
Rey hanya memandangi Zea yang masih tertawa karena mendengar gombalannya yang terdengar seperti lelucon ditelinga gadis itu.
Zea yang menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatapnya, spontan berhenti tertawa.
"Ups ... mati aku ...! Kenapa aku mentertawakan nya?" batin Zea sembari menggigit bibir bawahnya.
"Sudah puas tertawa? Sekarang katakan kenapa kamu menamparnya?" wajah Ray berubah serius.
"Karena dia memang pantas ditampar." Zea menjawab seenaknya.
"Katakan dengan jelas!" nada suara Ray sedikit membentak.
"Santai saja, dong! Nggak usah marah-marah!" Zea tak mau kalah, nada bicaranya jadi ketus.
Rey hanya menarik napas, lalu membuangnya kasar.
"Kenapa aku susah sekali bersikap manis dihadapannya? Gimana dia bisa menyukaiku kalau begini?" gerutu Rey dalam hati.
"Baiklah, sekali lagi aku tanya, kenapa kamu menamparnya?" Rey melembutkan nada bicaranya.
"Karena dia bilang aku gadis penggoda, aku menggodamu dan Keanu. Menurutmu, apa aku salah telah menamparnya, Pak Dosen yang terhormat?" Zea melipat tangan di depan dada lalu menatap lekat kearah Rey.
"Tapi kamu nggak harus melakukan itu, kamu bisa bilang ke aku, biar aku yang menghukum dia. Aku nggak mau kamu terkena masalah." Rey mencoba menasehati Zea.
"Aku masih bisa menghadapinya sendiri, jadi nggak usah ikut campur." jawaban Zea kali ini benar-benar membuat Rey kesal.
Braaaakkk ....
Rey berdiri dan menggebrak meja, membuat Zea kaget dan menelan ludah. Dosen tampan itu pun melangkah mendekati Zea yang mulai sedikit takut.
"Jaga sikap kamu! Saat ini aku dosen kamu. Aku punya hak mencampuri semua yang terjadi di lingkungan kampus ini, termasuk urusanmu itu. Mengerti kamu?" ujar Rey dengan tatapan tajam.
Zea hanya mengangguk pelan nggak berani menjawab Rey lagi
__ADS_1
Praaakkk ....
Tiba-tiba Karina membuka dengan kasar pintu ruangan Rey tanpa mengetuknya terlebih dahulu, amarahnya sudah menjalar kemana-mana. Ternyata Kikan sudah menghubunginya dan menceritakan apa yang terjadi. Karina memutuskan untuk segera datang menemui Rey dan Zea.
"Dasar gadis murahan kurang ajar!" Karina berjalan cepat ke arah Zea dan menarik rambut panjangnya dengan kuat.
"Aduh, sakit!" pekik Zea.
Rey yang kaget langsung mencengkeram lengan Karina, membuat gadis sombong itu kesakitan. "Karina, lepaskan!"
"Rasakan ini pelacur!!" Karina semakin kuat menarik rambut Zea, hingga gadis itu tertunduk kesakitan.
Melihat Zea merintih, Rey spontan menampar Karina.
Plaaaakk ....
Karina yang kaget langsung melepaskan tangannya dari rambut Zea, dia tak menyangka bahwa Rey akan sekasar ini padanya.
"Kau yang memaksaku untuk melakukan itu." Rey menarik lengan Zea dan menyembunyikan gadis itu dibalik badannya.
Rey tau, Karina tidak akan bisa bersikap baik kalau lagi marah begini, dia tidak mau gadis ini menyerang Zea lagi.
"Dia sudah dua kali menampar adikku, kau hanya diam saja?" Karina menunjuk Zea penuh emosi.
"Karena adikmu memang bersalah dan pantas ditampar, tapi aku? Apa salahku sehingga kau menamparku kemaren?" Zea memberanikan diri untuk membuka suara dari balik punggung Rey.
"Karena kau telah merebut Reyfal dariku, dasar murahan!" emosi Karina meledak, teriakan nya memenuhi ruangan itu.
"Cukup Karin! Keluar dari sini atau aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu." bentak Rey.
"Aku akan membalasmu, lihat saja nanti!" ancam Karina, kemudian berlalu meninggalkan ruangan Rey dan membanting pintu dengan kuat.
Ada perasaan khawatir dihati Rey mendengar ancaman Karina, dia takut gadis itu nekat menyakiti Zea lagi seperti tadi.
__ADS_1
Rey berbalik dan memandang Zea.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rey cemas.
"Kepalaku sakit! Gila itu cewek, kasar banget. Ini semua gara-gara kamu!" Zea merapikan rambutnya yang berantakan akibat ditarik Karina tadi
"Aku?" Ray menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah, sepertinya dia cinta mati sama kamu, kenapa sih kamu nggak nikahi dia aja? Jadinya dia nggak menggila kayak tadi, dan aku yang jadi korban." Zea protes.
Dia berusaha membuat Rey berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka.
"Kamu tahu kenapa aku memilihmu? Itu karena aku mencintaimu." ucap Rey sembari menatap dalam-dalam manik hitam Zea.
Entah mengapa tatapan dan ucapan sederhana Rey itu membuat jantung Zea berdebar tak karuan.
Perlahan-lahan Rey memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Zea, membuat gadis itu semakin bergetar.
"Hmm ... maaf, aku mau ke kelas." Zea mendorong tubuh Rey dan menjauhinya.
Rey terlihat kikuk dan menggaruk punggungnya yang tak gatal.
Zea meninggalkan ruangan Rey, jantungnya masih berdebar-debar, meskipun sudah menjauh dari lelaki itu.
"Kenapa ini? Apa sakitku kumat lagi?Kenapa dengan jantungku?" Zea bertanya-tanya dalam hati.
Zea buru-buru masuk ke kelasnya, tampak semua teman-temannya memandang sinis kepada gadis itu. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Zea setelah kejadian ini.
Bahkan Keanu yang biasanya ramah, kini terlihat dingin kepadanya.
Zea hanya menghela napas, berusaha mengacuhkan tatapan mereka yang nggak bisa diartikan.
***
__ADS_1