Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Kecewa Dan Malu


__ADS_3

Rey berjalan pelan ke dalam rumahnya, dia masih memegangi kepalanya yang terasa pusing dan berat, Roni dan Mona telah berangkat kerja, rumah megah itu terasa sunyi.


Rey merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga, matanya terpejam namun tak tertidur.


Pikirannya melayang memikirkan Zea dan Mona, dia harus mementingkan kebahagiaan kedua wanita yang disayanginya itu, walaupun dia harus merasakan sakit seperti ini.


Sementara Zea memutuskan mampir ke RS Medica untuk menemui Sandra. Zea berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit tapi tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.


"Zea ...!!"


Zea berbalik dan mendapati Vano sedang berlari ke arahnya.


"Kak Vano?"


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Vano.


"Mau ketemu Mama!"


"Ada perlu apa?"


"Bukan urusan kamu!" jawab Zea ketus dan langsung berbalik hendak pergi, tapi dengan cepat Vano menarik lengannya membuat gadis itu berhenti melangkah.


"Kamu kenapa sih, Ze? Kok ketus begitu? Aku ada salah, ya?"


Zea mengembuskan napas kasar.


"Tante Mona sudah cerita semuanya, kenapa sih kamu bohongi aku, Kak?"


Vano menautkan kedua alisnya. "Bohongi apa, Ze?"


"Rey itu nggak pernah benci dengan aku, malah dia menyukai aku sejak kecil."


Vano yang kaget karena Zea mengetahui kebohongannya, kini tertawa untuk menutupi kegugupannya.


"Hahaha ... kamu percaya itu? Ya jelaslah Mamanya akan bicara yang baik-baik tentang anaknya, kan sebentar lagi kalian akan menikah, biar kamu itu simpati dengan dia." sanggah Vano.


"Kami nggak jadi nikah! Rey udah membatalkan pernikahan kami." ujar Zea, lagi-lagi dia tak bisa membendung air matanya.


Vano senang mendengarnya, tapi dia juga heran melihat Zea menangis.

__ADS_1


"Hei ... kamu menangis? Bukankah seharusnya kamu senang nggak jadi menikah dengan dia?" tegur Vano sambil mengusap air mata Zea.


"Iya, seharusnya aku senang, Kak! Tapi entah kenapa ada rasa sakit di hati aku, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga."


"Sabar, ya! Ada aku disini, aku akan selalu ada untuk kamu." Vano menarik Zea ke dalam pelukannya.


***


Zea menghapus jejak air matanya sebelum dia masuk keruangan Sandra.


"Mama ...." sapa Zea.


"Hai ... Sayang! Tumben kesini nggak bilang-bilang."


"Aku kangen dengan Mama!" sahut Zea. "Lagipula ada yang mau aku sampaikan, Ma."


"Ada apa, Sayang?" tanya Sandra.


"Rey sudah membatalkan pernikahan kami!" ucap Zea dengan mata berkaca-kaca.


Sandra terkesiap. "Haa ...? Kok bisa? Kalian berkelahi?"


Zea hanya mengangguk pelan, air matanya kembali menetes.


Zea menceritakan semuanya kepada Sandra.


"Aduh, Ze! Kamu kenapa melakukan itu? Pantas Rey marah, dia itu calon suami kamu dan Minggu ini kalian akan menikah. Kenapa sih kamu nggak bisa menurut padanya?" Sandra langsung mengomel setelah mendengar cerita putrinya itu.


Zea hanya terdiam sambil terisak-isak.


"Sudah ... sudah ... jangan menangis lagi! Mama akan bicarakan ini sama Papa dan orang tua Rey, mungkin dia emosi, jadi ngomongnya asal." pungkas Sandra seraya memeluk Zea. Dia mencoba untuk menenangkan sang putri.


Sandra pun langsung menghubungi suaminya dan Mona, dia menceritakan apa yang terjadi. Mona lah orang yang paling terkejut mendapat berita ini, dia tahu dengan pasti betapa Rey sangat menyukai Zea atau bahkan mungkin sangat mencintai gadis itu, tapi kenapa sang putra malah membatalkan pernikahannya?


***


Roni masuk ke rumah dengan tergesa-gesa, sorot matanya penuh kemarahan, dia langsung menghampiri Rey yang masih berbaring disofa.


"Rey, bangun!" bentak Roni.

__ADS_1


Rey membuka matanya lalu berdiri dan menatap malas ke arah Roni, dia tahu penyebab kemarahan Papanya itu.


"Kenapa kamu membatalkan pernikahanmu dengan Zea? Kamu sudah gila, ya? Pernikahan kalian akan diadakan Minggu ini dan semua udah dipersiapkan. Kamu mau buat malu Papa dan Mama?" hardik Roni.


Tapi Rey hanya diam membisu, sepertinya tak berniat menjawab pertanyaan Papanya. Hal itu membuat Roni semakin emosi.


"Kenapa diam? Jawab Papa!"


"Karena aku nggak mau menikah dengannya, makanya aku batalkan." Jawab Rey asal dan seketika aroma alkohol menyerbu penciuman Roni dan Mona.


Buuugghh ....


Kepalan tangan Roni mendarat keras di wajah tampan Rey. "Dasar anak kurang ajar! Jawaban macam apa itu? Kau yang meminta untuk menikah dengannya, sekarang kau membatalkannya begitu saja?"


Rey terdiam memegangi wajahnya yang berdenyut akibat pukulan Roni.


Buuuugghh ...


Untuk kedua kalinya kepalan tangan Roni menghantam wajah tampan itu, darah segar mengalir di sudut bibirnya. "Dan pukulan ini untuk tingkahmu, sejak kapan kau mabuk-mabukkan, haaa ...?"


Mona yang ketakutan cuma bisa menahan lengan Roni agar tidak memukul Rey lagi, air matanya jatuh melihat putranya meringis kesakitan tapi dia tak berani melakukan apa-apa, karena dia tahu Rey bersalah.


Rey hanya berdiri diam dan menatap tajam ke arah Roni, sambil menahan sakit diwajahnya. Rasanya ingin sekali dia meluapkan kekesalan hatinya pada Roni, tapi saat melihat wajah Mona, dia tak sanggup untuk bicara.


Roni menghela napas, lalu berujar. "Pernikahan kalian akan tetap dilaksanakan Minggu ini!"


"Maaf ... aku nggak bisa!" Suara tegas Rey terdengar lirih.


Plaaaaakk ...


Kali ini tamparan keras dilayangkan Mona kepipi putranya itu. "Mama benar-benar kecewa sama kamu! Mama nggak mengerti apa yang ada di pikiran kamu!"


"Ma ... maaf ...!"


"Minta maaf pada keluarga Zea, bukan pada Mama!" Mona berlalu meninggalkan putranya itu.


"Buat malu saja!" Roni pun ikut berlalu dengan tatapan sinisnya.


Rey menatap Roni dengan penuh emosi, tapi dia tak bisa meluapkan semua itu. Rey mengembuskan napas berat dan meremas kuat rambutnya.

__ADS_1


"Sialan kau Vano! Dasar brengsek!"


***


__ADS_2