Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Flashback: Tanggung Jawab.


__ADS_3

Suasana duka begitu terasa di pemakaman Martin. Tampak Roni, Sandra dan Adam di sana, ada juga Alex yang tadi mengantarkan Mona dan Sandra. Dan beberapa kerabat dari Martin serta Anna. Sementara Rey dan Zea dititip di rumah Adam bersama Cindy, istri Alex.


Tapi pemakaman Martin tanpa dihadiri sang istri yang kini terbaring lemah di rumah sakit, Anna sangat syok mendapat kabar kematian suaminya, bahkan dokter harus memberinya obat penenang, karena dia menjerit histeris dan ingin menyakiti dirinya sendiri.


Roni merasa benar-benar bersalah atas tragedi yang menimpa Martin dan keluarganya, kalau dia tidak menyuruh Martin menjemput anak dan istrinya, mungkin Martin masih hidup.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan kematian akan datang.


"Ini salahku! Harusnya aku nggak menyuruhnya pergi!" sesal Roni yang bersimpuh di sisi makam Martin.


"Sudahlah, Sayang! Ini bukan salahmu, kalau pun ada yang harus disalahkan itu aku, kalau saja aku nggak ikut berlibur ke rumah Kak Alex bersama Sandra, mungkin ini nggak akan terjadi. Tapi kita nggak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan, ini semua sudah takdir." Mona mengelus pundak suaminya yang terlihat kalut itu.


Roni memandang ke sebelahnya, tepat di dekat nisan Martin, seorang bocah laki-laki yang sedang memeluk erat nisan itu dan sesekali menyeka air matanya. Dia baru menyadari bahwa telah kehilangan Ayahnya saat jasad Ayahnya itu ditimbun oleh tanah.


Sesekali terdengar suaranya lirih di sela tangisnya, "Ayah ...."


Roni langsung memeluk tubuh mungil yang bergetar itu, pemandangan itu sungguh sangat mengharukan.


"Maafkan Om ya, Rekha! Maaf ...!" Roni semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayah kenapa tinggalin aku dan Bunda, Om? Ayah janji akan pulang dan lihat adikku lahir, Ayah bohong!" Rekha mengoceh dengan penuh kesedihan membuat semua orang yang hadir di pemakaman tak bisa menahan air matanya.


"Ayah nggak bohong, Ayah pasti lihat Rekha dan Bunda dari Surga, Ayah juga akan lihat adik lahir dari sana." Roni menenangkan bocah kecil itu.


"Ayah juga suruh aku jagain Bunda dan adik, tapi aku kan masih kecil, Om." Mata kecil yang basah itu menatap sendu ke arah Roni, membuat hati Roni semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Om janji, Om akan jagain Bunda, Rekha dan adik. Jangan sedih lagi ya, jagoannya Om! Sekarang Rekha doain Ayah ya, agar Ayah tenang di surga." Roni menghapus jejak air mata di pipi Rekha.


Bocah kecil itu hanya mengangguk dan menurut pada Roni, dia tadahkan tangannya dan menutup matanya, lalu dia komat-kamit sendiri.


Dari kejauhan, sepasang mata memandangi Rekha dengan penuh arti. Bocah laki-laki yang bertubuh agak gemuk dan berkulit coklat itu begitu menarik perhatian seorang pria yang sudah 7 tahun pernikahannya, belum mendapat momongan itu.


***


Roni dan Mona membawa Rekha pulang ke rumah mereka, dan menjemput Rey dari rumah Adam.


Tadinya mereka pikir Rey dan Rekha bisa berteman, tapi ternyata sikap introver dan dingin Rey sudah terbentuk dari kecil. Rey mengacuhkan keberadaan Rekha, menganggap bocah itu tidak ada.


Mona dan Roni menyadari hal itu, mereka tak ingin memaksakan Rey untuk bisa secepat itu menerima Rekha, mungkin mereka butuh waktu untuk bisa berteman.


Tapi Roni dan Mona tetap memperlakukan Rekha bagai putra mereka sendiri, apa yang Rey dapat, Rekha pun dapat.


Rey hanya menatap Rekha dengan tatapan dinginnya, tanpa menjabat uluran tangan bocah itu. Lalu dia berlalu pergi.


"Hei ... nama kamu siapa?" Rekha berteriak penasaran.


Rey hanya berbalik melirik Rekha sebentar, lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"Dia nggak mau berteman denganku, ya?" Rekha tertunduk memandangi tangannya yang tak disambut oleh Rey.


Mona yang memperhatikan kejadian itu, segera menghampiri Rekha dan mengelus pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Namanya Reyfal, kamu bisa panggil dia Rey. Dia bukan nggak mau berteman denganmu, dia anak yang pemalu, nanti lama kelamaan pasti dia mau menjadi teman kamu." tutur Mona lalu memeluk Rekha.


Dan bocah itu hanya mengangguk lalu membalas pelukan Mona.


***


Evan adalah polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Martin, dia menemui Roni yang tak lain adalah teman SMA nya. Dia telah mendapatkan hasil otopsi pada jasad Martin juga pemeriksaan pada mobil yang dikendarainya.


"Dari hasil laboratorium, kami menetapkan bahwa korban meninggal karena terbakar dan tidak ada tanda-tanda penyakit lain, bahkan korban juga tidak dalam keadaan mabuk. Tapi dari hasil olah TKP, tidak ditemukan jejak pengereman. Ada kemungkinan bahwa rem mobil kamu blong." Evan menjelaskan dengan rinci informasi yang dia dapatkan.


"Haa ... remnya blong?! Tapi mobil itu baru aku kendarai paginya, dan semua masih baik-baik saja. Kalau ada masalah, Martin pasti akan mengabari aku. Lagipula aku juga baru menservis mobil itu 3 hari yang lalu, ini pasti ada yang nggak beres!" sahut Roni kebingungan.


Tapi tiba-tiba Roni teringat sesuatu, sebulan yang lalu Rudi Wilson telah mengancam akan membalasnya. Siapa pun tau bahwa Rudi Wilson adalah pengusaha kaya raya yang egois dan angkuh, dia bisa berbuat sesuka hatinya tanpa takut hukum, karena dia akan membayar polisi dan pengacara yang gila uang untuk memudahkan aksinya.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Roni mendapat jawaban, "Mobilku di sabotase! Iya, Rudi Wilson pelakunya, aku yakin itu!"


"Apa ...?! Mengapa kamu berpikiran seperti itu? Apa ada bukti?" tanya Evan ragu.


"Sebulan yang lalu, aku berhasil mengalahkan putranya di persidangan, putranya dituntut hukuman seumur hidup karena melakukan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Sebelumnya Rudi sempat memintaku untuk mundur dengan memberi sejumlah uang, tapi aku menolak. Dan dia mengancam akan membalas perbuatan ku. Aku yakin ini ulah dia. Coba cek CCTV ruang sidang dan parkiran kantorku!" Lanjut Roni lagi.


"Siap laksanakan! Aku akan selidiki kasus ini! Aku permisi dulu!" balas Evan tegas.


Roni hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya. Evan pun bergegas meninggalkan ruangan Roni.


"Aku yakin ini perbuatan mu, bajingan! Akan ku buat kau menyesali perbuatan mu ini."

__ADS_1


***


__ADS_2