muda-mudi itu semakin terkejut bukan main, bagaimana bisa orang tua mereka menyimpan rapat rahasia sebesar ini?


Bahkan air mata Ruby semakin banyak menetes, hatinya benar-benar hancur mendengar kisah orang tuanya yang begitu menyedihkan.


Terlebih lagi Vano, dia menahan kemarahan dan rasa sakit yang tak terlihat.


"Tapi kenapa semua ini harus dirahasiakan dari kami?" hardik Vano.


"Kami hanya nggak ingin kalian bersedih jika tahu kondisi Anna yang sesungguhnya. Maafkan kami!" jawab Roni.


"Aku begitu merindukan Ibu dan adikku, bertahun-tahun aku bersabar, berharap suatu saat aku bisa bertemu dan memeluk mereka." ucap Vano lirih.


Semua yang di ruangan itu hanya terdiam, suasana begitu mengharukan.


"Aku bahkan sempat mencari mereka, aku mendatangi rumah yang dulu pernah kami tempati. Tapi tempat itu sudah dijadikan kantor pengacara oleh Tuan Roni Daniswara yang terhormat ini!" lanjut Vano sambil melirik ke arah Roni yang semakin merasa bersalah.


"Maaf, 2 tahun setelah kejadian itu, Om memindahkan Lisa dan Ruby ke rumah yang lain dan Om membangun rumah itu menjadi kantor pribadi."


Vano membuang napas kasar lalu tersenyum sinis kepada Roni, "Benarkah begitu? Bukan karena Anda ingin menghilangkan jejak mereka agar saya nggak bisa mencarinya? Agar saya terpisah selamanya dari keluarga saya! Iyakan ...?"


Roni menggeleng. "Bukan seperti itu!"


"Jangan bohong!!" teriak Vano.


"Cukup ...!!! Jaga sikapmu!!!" bentak Rey tiba-tiba yang sontak beranjak dari duduknya.


"Jadi kau mau apa? Memukulku? Dasar pecundang!!!" tantang Vano.

__ADS_1


Sikap Vano itu membuat Rey berang, dengan cepat dia melangkah mendekati Vano dan langsung melayangkan pukulan ke wajahnya.


Buuugghhh ....


Adegan itu membuat semua orang berteriak kaget, Adam dan Roni sampai berdiri dari duduknya.


"Beraninya kau?!" Vano menatap tajam Rey dan langsung membalas pukulannya.


Keduanya pun bergumul dan saling pukul, Adam serta Roni berusaha melerai mereka.


"Apa-apaan kalian? Ini bukan arena tinju!" Ujar Roni sembari memandangi Rey dan Vano bergantian.


Namun keduanya hanya diam membisu, tampak Rey mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Zea benar-benar merasa bersalah, karena rencananya ini, semua jadi kacau.


"Kalian nggak berada di posisiku! Kalian nggak tahu bagaimana perasaanku! Awalnya aku bisa terima kepergian Ayah, tapi sejak aku sadar bahwa kalian memisahkan aku dari keluargaku, aku nggak bisa terima. Aku mulai menyalahkan Om Roni atas semua kejadian ini dan lama-kelamaan aku mulai membenci mereka dan terutama bocah sombong ini!" Vano meluapkan isi hatinya, matanya begitu penuh emosi menatap Roni dan Rey.


"Tapi kau nggak bisa menyalahkan Pak Roni atas kejadian ini! Dia nggak bersalah, ini sudah takdir! Kita harus ikhlas!" Lisa memberanikan diri untuk bersuara membela Roni, air mata semakin membasahi wajah pucatnya.


"Nggak perlu membela mereka! Selama 18 tahun aku hidup sebagai orang lain, aku kehilangan keluarga dan masa laluku. Apa kalian tau rasanya jadi aku ... haaa ...?" ujar Vano dengan suara meninggi, kali ini dia tak sanggup menahan air matanya.


Semua ini seolah menghadirkan kembali rasa bersalah di hati Roni yang sudah dia kubur selama 18 tahun.


"Aku kehilangan Ayahku saat aku masih membutuhkannya, aku dipisahkan dari Ibu dan Adikku, selama 18 tahun aku hanya menyimpan itu sendirian. Kalian terlalu egois hanya memikirkan kebahagiaan kalian saja, sementara aku ...?"


"Dan sekarang kenyataan pahit tentang Ibuku baru aku ketahui. Dia Ibu kandungku, apa pantas kalian merahasiakan semua ini dari anaknya?" Lanjut Vano yang semakin tidak bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Roni semakin merasa bersalah, dia melangkah mendekati Vano yang terlihat benar-benar kacau lalu memegang pundaknya, "Maafkan kami! Seharusnya kami nggak merahasiakan semua ini dari kalian, tapi saat itu kami berpikir inilah yang terbaik."


Vano menepis tangan Roni dengan kasar. "Terbaik untuk siapa? Untuk kalian semua?!"


"Sudah kubilang, jaga sikapmu!" Rey berusaha mendekati Vano dan ingin memukulnya lagi, tapi dengan cepat Roni dan Adam menahannya.


"Kalau aku nggak mau, kau mau apa?" tantang Vano lagi.


"Cukup!!! Jangan berkelahi lagi!!" bentak Ruby.


"Kak, seharusnya Kakak berterima kasih kepada Ayah Roni dan semua orang di sini, selama 18 tahun Ayah telah membiayai kehidupanku dan Bunda, kami nggak pernah merasa kekurangan. Ayah Roni dan Mama Mona menyayangi aku seperti putri mereka sendiri, bahkan mereka membiayai pengobatan Bunda selama ini." lanjut Ruby seraya menyeka air matanya.


"Tapi kau nggak berada diposisiku, hatiku hancur dan sakit saat aku sadar bahwa aku telah kehilangan semua keluargaku, dan kenyataan tentang Bunda yang mereka rahasiakan semakin membuat aku sakit!" sahut Vano.


Ruby mendekati Vano, lalu menggenggam tangannya, "Kak, aku juga sakit dan sedih, aku juga sama seperti Kakak. Tapi aku berusaha menerima semua ini dengan lapang dada, ikhlas Kak! Lupakan yang telah terjadi, mari kita lanjutkan hidup kita, sekarang aku bersyukur sudah bertemu dengan Kakak yang selalu aku rindukan."


Vano semakin tak bisa menahan kesedihannya, tubuhnya bergetar karena menangis, "Adikku sayang ...! Aku sangat merindukanmu, aku sampai putus asa mencarimu dan Bunda. Maaf karena aku nggak bisa menjagamu seperti pesan Ayah."


"Sudahlah, Kak! Semua sudah berakhir, sekarang kita sudah bertemu dan kita bisa bersama lagi, Kak." Ruby memeluk tubuh kekar Vano dan menangis.


Vano pun membalas memeluk tubuh mungil adiknya yang begitu dia rindukan, air matanya semakin deras menetes.


Membuat semua orang yang melihat adegan itu terharu sekaligus lega, bahkan Lisa, Sandra, Mona dan Zea ikut menangis haru melihat dua kakak beradik itu berpelukan.


Zea kemudian mendekati Rey dan berbisik, "Maaf sudah membuat kekacauan ini!"


***

__ADS_1


__ADS_2