
Pagi ini Zea sangat bersemangat, setelah berpikir semalaman, akhirnya dia memutuskan untuk bicara kepada Rey dan meminta maaf atas kejadian kemarin.
Zea berjalan dengan riang menuju meja makan, berharap bisa bertemu pria dingin itu, tapi ternyata hanya ada Mona dan Roni.
"Rey belum turun ya, Tan?" tanya Zea sembari celingukan kesana-kemari.
"Rey nggak pulang semalam, Ze! Katanya dia tidur di Restoran." jawab Mona.
"Haa ... di restoran mana, Tan?" Zea bertanya lagi karena selama tak pernah tahu jika calon suaminya memiliki restoran.
"Di Z.R Resto, itu restoran milik Rey." sahut Mona. "Om sudah menghubunginya, tapi ponsel Rey sepertinya mati, terus Om coba menghubungi satpam restoran, katanya Rey sempat pergi dari restoran lalu balik lagi sekitar pukul 01.00 dinihari dan setelah itu tidak keluar lagi."
Sejenak Zea terdiam dan berfikir.
"Jadi Z.R Resto itu miliknya? Pantas dia santai saja waktu aku nggak bayar makanan di restoran itu. Aku pikir sudah berhasil kerjain dia. Tapi kenapa dia nggak pulang ya? Aku harus menyusulnya ke sana." ucap Zea dalam hati.
"Hemm ... Om, Tante ... aku minta izin ke restoran Rey, ya?"
"Ya sudah, tapi kamu sarapan dulu ya, Ze?" Mona menyodorkan sepiring omelette dan segelas susu ke hadapan Zea.
"Nanti biar diantar supir saja, biar lebih aman!" Roni pun ikut bersuara.
Zea hanya mengangguk menyetujui keputusan Roni sambil menyantap sarapan di depannya.
***
Zea tiba di Z.R Resto yang masih tutup, ini masih terlalu pagi untuk sebuah restoran dan cafe buka.
Seorang satpam mendekati Zea yang terlihat bingung di depan pintu masuk yang masih terkunci.
"Maaf, Mbak siapa? Ada yang bisa saya bantu?" Satpam itu menatap heran pada Zea.
"Hemm ... saya calon istrinya Rey, pemilik restoran ini. Dia ada di dalam kan, Pak?"
__ADS_1
"Oh ... calon istrinya Mas Rey? Ada ... dia ada di dalam, tapi ..." Satpam itu menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal, merasa ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Tapi apa, Pak?" tanya Zea cemas.
"Tadi malam Mas Rey mabuk dan marah-marah, Mbak. Dia sepertinya lagi ada masalah. Hemm ... maaf ... saya jadi menggosipkan dia." Satpam itu tertunduk malu.
Zea tersenyum, walaupun hatinya khawatir. "Nggak apa-apa, Pak! Terima kasih informasinya. Saya boleh masuk?"
"Silakan ... silakan, Mbak!" Satpam itu membukakan kunci pintu restoran yang memang dia pegang.
Zea melangkah pelan memasuki restoran yang masih gelap dan kosong, dia mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari sosok dingin itu, tapi tidak dia temukan.
Zea terus berjalan, hingga dia berhenti di depan sebuah pintu di dekat dapur. Pelan-pelan Zea membuka pintu itu, seketika bau alkohol menyerbu indra penciumannya. Ruangan itu terlihat berantakan, barang-barang dan kertas-kertas berserak dimana-mana.
Mata Zea membulat sempurna saat melihat sosok yang sedari tadi dia cari tengah tidur terlentang di atas sofa, penampilannya sungguh kacau.
"Rey? Kamu baik-baik saja?" Zea mendekati Rey dengan langkah hati-hati.
Tapi Rey bergeming.
"Rey ... bangun!"
Tapi lagi-lagi Rey tak meresponnya apalagi bangun.
Zea mulai takut, dia menatap lekat dada Rey, meyakinkan dirinya bahwa pria itu masih bernafas, tapi dia sendiri tak yakin. Zea memberanikan diri untuk mendekatkan telinganya ke dada Rey demi bisa memastikan jika jantung lelaki itu masih berdetak.
"Syukurlah, dia masih hidup."
Namun tiba-tiba Zea memekik kaget saat kedua tangan Rey dengan cepat memeluknya.
"Kamu apa-apaan, sih? Lepaskan aku!" Zea berusaha melepaskan diri dari dekapan Rey, tapi lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, mungkin ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya." ucap Rey lirih.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Ada luka yang nggak bisa dikatakan. Karena sabar aku sakit, karena setia aku kecewa dan karena cinta aku terluka." ujar Rey ambigu.
"Sebenarnya kamu kenapa, sih? Bicaranya yang jelas!"
"Kalaupun pada akhirnya aku harus menyerah, paling nggak aku pernah mati-matian untuk nggak kalah dengan keadaan." lanjut Rey.
Setelah puas, Rey pun melepaskan pelukannya. Zea segera bangkit dan beranjak dari sisi lelakiku itu. Begitupun dengan Rey, dia duduk di sofa, wajah tampannya terlihat sendu.
"Rey, kamu kenapa mabuk-mabukan begini?"
Rey memaksakan senyuman. "Aku sudah putuskan, aku akan membatalkan pernikahan kita!"
Zea tercengang. "Apa ...?"
"Aku nggak ingin egois dan menghancurkan kebahagiaan orang lain demi mempertahankan kebahagiaanku. Aku nggak ingin memaksakan apapun lagi." lanjut Rey. Dia sedang mati-matian menahan rasa sesak dan sakit di dalam hatinya.
"Rey, aku minta maaf!"
"Kamu nggak salah, aku yang salah! Memang udah seharusnya seperti ini."
Zea mengembuskan napas berat. "Baiklah kalau memang itu keputusanmu, ini pasti yang terbaik. Tapi kita harus bilang ini kepada orang tua kita, mereka juga harus tahu keputusanmu."
"Baiklah, aku akan katakan kepada mereka!" Rey beranjak dan melangkah meninggalkan Zea di ruang kerjanya dengan berlinang air mata.
Melihat kepergian Rey, entah mengapa hati Zea terasa perih dan sakit. Tanpa sadar air matanya pun juga jatuh menetes.
"Kenapa aku sedih? Bukankah ini yang aku inginkan?" gumam Zea sembari mengusap air matanya.
Zea memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tapi matanya tertuju pada sebuah benda pipih yang tergeletak di lantai.
"Ini bukannya ponsel Rey, kenapa ada disini?" Zea memungut ponsel itu. "Ya ampun, layarnya retak. Apa dia begitu marah sampai melempar ponselnya hingga rusak begini? Bahkan dia juga mabuk-mabukan. Aku jadi merasa bersalah."
__ADS_1
Air mata Zea kembali jatuh, lalu buru-buru dia hapus dan keluar dari sana dengan membawa ponsel Rey. Tapi Rey sudah meninggalkan restoran, dia memutuskan untuk pulang kerumahnya.
***