Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Permintaan Maaf.


__ADS_3

Suasana sudah mulai tenang meskipun masih ada guratan emosi di wajah Rey dan Vano, mereka saling melempar tatapan sinis jika beradu pandang.


Sebenarnya Vano masih kecewa dan marah, tapi atas desakan Sandra dan Ruby akhirnya Vano mengalah dan meminta maaf kepada Roni.


"Hemm ... aku minta maaf karena sudah bersikap nggak baik kepada Om, terima kasih sudah menjaga Ibu dan Adikku serta Tanteku." ucap Vano.


"Sudahlah, Van! Om mengerti perasaan kamu, Om juga minta maaf, ya?" balas Roni sambil menepuk pundak Vano pelan.


Vano hanya tersenyum.


"Aku bisa memaafkan Ayahmu, karena dia sudah baik kepada Ibu dan Adikku. Tapi aku tetap membencimu, Bocah Sombong." batin Vano, dia melirik Rey yang duduk di samping Zea.


Rupanya sikap dingin Rey semasa kecil membuat Vano menjadi tidak suka kepadanya, ditambah lagi rasa marahnya kepada Roni dan semua orang.


Vano beranggapan bahwa Rey yang sombong enggan berteman dengannya karena dia hanya anak seorang supir.


Tanpa dia ketahui bahwa Rey yang bersikap introver itu selalu ingin bermain dengannya dan Ruby, tapi rasa malunya lebih besar dari keinginannya itu. Hingga dia hanya berani mengintip mereka dari jauh.


Bahkan Rey sangat sedih ketika Vano diadopsi oleh Alex dan Ruby dibawa oleh Lisa.


Makanya sejak saat itu, Rey hanya fokus memperhatikan Zea yang selalu berada di dekatnya tanpa memedulikan teman yang lain.


"Hemm ... aku juga minta maaf atas semua kekacauan ini, aku benar-benar nggak tau kalau ..." Zea tak sempat melanjutkan kata-katanya saat suara seseorang terdengar dari depan pintu utama.


"Maaf, kami terlambat! Sepertinya sudah selesai, ya?" Alex berjalan cepat ke arah ruang keluarga disusul oleh Cindy.

__ADS_1


"Kak Alex, Mbak Cindy? Kok nggak kabari dulu mau datang?" Sandra yang kaget lalu mendekati mereka.


"Aku terburu-buru, pulang kerja aku langsung berangkat ke sini, karena calon manten ini mendesak ku untuk secepatnya datang. Aku bahkan nggak sempat mandi." adu Alex sambil melirik ke arah Zea.


Mendengar pernyataan Alex, semua orang menatap Zea dengan penuh tanda tanya.


"Bisa dimulai penjelasannya Nona Zeamika?" Adam menyindir putrinya itu.


"Aku sengaja memanggil Om Alex agar bisa menjelaskan kenapa dia mengganti nama Rekha menjadi Vano? Aku sudah menceritakan semuanya kepada Om Alex. Aku nggak sangka keadaannya akan kacau seperti tadi." ujar Zea.


"Harusnya kamu memberitahukan kami terlebih dahulu, jangan bertindak sendiri." Adam memarahi Zea.


"Maaf ...!"


"Sudahlah, aku sudah disini! Apa penjelasanku masih dibutuhkan? Kalau tidak, aku mau mandi dan istirahat!" sela Alex.


Alex berjalan mendekati putra angkatnya itu, lalu tanpa diduga Alex memeluknya erat, "Maafkan Papa, Van! Papa sudah egois."


Vano hanya diam terpaku tanpa membalas pelukan Alex, "Jelaskan kenapa namaku harus diganti? Kenapa jejak masa laluku seolah dihapus dari hidupku?"


"Saat itu Papa hanya takut orang-orang tahu masa lalumu, kejadian yang menimpa kedua orang tuamu. Terlalu banyak saingan bisnis Papa yang mengorek informasi tentangmu, Papa nggak ingin mereka membuat berita buruk tentangmu, Van."


Vano sontak melepaskan pelukan Alex. "Sebegitu memalukannya kah kisah keluargaku, hingga semuanya harus disimpan serapat mungkin? Aku nggak minta semua ini, aku hanya ingin bahagia bersama orang yang kusayangi ... Adik dan Ibuku! Selama ini aku pasrah dan menurut karena aku ingin balas budi atas kebaikan kalian. Tapi aku merasa seperti orang bodoh yang kalian permainkan!"


"Sekali lagi maafkan Papa, Van! Papa memang bersalah, Papa lakukan semua itu karena Papa sayang kepadamu, Papa nggak ingin ada yang mengusik hidupmu termasuk berita-berita miring yang bisa saja mempengaruhimu lalu akhirnya kau meninggalkan kami, Papa dan Mama nggak mau kehilangan kamu, kami menyayangimu." Alex berbicara dengan suara bergetar.

__ADS_1


Cindy mendekati Vano dan menggenggam tangannya, "Kau putra kami, selamanya akan tetap menjadi putra kesayangan kami. Maaf kami telah menjadi orang tua yang egois, itu karena kami sangat menyayangimu."


Melihat Cindy menangis, terbesit perasaan bersalah dan menyesal di hati Vano karena sudah bersikap kasar terhadap kedua orang tua angkatnya itu.


"Ma, maafkan aku! Nggak seharusnya aku berbicara kasar kepada kalian. Aku minta maaf!" Seketika Vano langsung memeluk Cindy dengan erat.


Lalu Vano berganti memeluk Alex, "Maafkan aku, Pa!"


"Papa juga minta maaf ya, Nak!" Alex membalas pelukan putranya itu dengan sangat erat.


Bagaimana pun juga Vano sangat menyayangi kedua orang tua angkatnya itu, terlebih kepada Cindy.


Sekali lagi adegan penuh haru ini telah menguras air mata semua orang, ada rasa sedih sekaligus bahagia.


Mereka sengaja membiarkan Vano dan kedua orang tua angkatnya itu meluapkan isi hati mereka.


Setelah keadaan kembali tenang, keluarga Daniswara pun berpamitan pulang. Adam dan Sandra mengantar mereka sampai ke depan rumah, Zea dan Rey berjalan di belakang orang tua mereka.


Tiba-tiba Rey menghentikan langkahnya, dan diikuti oleh Zea yang menatapnya heran.


"Aku masih belum memaafkanmu atas semua kekacauan tadi, kamu bahkan nggak mengobati bibirku yang terluka. Aku akan menghukummu nanti!" Rey melanjutkan kembali langkahnya dan meninggalkan Zea yang masih mematung setelah mendengar kata-katanya.


Sementara yang lain masih berbincang bincang melepas rindu, terutama Vano, Ruby dan Lisa yang masih terlihat kaku tapi tetap berusaha saling berbagi cerita. Malam ini Lisa dan Ruby menginap di rumah Adam, begitu juga dengan Alex dan Cindy.


Selesai sudah adegan yang mengharu biru, walaupun masih menyelipkan kekesalan di hati Vano kepada Rey. Terlepas dari semua masalah ini, Vano mungkin membencinya karena rasa cemburu.

__ADS_1


Tapi apapun itu, dari sini kita belajar satu hal, bahwa kejujuran itu lebih baik walaupun menyakitkan.


***


__ADS_2