
Seharian ini Zea hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, tak ada yang bisa dia kerjakan, dia benar-benar jenuh.
Tiba-tiba Zea teringat sesuatu, dia meraih ponselnya lalu mencari-cari nomor telepon Keanu, tapi dia sama sekali tidak menemukannya. Bahkan pesan-pesan yang tertinggal juga hilang tanpa bekas, kali ini Zea sangat marah dan kesal.
"Ini pasti ulah dia!" Zea menggenggam erat ponsel di tangannya.
Zea ingin melabrak Rey, tapi urung. Karena itu percuma saja, dia sadar tidak akan menang beradu mulut dengan pria dingin itu.
Zea pun hanya mengirimkan pesan protesnya kepada Rey.
"AKU TAHU KAMU YANG HAPUS NOMOR KEANU DAN SEMUA PESANNYA, KAN?"
Rey tidak membalas pesan Zea, membuat gadis itu semakin meradang.
"KAMU LUPA, YA? KEANU ITU TETANGGA KAMU, DAN AKU BISA MAIN KE RUMAHNYA LALU MEMINTA NOMORNYA LAGI."
Dan kali ini Rey membalas pesan Zea dengan cepat.
"JANGAN COBA-COBA KELUAR DARI RUMAH!"
"Dasar gila! Bahkan dari pesan pun dia bisa memerintah orang seenak jidatnya, memangnya dia pikir aku akan menurut padanya? Lihat saja apa yang akan aku lakukan!"
Zea tidak membalas pesan dari Rey itu, dia bergegas turun dan melangkah keluar rumah.
Zea memberanikan diri masuk ke pekarangan rumah Keanu, lalu memencet bel. Selang beberapa saat, pintu rumah itu pun terbuka.
"Hai, Ze! Tumben main ke rumahku?"
Zea hanya tersenyum.
"Mari masuk!"
"Nggak usah! Aku sebentar saja, kok." Tolak Zea. "Aku ke sini cuma mau minta nomor kamu, yang kemaren sudah terhapus."
Keanu mengernyit heran. "Hilang?"
Zea mengangguk dengan wajah cemberut. "Iya, lebih tepatnya sih dihapus oleh dosen gila itu."
__ADS_1
"Kok bisa? Bagaimana ponsel kamu bisa ada di dia?"
"Panjang ceritanya, Ken." sahut Zea. "Dia juga melarang aku keluar rumah, bahkan dia nggak izinkan aku kuliah. Aku sudah seperti tawanan."
"Gila itu orang!" balas Keanu. "Sebenarnya kalian ada hubungan apa sih?"
Pertanyaan Keanu membuat Zea terdiam dan gugup, dia bingung harus menjawab apa?
"Ze, kenapa diam?"
"Hemm ... sebenarnya aku dijodohkan dengan dia, kami sudah bertunangan." jawab Zea.
Keanu terkesiap mendengar pengakuan Zea, hatinya mendadak panas dan perih. Sekarang
"Jadi kalian akan segera menikah?" Keanu memastikan. Sekarang dia tahu kenapa Rey memintanya untuk menjauhi Zea.
Zea kembali mengangguk dengan wajah keruh. "Iya. Sebenarnya aku nggak mau, tapi aku nggak bisa menolak, Ken. Aku terpaksa menerima perjodohan ini."
"Kenapa? Kalau kamu nggak mau, kamu berhak menolak, Ze! Ini hidup kamu dan kamu yang jalani." ujar Keanu kesal.
Zea hanya menggeleng sambil menatap sendu Keanu, "Andai aku bisa, Ken. Tapi sayangnya nggak bisa."
Seketika jantung Keanu berdegup kencang saat tatapan mata mereka bertemu, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik kuat lengan Zea sehingga gadis itu bergeser dari posisinya semula, dan tangan Keanu terlepas dari pipinya.
Keduanya kaget saat melihat Rey sudah berdiri dengan tatapan tajam.
"Ayo, pulang!" Rey menarik Zea.
"Lepaskan! Nggak usah tarik-tarik!" Zea memberontak.
Melihat kejadian itu, Keanu memberanikan diri untuk bersuara.
"Jangan paksa dia menikah dengan Anda, Pak! Karena dia nggak mencintai Anda dan dia berhak memilih jalan hidupnya!" teriak Keanu, membuat langkah kaki Rey terhenti dan berbalik menatapnya nyalang.
"Lalu siapa yang dia cintai? Kau?"
Keanu terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Rey itu.
__ADS_1
Rey kembali mencengkram kuat lengan Zea dan menarik gadis itu pergi dari rumah Keanu.
"Lepaskan! Tanganku sakit!!" pekik Zea, tapi Rey tak peduli.
Keanu masih terpaku menatap kepergian mereka, rasa kesal dan geram masih tertanam di hatinya.
"Kalau saja kau bukan dosenku, sudah ku hajar kau, berengsek ...!"
***
Rey menarik Zea sampai ke dalam kamarnya dan menutup pintu lalu menghempaskan gadis itu keranjang.
Mona dan Roni yang melihat kejadian itu menjadi khawatir dan penasaran, apa yang terjadi?
"Ada apa, Rey?" Mona bertanya dari balik pintu kamar Rey.
"Nggak ada apa-apa, Ma! Tenang aja!"
"Tapi kenapa kamu menarik Zea begitu?" sambung Roni.
"Aku sedang ada urusan dengan dia. Jadi tolong tinggalkan kami!" balas Rey.
Mendengar kata-kata putranya itu, Roni dan Mona pun memutuskan untuk membiarkan mereka.
Rey menatap tajam Zea yang sedang duduk di tepi ranjang, dia benar-benar kesal melihat tingkah gadis itu dan juga Keanu.
"Kenapa kau selalu membuatku marah dan kecewa? Aku hanya ingin kita hidup bersama karena aku mencintaimu! Apa itu nggak cukup untuk membuatmu mengerti dan berhenti menghina cintaku?" teriakan Rey memenuhi langit langit kamarnya.
Zea hanya tertunduk sambil menelan ludah, dia tak berani menatap Rey apalagi menjawabnya.
"Apa aku harus berlutut dan mengemis di hadapanmu? Agar kau mau menerimaku! Bertahun-tahun aku menahan rasa ini, kau tahu betapa sulitnya aku menjaga perasaan ini demi seseorang yang bahkan nggak pernah peduli dengan perasaanku?" lanjut Rey dengan suara yang bergetar menahan kekecewaan.
Air mata Zea seketika jatuh menetes, dia merasa bersalah karena telah membuat Rey marah dan sakit hati.
"Sekarang terserah! Kau masih mau pernikahan kita dilanjutkan atau nggak! Aku nggak pernah memaksamu!" pungkas Rey kemudian keluar dari kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Meninggalkan Zea yang masih tertunduk dan menangis.
__ADS_1
***