Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Kenyataan Memilukan.


__ADS_3

Pagi ini semua orang berkumpul untuk sarapan bersama.


"Hari ini aku, Ruby dan Tante Lisa mau menjenguk Bunda di RSJ Kasih." ujar Vano.


"Iya, pergilah! Temui Ibumu, dia pasti sangat senang bertemu dengan kalian." balas Adam.


"Kak, aku boleh ikut nggak?" tanya Zea.


Tapi belum sempat Vano menjawab, Sandra sudah lebih dulu bersuara, "Hari ini kamu akan pergi ke butik bersama Rey untuk mengambil kebaya nikah mu, sekalian kamu coba dulu disana. Jadi lain kali aja ikut Vano!"


Zea menghela napas dengan wajah masam. "Iya, deh."


Vano bergeming, menatap Zea dengan sorot mata tak terbaca. Ruby yang memperhatikan itu sepertinya menyadari sesuatu.


Setelah selesai sarapan, Zea kembali ke kamar untuk bersiap-siap, Ruby pun mengikuti Zea masuk ke kamarnya.


"Kamu hutang penjelasan padaku, Ze!" sergah Ruby.


"Apa lagi yang harus ku jelaskan, By? Kamu kan sudah lihat sendiri, aku dijodohkan dengan Rey dan lusa kami akan menikah." jawab Zea.


"Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita? Malah aku sempat berpikir kamu dan Keanu pacaran, makanya Kikan sampai marah begitu padamu." sahut Ruby, tapi dia teringat sesuatu. "Tunggu! Pantas saja Kikan pernah bilang kamu menggoda Pak Rey, mungkin dia tahu tentang kalian."


"Aku malu mau cerita. Kalau Kikan pasti tahu dari kakaknya, kebetulan mereka kenal dengan Rey." sahut Zea yang masih sibuk berhias.


"Oh. Lalu kamu mencintai Pak Rey?"


Seketika Zea terdiam, sebab dia sendiri masih bingung dengan perasaannya terhadap Rey.


"Kenapa diam, Ze?"


Zea buru-buru menyelesaikan riasannya dan bergegas pergi, tanpa menjawab pertanyaan Ruby.


"Eh ... mau ke mana, Ze? Kamu belum jawab!"

__ADS_1


"Aku buru-buru, lain kali saja. Bye ...."


Ruby hanya memandang kepergian Zea.


Saat Zea tiba di halaman rumah, tampak Rey sudah menunggunya. Mereka pun segera berangkat ke butik.


***


Saat tiba di butik, Rey dan Zea disambut langsung oleh pemilik butik yang bernama Helen. Kebetulan Helen adalah teman Mona yang sangat kenal dengan Rey.


Karyawan butik yang seluruhnya wanita memandang kagum kepada Rey, wajah rupawan, dengan tubuh tinggi atletis dan berkulit putih. Wanita normal mana yang tak terpesona memandangnya?


Hal itu membuat Zea kesal dan menggerutu dalam hati. "Seperti melihat hantu saja sampai nggak berkedip begitu!"


"Ini kebaya kamu, silakan dicoba!" Helen menyodorkan sebuah kebaya putih kepada Zea.


Zea tersenyum sembari mengambil kebaya itu dan masuk ke ruang ganti untuk mencobanya. Sementara Rey hanya menunggu di depan ruang ganti sambil memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Zea keluar dengan balutan kebaya putih yang sangat cantik, walaupun dia belum jadi pengantin tapi kecantikannya sudah terpancar.


"Bagaimana? Cantik, kan?" Hellen bertanya kepada Zea dan Rey.


"Iya, cantik!" jawab Zea.


Sedangkan Rey hanya mengangguk. Dia benar-benar tak bisa menutupi kekagumannya akan sosok cantik yang sebentar lagi menjadi miliknya.


***


Kini Vano, Ruby dan Lisa sudah berdiri di depan pintu sebuah kamar, seorang perawat membukakan pintu itu dan terlihatlah sosok wanita paruh baya sedang duduk di atas tempat tidur sambil memeluk sebuah pigura foto. Tatapan matanya kosong memandang dinding putih ruangan itu.


Ruby tak kuasa menahan tangis, dia memegang erat lengan Lisa. Ini untuk pertama kali dia bertemu dengan ibu kandungnya, ingin rasanya dia memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu, tapi dia takut karena kata perawat, Anna terkadang tiba-tiba bisa bertindak kasar kepada orang lain.


Namun Vano, dia memberanikan diri melangkah mendekati Anna. Rasa rindunya benar-benar mengalahkan apapun.

__ADS_1


"Bunda ..." sapa Vano lirih.


Anna menoleh ke arah Vano dan menatap putranya dengan seksama, lalu tanpa diduga tiba-tiba Anna turun dari ranjangnya dan berlari memeluk Vano.


"Suamiku, aku tahu kau pasti datang untuk menjemput ku!" ujar Anna, dia mengira Vano adalah Martin.


Memang secara fisik Vano sepintas terlihat mirip dengan ayahnya, tapi secara penampilan tentu Vano lebih modis dari pada sang ayah yang hanya seorang supir.


Semua orang kaget melihat reaksi Anna, bahkan jantung Vano hampir copot saat Ibunya itu tiba-tiba memeluknya.


"Bunda, ini Rekha bukan Ayah! Ayah sudah tiada!" ucap Vano dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Seketika Anna melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Vano, "Kau mau berpura-pura? Sudah sangat lama aku menunggumu tapi kau mau mencampakkan aku?"


Vano menggeleng. "Bunda salah paham!"


"Pergi kau!!" bentak Anna lalu mendorong kuat dada Vano, dia menangis histeris, dan berkata tidak karuan, membuat semua orang yang ada di ruangan itu merasa takut.


Ruby sampai memeluk erat lengan Lisa dan bersembunyi di balik punggung Vano.


Vano menatap Anna dengan perasaan hancur, bahkan dia tak lagi dapat menahan tangisnya.


Prrraaaaang ....


Anna melempar pigura yang dia pegang ke arah Vano, tepat mengenai pelipis kirinya lalu jatuh menghantam lantai hingga pecahan kaca pigura yang terdapat foto Martin itu berserak kemana-mana.


Vano hanya memejamkan matanya, darah segar mengalir dari pelipisnya yang robek.


Ruby juga Lisa semakin panik dan ketakutan, perawat menyuruh mereka keluar dari ruangan itu. Lalu dokter dan beberapa perawat laki-laki datang, berusaha menenangkan Anna dengan menyuntikkan obat penenang. Setelah Anna tenang, mereka pun membersihkan ruangan itu dari serpihan kaca.


Lalu mereka membawa Vano ke ruang pengobatan dan mengobati lukanya, Vano hanya terdiam, hatinya benar-benar pilu melihat kondisi sang ibunda.


Ruby hanya terisak di dalam pelukan Lisa, ada rasa takut sekaligus sedih dihatinya saat melihat kondisi Anna.

__ADS_1


Padahal dia ingin sekali memeluknya dan memanggilnya Bunda, tapi sepertinya itu tidak mungkin.


***


__ADS_2