
Mata kuliah hari ini telah berakhir, Zea dan Ruby duduk di kursi dekat parkiran, menunggu Rey yang masih ada urusan dengan rektor.
Dari kejauhan terlihat sosok imut yang berlari menghampiri mereka, dan langsung mendaratkan bokongnya tepat di samping Zea, membuat gadis itu sedikit bergeser karena takut Rey melihatnya.
Sudah seminggu ini Zea berusaha menjaga jarak dengan Keanu, dia tak ingin membuat Rey cemburu dan marah lagi.
"Kenapa belum pada pulang?" tanya Keanu.
"Aku lagi menunggu Rey." jawab Zea.
Keanu celingukan kesana-kemari. "Memangnya dia ke mana?"
"Katanya masih ada urusan dengan rektor."
"Lama-lama kamu kayak emak-emak komplek, kepo!" Ruby meledek Keanu.
"Enak saja bilangin aku emak-emak komplek? Dasar ubur-ubur bikini bottom!" balas Keanu.
Zea hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya ini, mereka selalu melempar ejekan jika sudah bertemu, tapi tetap saling perduli satu sama lain.
"Ze, apa sih rasanya menikah dengan manusia sedingin Pak Rey? pasti kamu kedinginan terus kalau didekat dia." Seloroh Keanu.
"Salah! Malah bawaannya panas terus kalau di dekat dia."
Keanu menautkan kedua alisnya. "Kok gitu? Kamu nggak bahagia ya, Ze?"
"Kamu kepo banget, sih? Beneran seperti emak-emak komplek, deh!" Ruby kembali meledek Keanu.
"Lama-lama aku cium baru tahu rasa! Menyambar saja kayak petir!" tutur Keanu.
"Cih, amit-amit dicium sama tokek belang!"
"Emang dasar kadal beracun! Awas kamu ya!"
Keanu berdiri dan hendak menerkam Ruby, membuat tubuhnya berada dekat dengan Zea.
__ADS_1
"Hei, sudah-sudah!" Zea menengahi sambil mendorong Keanu agar menjauh dari mereka.
Dari kejauhan Rey melihat kelakuan ketiga mahasiswanya itu, dan langsung menghampiri mereka.
"Zea!!" bentak Rey.
Mendengar suara Rey, Keanu sontak berhenti menggoda Ruby dan berbalik. Begitupun dengan Zea dan Ruby, keduanya memandang Rey sambil menelan ludah.
Perlahan Zea berdiri mendekati Rey. "Kamu sudah selesai?"
Rey tak menggubris pertanyaan Zea, dia justru menatap tajam Keanu. "Saya peringatkan, jangan dekat-dekat dengan istri saya lagi! Mengerti?"
Keanu mengangguk. "I-iya, Pak."
Rey kemudian berbalik dan menarik Zea. "Ayo, pulang!"
Zea hanya pasrah mengikuti suaminya yang cemburuan itu.
Keanu dan Ruby memandangi mobil Rey yang menjauh.
"Itu bukti kalau suaminya cinta mati dengan Zea, makanya suaminya itu takut kehilangan dia."
"Dasar suami bucin!" umpat Keanu kesal.
"Tapi kamu hebat! Aku salut" tutur Ruby.
Keanu menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan kata-kata Ruby, "Hebat apanya?"
"Kamu bisa menyimpan perasaanmu kepada Zea, dan masih bisa bersikap biasa saja di depannya. Padahal hatimu pasti sakit melihat dia menikah dengan orang lain. Kamu tutupi rasa cintamu dengan persahabatan, kan itu hebat!"
"Sok tahu kamu! Sudah ah... aku mau pulang!" sanggah Keanu dan langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku memang tahu, kok! Kamu jangan ngeles! Eh... tunggu! Aku pulang sama siapa?" Ruby berlari kecil menyusul langkah Keanu.
"Bodoh amat!"
__ADS_1
Keanu memegang dadanya yang berdebar kencang.
"Kau benar, aku memang sakit! Tapi aku akan bahagia jika dia bahagia. Biar sakit ini jadi milikku sendiri." batin Keanu.
***
Sementara itu di dalam mobil, suasana sangat hening. Rey sama sekali tak mau bicara pada Zea, dia sedang berusaha menenangkan diri sampai amarahnya mereda, sebab dia tak ingin terbawa emosi.
Begitu pun setelah tiba di rumah, Rey tetap diam, membuat Zea frustasi melihat sikap suaminya itu. Tapi dia tak berani memulai pembicaraan, karena dia tahu telah bersalah.
Hingga malam pun datang, Rey tetap betah membisu, bahkan saat makan malam pun nggak ada pembicaraan sama sekali, hanya ada suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring. Roni dan Mona hanya saling pandang melihat tingkah sepasang pengantin baru itu.
Begitulah sikap Rey kalau sedang marah, dia akan diam seribu bahasa sampai emosinya reda. Tak jarang dia akan menyendiri untuk menenangkan pikirannya. Namun hal itu tak dimengerti oleh Zea.
Setelah makan malam selesai, Rey langsung kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Tak lama Zea pun datang membawakan segelas teh hangat, berharap suaminya itu luluh.
"Aku buatkan teh hangat, minum dulu, ya." Zea menyodorkan gelas kearah Ray.
"Letak saja di meja." jawab Rey tak acuh.
Zea meletakkan gelas berisi teh itu di atas meja, lalu mengembuskan napas panjang. "Baiklah, aku minta maaf! Aku salah karena sudah berdekatan dengan Keanu, tapi tadi itu tidak sengaja. Dia sedang bercanda dengan Ruby."
Tapi Rey tak menghiraukannya sama sekali, membuat emosi Zea benar-benar meledak.
"Mau kamu apa, sih? Aku sudah minta maaf, tapi kamu masih diam juga! Kamu seperti anak kecil!" bentak Zea.
Rey terkejut mendengar Zea membentaknya dan sontak menatap istrinya itu.
"Apa? Mau marah? Marah saja! Aku nggak perduli!" lanjut Zea, dia kemudian keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras.
Rey memutuskan untuk menyusul Zea.
***
__ADS_1