
Sepanjang perjalanan Zea terus merengek agar Rey mengembalikan ponsel miliknya, tapi pria itu hanya diam dan tidak memperdulikan rengekannya. Sampai tiba di rumah pun, Zea terus mengikuti Rey sampai ke depan kamarnya dengan wajah cemberut.
"Aku mau mandi, mau ikut juga?" tanya Rey yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Pertanyaan Rey itu membuat Zea membelalakkan matanya dan menggeleng cepat, "Haaa ... ya nggaklah! Aku cuma mau ponselku!"
"Sudah aku katakan, kalau mau ponsel kamu, ambil sendiri. Siapa suruh kamu meninggalkannya di ruanganku." Rey masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.
"Apa?! Bukannya kamu yang merampas dan menyita ponselku?" teriak Zea, tapi tidak digubris oleh Rey.
Zea semakin kesal dengan ucapan Rey barusan.
Di dalam kamar, Rey mengeluarkan ponsel itu dari sakunya, dia mencari nomor Keanu lalu memblok dan menghapus nomor itu. Kemudian menyimpan ponsel Zea di dalam laci meja nakas. Ada rasa senang dihatinya, karena ulahnya ini Zea jadi terus mendekatinya.
Rey pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Zea yang masih terpaku di depan pintu kamar Rey, akhirnya mendapatkan ide, dia berniat untuk masuk secara diam-diam lalu mengambil kembali ponselnya.
"Tadi kan katanya dia mau mandi, pasti dia meninggalkan ponselku. Aku harus mengambilnya sebelum dia selesai mandi."
Zea membuka pintu kamar Rey yang kebetulan tidak terkunci dengan sangat hati-hati. Tampak kamarnya begitu rapi, warna putih dan abu abu mendominasi nya, wangi khas pria begitu tercium di kamar ini. Membuat Zea kagum melihatnya.
"Wah ... kamarnya rapi sekali, harus lagi." gumam Zea takjub.
Zea mulai melangkah masuk, dia mengedarkan pandangan ke segala arah, tak terlihat sosok Rey dikamar itu. Dari arah pintu kamar mandi, dia mendengar suara gemericik air.
"Dia sedang mandi, aku harus cepat."
Zea masuk tanpa menutup pintu, buat jaga-jaga kalau Rey tiba-tiba selesai mandi, dia bisa segera berlari keluar.
Zea celingukan kesana-kemari mencari ponselnya, tapi tidak dia temukan.
__ADS_1
"Dia simpan di mana, sih?" gerutu Zea.
Mata Zea tertuju pada laci meja nakas. "Apa jangan-jangan di situ?"
Zea langsung mendekati meja nakas dan membuka lacinya.
"Akhirnya ketemu juga!" seru Zea girang.
"Sudah ketemu yang dicari?" suara Rey tiba-tiba mengagetkan Zea.
Zea sontak berbalik memandang Rey yang sudah berdiri di belakangnya dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk di pinggang.
Zea langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, bahkan dia sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Kenapa menutup wajah kamu begini?." goda Rey sembari menyingkirkan tangan Zea dari wajahnya.
"Jangan sentuh aku!"
Akhirnya Zea pasrah dan membuka matanya, tapi dia hanya tertunduk tak berani menatap Rey. Ada rasa takut bercampur malu di hatinya, mungkin keputusannya salah karena telah masuk ke kamar pria dingin ini.
"Nggak baik masuk ke kamar orang lain tanpa izin, tapi karena kamu calon istriku, maka aku maafkan. Tapi kamu tetap aku hukum." Ucapan Rey membuat Zea lega sekaligus kesal.
"Gimana, sih? Sudah dimaafkan tapi masih dihukum juga?" Zea menatap tajam ke arah Rey seolah-olah dia lupa bahwa sedang jadi tersangka.
"Karena kamu protes, hukumannya aku tambah!"
Ucapan Rey ini membuat Zea semakin kesal.
"Bodo amat! Terserah kamu!"
Zea bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai lalu hendak melangkah pergi, tapi Rey menarik lengan gadis itu. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, Zea pun terjatuh di atas ranjang dan refleks menarik Rey. Mereka jatuh dengan posisi Rey menindih tubuh Zea dan tanpa sengaja bibir keduanya saling bersentuhan, membuat tatapan mereka bertemu. Jantung Rey dan Zea seketika berdebar tak karuan.
__ADS_1
Apesnya Mona tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rey karena mendengar suara ribut-ribut dan kebetulan pintu kamar itu tidak tertutup.
"Apa-apaan kalian?" Hardik Mona, membuat Zea dan Rey kaget.
Dengan cepat Zea mendorong tubuh Rey, pria itu segera bangun dari atas tubuh Zea.
Keduanya duduk di tepi ranjang dan tertunduk malu.
"Kalian harus menjaga diri, seminggu lagi, kok." ujar Mona.
"Maaf, Tan. Ini hanya kecelakaan!" Sanggah Zea.
"Iya, Ma. Jangan berpikiran yang tidak-tidak!" sela Rey.
"Baiklah, kali ini Mama percaya pada kalian. Tapi awas kalau kejadian lagi!" ancam Mona.
Rey dan Zea hanya mengangguk.
Mona pun melenggang pergi meninggalkan kamar Rey sembari mengulum senyum.
"Ini semua gara-gara kamu! Buat malu saja!" Zea mengambil ponselnya lalu beranjak pergi meninggalkan Rey yang masih duduk di tepi ranjang.
"Lembut sekali." gumam Rey sambil meraba bibirnya, meskipun bukan yang pertama, tapi cukup membuat jantungnya berdentam.
Zea masih terpaku di balik pintu kamarnya sambil memegangi dadanya. "Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar kencang sekali?"
Zea beralih menyentuh bibirnya. "Ini pertama kalinya bibirku dicium seseorang."
"Nggak ... nggak.... ini cuma kecelakaan! Jangan baper, Ze!" Zea mencoba menepis semua yang ada di hati dan pikirannya, dia tak mau terbawa suasana.
Zea tak tahu bahwa sebenarnya Rey juga pernah menciumnya saat memberi bantuan napas buatan waktu itu karena dia sedang pingsan.
__ADS_1
***