Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Hari Bahagia


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, acara diselenggarakan di kediaman Danadyaksa, tepatnya di taman belakang yang dihias sedemikian rupa, karena pernikahan ini berkonsep garden party.


Acaranya sangat sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan kerabat kedua mempelai, karena mereka ingin acara sakral ini berjalan dengan khidmat.


Semua mata takjub saat melihat sosok kedua mempelai yang sangat tampan dan cantik. Kini keduanya telah resmi menjadi suami istri. Akhirnya impian Rey mempersunting Zea, kini menjadi kenyataan. Senyum bahagia tak bisa keduanya sembunyikan, mereka terlihat sangat serasi dan romantis.


Tapi seseorang di sudut taman hanya memandang mereka dengan perasaan sedih, ingin rasanya dia meninggalkan tempat itu, tapi keadaan menggugurkan niatnya.


"Kak, kenapa disini? Kakak nggak mau mengucapkan selamat kepada mereka?" tanya Ruby.


Vano tersenyum berusaha menutupi kesedihan hatinya, "Hemm ... iya nanti aku pasti mengucapkan selamat, aku cuma lagi ingin sendiri saja."


Ruby yang mengerti kegusaran hati Vano, mengelus pundak Kakaknya itu, "Aku mengerti, kok! Kakak harus ikhlas!"


Vano mengerutkan dahinya, "Maksud kamu?"


"Kakak pasti tahu maksud aku, kalau Kakak memang menyayanginya, doakan dia bahagia selalu!" ujar Ruby. "Aku kesana dulu ya, Kak!"


Ruby pun berlalu meninggalkan Vano yang masih terpaku ditempatnya.


"Ruby tahu aku menyukai Zea, padahal aku selalu menutupi perasaan ini." batin Vano.


Vano pun memutuskan untuk menghampiri kedua mempelai.


"Selamat ya, Ze! Semoga bahagia selalu!" ucap Vano dengan senyum mengembang.


"Terima kasih, Kak! Kakak kapan menyusul? Jangan lama-lama, dong! Entar keburu tua." ledek Zea.


Vano hanya tersenyum getir, lalu beralih memandang Rey dan seketika senyumnya memudar, berganti dengan wajah serius, "Selamat, ya! Aku titip Zea, kalau kau berani menyakitinya, aku habisi kau!"

__ADS_1


Rey menyunggingkan senyum, "Kau nggak perlu khawatir! Itu nggak akan terjadi!"


Vano hanya tersenyum kecut, lalu beranjak pergi dari hadapan sepasang pengantin baru itu dengan perasaan yang penuh duka.


Rey menatap kepergian Vano, lalu bergumam dalam hati. "Aku tahu kau kecewa, karena kau juga mencintainya, Rekha. Tapi sekarang dia milikku! Dan selamanya akan tetap jadi milikku!


"Hai, Ze! Selamat menempuh hidup baru!" seru Keanu dan membuyarkan lamunan Rey.


"Terima kasih ya, Ken." sahut Zea.


Keanu lalu beralih memandang Rey. "Selamat ya, Pak."


Rey mengangguk. "Terima kasih."


Keanu tersenyum, berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, walaupun hatinya sedang porak poranda.


***


Kini kedua pengantin baru itu telah berada di dalam kamar, ada rasa canggung saat mereka harus berbagi kamar apalagi berbagi ranjang.


Karena seharian memakai kebaya membuat Zea gerah dan berkeringat, dia bergegas masuk ke kamar mandi. Rey yang duduk di sofa kamar itu hanya memandangi istrinya, sebenarnya dia sedang menenangkan hatinya dan berusaha agar terlihat tidak tegang. Telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdegub kencang, membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Beberapa saat kemudian, Zea keluar menggunakan piyama tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Rey masih memandangi istrinya itu, membuat Zea gugup dan risih sendiri.


"Kenapa memandangiku seperti itu? Kamu nggak mandi?" cecar Zea.


"Iya, ini mau mandi." jawab Rey, dan langsung beranjak ke kamar mandi.


Zea menghembuskan napas lega, meskipun dia masih gugup, "Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku belum siap!"

__ADS_1


Zea bergegas naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya yang memang sangat lelah karena seharian berdiri menyambut tamu, dan nggak perlu waktu lama, dia sudah tertidur pulas.


Rey yang sudah selesai pun keluar dari kamar mandi, dia memandang Zea yang sudah terlelap.


Dengan dada berdebar, Rey naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Sekejap Rey memandangi wajah cantik Zea yang tengah tertidur, dia mengusap pucuk kepalanya dan mencium kening istrinya itu.


"Aku mencintaimu." ucap Rey sambil terus memandangi wajah cantik Zea yang terlihat damai, hingga lama-kelamaan dia pun ikut tertidur.


Sementara itu di sebuah klub malam, Vano sedang duduk sendiri dengan tatapan yang sayu, botol-botol minuman keras berserakan di hadapannya. Setelah mengantar Lisa dan Ruby, dia memutuskan untuk menenangkan pikiran ke tempat ini, berharap bisa sejenak melupakan kesedihannya.


Sebenarnya ini untuk pertama kalinya Vano meminum minuman beralkohol, sebagai seorang dokter dia sadar betul bahayanya minuman haram itu. Tapi entah mengapa sekarang hanya ini yang ingin dia lakukan.


"Iya, adikku benar! Aku harus ikhlas! Harusnya aku merasa bahagia jika melihatmu bahagia, tapi kenapa aku malah merasakan sakit di hati ini?" Vano mengoceh sendiri.


"Aku sangat menyayangimu, Zea. Tapi kenapa kau malah menikah dengan si berengsek itu?" lanjut Vano, lalu kembali menenggak minuman keras di tangannya.


***


Di sebuah rumah yang mewah dan megah, seorang gadis cantik dan seksi sedang menangis sejadi-jadinya. Siapa lagi kalau bukan Karina yang lagi patah hati.


"Sudahlah, Kak! Jangan menangis terus! Pak Rey bukan jodohmu, dia sudah menikah sekarang. Berhentilah mengharapkannya!" ujar Kikan.


"Kamu nggak tahu bagaimana perasaan aku! Aku sangat mencintainya, sudah bertahun-tahun aku mengejarnya, tapi sekarang dia malah menikah dengan gadis lain." sahut Karina dengan air mata berlinang.


"Kakak harus ikhlas! Masih banyak pria lain di luar sana yang jauh lebih tampan dan keren dari Pak Rey. Mereka pasti nggak akan menolak Kakak." Ucap Kikan menghibur Karina.


"Tapi aku maunya Rey. Aku mencintai dia."


Kikan mengembuskan napas berat, dia kasihan melihat sang kakak yang patah hati, tapi dia juga merasa lega karena Zea sudah menikah. Itu berarti tidak ada lagi yang akan menggangu Keanu.

__ADS_1


***


__ADS_2