
Zea mengumpulkan semua orang di rumahnya, termasuk Rey dan kedua orang tuanya. Semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang direncanakan gadis itu?
Sejak pulang dari rumah Lisa dan Ruby, Zea sama sekali tidak menceritakan apa pun tentang mereka, termasuk kepada Rey. Gadis itu menyimpannya sendiri bahkan dia membuat rencananya ini tanpa sepengetahuan siapa pun.
"Sebenarnya ada apa sih, Ze? Kamu kenapa kumpulin kita semua seperti ini?" Sandra memandang curiga putrinya itu.
"Mama tenang saja! Zea cuma mau mengungkap sesuatu saja kok." jawab Zea.
Semuanya semakin bingung.
"Tan, By,.. ayo kemari!" pinta Zea.
Lisa dan Ruby berjalan perlahan memasuki ruang keluarga kediaman Adam.
Melihat kedatangan dua wanita itu, sontak membuat semua orang kaget, termasuk Vano dan Rey.
"Selamat malam semuanya!" sapa Lisa.
"Lisa?" pekik Roni dengan mata mendelik.
Mona, Sandra dan Adam juga tak kalah terkejutnya melihat Lisa dan Ruby.
Ruby melempar pandangan ke semua orang, lalu matanya membulat saat menangkap sosok yang tidak asing lagi baginya, "Pak Rey?!"
Rey menatap tajam ke arah Ruby, membuat gadis itu takut dan tertunduk.
Vano yang melihat situasi ini semakin bingung, dari mana Zea mengenal mereka dan mengapa dia membawa mereka kesini?
Lalu gadis itu? Ternyata dia mengenali Rey.
Seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri, Vano menyunggingkan bibirnya.
"Wow ... dia bergerak lebih cepat dariku. Sepertinya aku melewatkan sesuatu." gumam Vano dalam hati.
__ADS_1
"Pasti semuanya sudah pada kenal dong dengan mereka? Jadi kita langsung aja pada intinya!" Zea berjalan mendekati Lisa dan Ruby.
Semua orang saling berpandangan dengan rasa bingung mereka masing-masing, tapi Vano satu-satunya orang yang terlihat senang disini, dia berfikir mungkin ini saatnya perselingkuhan Roni terbongkar tanpa mengotori tangannya.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Tante Lisa, aku juga tahu mereka ingin sekali bertemu dengan Kakak laki-kakinya Ruby, makanya aku membawa mereka ke sini, agar keinginan mereka terwujud." ujar Ruby.
"Dari mana kamu mengenal mereka, Ze?" tanya Sandra yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Ruby ini sahabat aku di kampus, Ma! Kalau Tante Lisa, aku baru mengenalnya tadi siang saat aku main kerumahnya. Dan aku baru tahu bahwa ternyata Kakak laki-laki Ruby itu adalah orang yang sangat kita kenal selama ini." ucap Zea sembari memandang Rey dan Vano.
Wajah semua orang yang ada disana semakin terlihat gusar dan kaget dengan situasi mendadak ini, kenapa semuanya harus terbongkar dengan cara seperti ini?
"Rekha Pratama!" Zea memanggil nama itu dengan sangat jelas, membuat orang yang dipanggil tertegun tak percaya.
"Haa ...? Nama itu?" Vano menatap Zea, Ruby dan Lisa secara bergantian. Hatinya seperti terlempar keluar.
Rey pun tak kalah kaget mendengar nama itu, nama yang tidak asing di telinganya.
Adam dan Roni serentak mengembuskan napas kasar, bahkan Roni sampai menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Adik dan Ibuku? Tunggu ... tunggu ...! Kalau dia adalah adikku, aku masih bisa terima, tapi kalau wanita ini? Dia bukan Ibuku!" bantah Vano sambil menunjuk ke arah Lisa.
Plaaaaakkk ...!
Ruby yang mendengar ucapan Vano seketika melayangkan tamparan ke wajahnya, membuat semua orang tersentak kaget.
"Keterlaluan sekali kau! Beraninya kau tidak mengakui Ibumu sendiri, aku menyesal bertemu dengan anak durhaka sepertimu!" bentak Ruby.
"Tapi dia memang bukan Ibuku! Apa-apaan semua ini?" sanggah Vano.
Zea menjadi bingung dan merasa bersalah, apakah sudah benar caranya ini?
Melihat situasi yang mulai kacau ini, akhirnya Roni pun turun tangan dan hendak menjelaskan semuanya. "Sebenarnya ...."
__ADS_1
"Biar saya saja yang jelaskan!" sela Lisa sebelum Roni sempat melanjutkan ucapannya.
Roni pun mengangguk.
"Sayang, sudah saatnya kamu tahu sesuatu, sebenarnya Bunda ini bukan Ibu kandung kamu." ungkap Lisa, dia menggenggam erat tangan Ruby, memamdang gadis mungil itu dengan tatapan bersalah.
Tidak terima dengan pengakuan Lisa, Ruby menepis tangan wanita lemah itu dengan kasar, "Ini nggak mungkin! Bunda bohong!"
Lisa hanya tertunduk merasakan air matanya yang jatuh menetes, Zea langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya.
"Kalau Bunda bukan Ibu kandungku, lalu siapa? Dan di mana dia sekarang?" cecar Ruby dengan air mata berlinang.
"Anna ...! Dialah Ibu kandungmu, sekarang dia ada di rumah sakit jiwa. Setelah Ayahmu meninggal, Ibumu menjadi depresi dan terpaksa dirawat di sana. Maka dari itu Lisa menggantikannya untuk mengurusmu dan Kakakmu pun diadopsi oleh Alex Winata. Maaf karena kami sudah merahasiakan semua ini dari kalian." sahut Roni cepat sebelum keadaan semakin kacau.
Pengakuan Roni ini benar-benar membuat Ruby, Zea, Rey dan Vano kaget setengah mati.
"Apa...?! Ini nggak mungkin! Kenapa Ayah Roni harus merahasiakan ini dariku?" Ruby menggeleng tak percaya.
Begitu pula dengan Vano yang juga baru mengetahui bahwa ibu kandungnya dirawat di rumah sakit jiwa, bibirnya terasa kelu, nggak tahu harus berkata apa lagi?
Karena memang sejak dia dibawa ke rumah Alex Winata yaitu Kakak Sandra Winata, Vano sama sekali tak pernah mengetahui apapun tentang keluarganya lagi, bahkan namanya sendiri pun diganti agar jejaknya tidak dapat diketahui oleh keluarganya.
"Maafkan Ayah ya, Sayang! Ayah cuma nggak mau membuatmu sedih karena mengetahui kondisi Ibumu yang sebenarnya." Roni mendekati Ruby dan memeluk tubuh mungil yang bergetar karena menangis itu.
Rey menatap sinis ke arah Roni dan Ruby, ada rasa tidak suka di hatinya melihat sikap Papanya itu, tapi seketika tatapan sinis itu berubah menjadi haru saat Mona juga ikut memeluk Ruby dengan penuh cinta.
"Tenanglah, Sayang!" Mona mengelus pucuk kepala Ruby dengan lembut. Terlihat sekali bahwa Mona sangat menyayangi Ruby. "Kamu dengarkan dulu penjelasan Ayah."
Melihat adegan itu, Zea, Rey dan Vano semakin bingung. Sebenarnya hubungan macam apa yang dimiliki Lisa dan Roni?
Mengapa sepertinya Mona sudah tau semuanya?
"Aku butuh penjelasan dari semua ini!" Suara Rey tiba-tiba mengagetkan semua orang.
__ADS_1
Roni kembali menghela napas. "Baiklah,mungkin ini sudah saatnya. Aku akan menceritakan semuanya."
***