
Setelah acara yang katanya lamaran itu berakhir, Zea kembali ke kediaman Daniswara karena dia masih harus kuliah. Setibanya di rumah Roni, Zea langsung melangkah masuk ke kamarnya.
Sedari tadi wajahnya masam, tak ada senyum yang terukir di bibirnya.
Rey pun tampak tak bersemangat, dia melangkah pelan ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.
Roni dan Mona yang melihat sikap Rey pun menjadi bingung.
"Tadi dia semangat sekali, kelihatannya bahagia banget. Tapi lihat sekarang?" Roni menunjuk Rey dengan ekor matanya.
"Sudahlah, Pa! Ayo kita istirahat!" Mona menarik lengan suaminya ke kamar, tapi Mona semakin yakin pasti terjadi sesuatu dengan putranya.
Di dalam kamarnya Zea menangis sejadi-jadinya, rasa kesal dan marah bercampur jadi satu dihatinya.
Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan lagi, hanya air mata yang terus mengalir di pipinya.
Dia sudah kehilangan impian dan kebebasannya untuk memilih, dia merasa hidup ini terlalu tidak adil untuknya
Begitu juga dengan Rey, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya.
Rey teringat kata-kata Zea tadi, seketika hatinya seperti ditusuk-tusuk.
"Mengapa aku sesakit ini? Bertahun-tahun aku menjaga hati ini untukmu, tapi hari ini kau mematahkannya. Aku menikahi mu bukan karena rencana apapun, aku hanya menyayangimu. Apa salah jika aku ingin memiliki sesuatu yang aku sayangi?" Rey mengoceh sendiri dengan lirih.
Rey mengembuskan napas berat, berusaha meredam rasa nyeri yang menghantam relung hatinya.
***
Mentari pagi sudah mulai merangkak naik, cahayanya masuk ke tingkap-tingkap rumah dan membawa kehangatan.
Tampak sepasang anak manusia dengan wajah masamnya duduk di meja makan, mengaduk-aduk sarapannya dalam diam.
__ADS_1
Rey yang sudah menyelesaikan sarapannya, masih menunggu Zea yang hanya membolak-balikkan makanan di piringnya.
Sadar jika Rey sedang menunggunya, Zea langsung berdiri dan pamit kepada Roni juga Mona, lalu melangkah keluar rumah meninggalkan sarapan yang masih tersisa.
Rey yang melihat sikap Zea, hanya menghela napas, lalu menyusul gadis itu keluar.
Roni dan Mona semakin bingung melihat tingkah dua orang itu.
"Apa keputusan Rey menikahi Zea itu benar? Mereka bahkan tidak terlihat baik-baik saja. Rumah tangga seperti apa yang akan mereka jalani nanti?" Roni menatap nanar ke arah pintu keluar.
"Haaa ... sudahlah, Pa! Kita jadi penonton saja, biar mereka yang selesaikan semua ini dengan cara mereka sendiri. Lagipula mereka masih muda, perjalanan mereka masih panjang untuk belajar mencintai dan menerima satu sama lain." Mona mengelus punggung tangan suaminya, berusaha menenangkan pria yang dia cintai itu
Diperjalanan, Zea hanya diam memandang keluar jendela, sedikitpun dia tidak berniat untuk menatap Rey apalagi berbicara dengannya. Begitu juga dengan Rey, dia cuma fokus menyetir tanpa bicara sedikitpun.
Sesampainya di parkiran kampus, Zea langsung keluar tanpa menunggu Rey dan berjalan cepat meninggalkan parkiran.
Rey hanya menatap punggung Zea yang sudah menjauh, lalu dia pun keluar dari mobil, berjalan pelan menuju ruangannya.
"Zea ...! Hentikan ...!" bentakan Rey mengagetkan semua orang termasuk Zea dan Kikan.
Dengan liciknya Kikan pura-pura menangis dan kesakitan, mencoba mencari simpati dan pembelaan dari Rey.
"Pak Rey, pipi saya sakit. Aduuuuhh ...!" Kikan berbicara dengan manja sambil mengelus pipinya yang memerah karena ditampar Zea tadi.
Rey mengacuhkan aduan Kikan, dia menatap tajam ke arah Zea dan gadis itu hanya tertunduk diam.
Ruby yang berada di dekat Zea pun menjauh dari sahabatnya itu, dia takut melihat tatapan tajam dosennya itu.
"Ikut keruangan saya!" Rey menarik lengan Zea, membuat gadis itu pasrah mengikuti langkahnya.
Zea tahu tidak seharusnya dia melakukan kesalahan lagi seperti hari itu, tapi dia sungguh kesal dan marah mendengar ucapan Kikan tadi.
__ADS_1
**
Zea yang baru datang dari parkiran dihadang oleh Kikan dan Jessy, Zea menatap kesal lalu berusaha untuk berlalu dari hadapan kedua gadis itu, tapi kata-kata Kikan benar-benar membuatnya marah.
"Ini dia si gadis penggoda, belum puas dia menggoda Keanu di kampus, di luar kampus dia malah menggoda Pak Rey. Dasar murahan ...!" dengan gaya angkuhnya Kikan memfitnah Zea, membuat mahasiswa lain yang mendengarnya ikut menatap sinis ke arah Zea.
Plaaakk ...!
Zea spontan menampar pipi Kikan tepat bersamaan dengan kedatangan Rey.
**
Zea duduk di hadapan Rey tanpa menatap pria itu, dia hanya diam dan melipat tangan di depan dada, tidak ada niat sedikitpun untuk mulai bicara.
Rey pun juga diam sembari membolak-balik berkas di hadapannya, kemudian dia melirik ke arah Zea, tapi sekarang gadis itu malah fokus bermain ponsel miliknya seolah-olah tidak menganggap Rey ada.
Rey yang kesal langsung merebut ponsel Zea dan menyimpannya di dalam saku celana, membuat Zea berang dan emosi.
"Kenapa sih kau itu selalu saja menggangguku?" sungut Zea.
"Aku mengganggu? Kalau begitu kita sama, kau juga selalu mengganggu pikiranku." balas Rey.
Seketika Zea tertawa terbahak-bahak, dia merasa geli mendengar ucapan Rey itu.
"Kenapa ketawa?"
"Habis gombalan mu lucu, kayak lagi ngelawak. Hahaha ...." Zea tak bisa berhenti tertawa, seolah dia melupakan apa yang sedang terjadi.
Rey yang sadar telah gagal menggombal, kini hanya tertunduk malu. Tapi dia senang bisa melihat Zea tertawa seperti itu.
***
__ADS_1