Menikahi Dosen Dingin

Menikahi Dosen Dingin
Flashback : Terpisah


__ADS_3

Pagi ini Alex dan Adam berkunjung ke rumah Roni, kedatangan mereka jelas ada maksud.


Sejak di pemakaman Martin, Alex telah tertarik dengan Rekha, terbesit niat di hatinya untuk mengadopsi bocah itu mengingat sudah 7 tahun rumah tangganya belum juga dikaruniai seorang anak.


"Begini Ron, aku bermaksud untuk mengadopsi putra sulung Martin itu, aku janji akan menyayangi dan mengurusnya seperti anakku sendiri. Istriku juga sangat setuju dengan niatku ini, bagaimana?" tutur Alex penuh harap.


Roni diam sejenak, kemudian menghela napas, "Aku nggak tahu harus mengatakan apa? Bukannya aku tidak percaya kepada Kak Alex, tapi aku harus bertanya dulu kepada Rekha dan juga Lisa, aku nggak bisa memutuskan ini sendiri."


"Hmm ... baiklah, aku mengerti, Ron. Mari kita temui Rekha dan Lisa, aku berharap mereka setuju." imbuh Alex.


Rekha kecil hanya mengintip dari balik tembok, entah apa yang ada dipikiran bocah itu, dia hanya menatap Alex penuh arti.


Roni, Adam dan juga Alex pun pergi untuk menemui Lisa yang selalu setia 24 jam menjaga Anna di rumah sakit, tak pernah sekali pun dia meninggalkan adiknya itu. Bahkan untuk bertemu dengan kedua keponakannya saja dia sulit, karena kondisi Anna yang semakin buruk, jadi Lisa harus selalu menemaninya.


***


Ketiga pria itu tiba di rumah sakit, tampak Lisa yang sedang duduk di ruang tunggu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ada apa, Lis? Bagaimana kondisi Anna?" cecar Roni cemas.


Perlahan Lisa membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajah lesunya, mata yang basah dan sembab itu menatap sendu ke arah Roni, "Anna akan dikirim ke rumah sakit jiwa, dokter minta persetujuan keluarga. Karena kondisi kejiwaannya semakin tidak baik, dia butuh penanganan dokter ahli jiwa yang lebih profesional. Aku harus apa?"


Ketiga pria itu terperangah mendengar pernyataan Lisa.


"Jika memang itu yang terbaik, maka izinkanlah! Mungkin di sana dia bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik dan maksimal, aku janji akan memastikan dia baik-baik saja. Mudah-mudahan dia bisa segera sembuh."ujar Roni.


"Adikku bukan orang gila, Pak! Dia tidak gila!" sahut Lisa sembari mengusap air matanya.


"Saya tahu, Anna tidak gila, dia hanya depresi karena kehilangan suaminya. Maka dari itu biarlah dia mendapatkan pengobatan yang semestinya, dia pasti sembuh." Roni menatap Lisa dengan penuh keyakinan.


Lisa hanya tertunduk, bahunya terlihat bergetar akibat wanita itu menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Rekha dan Ruby? Kasihan mereka, mereka butuh Bundanya!"


Lisa berbicara masih dalam keadaan tertunduk.


"Jangan dipikirkan, kami akan menjaga mereka seperti anak kami sendiri. Aku pasti bertanggung jawab." balas Roni.


Walaupun masih ragu dan berat, akhirnya Lisa menyetujui agar Anna dirawat di rumah sakit jiwa.


Tak butuh waktu lama, pihak rumah sakit telah mengurus berkas-berkas pemindahan Anna ke rumah sakit jiwa. Lisa yang tak berhenti menangis, hanya pasrah melihat adik satu-satunya dibawa oleh petugas rumah sakit.


***


Akhirnya Lisa bisa tenang dan bebas, setelah lebih kurang satu bulan menjaga Anna di rumah sakit, tanpa pernah meninggalkannya sekejap pun.


Lisa memutuskan pulang ke rumah Roni, dia ingin bertemu dengan dua keponakannya, Lisa menciumi Rekha dan Ruby, lagi-lagi air matanya menetes tanpa permisi.


Rekha merasa bingung, karena terakhir kali bertemu Lisa saat dia berumur 4 tahun. Lalu Tantenya ini bekerja ke luar negeri dan baru ini pulang lagi.


Sebagai satu-satunya keluarga Anna, Lisa merasa bertanggung jawab untuk mengurus kedua anak adiknya ini.


Setelah mengatur kata-kata yang tepat di otaknya, akhirnya Lisa memberanikan diri untuk berbicara, "Maaf, saya sudah memutuskan untuk membawa Rekha dan Ruby pulang ke rumah orang tuanya, saya ingin mengurus mereka berdua."


"Apa nggak sebaiknya kalian tetap di sini?" ucap Roni.


"Mbak Lisa, tinggallah di sini bersama kami! Kita akan rawat mereka bersama-sama." imbuh Mona, dia menggenggam tangan Lisa. Sepertinya Mona keberatan karena dia terlanjur sayang dengan kedua anak itu.


Lisa bergeming, sudut matanya mulai basah, "Tapi saya nggak mau merepotkan semua orang, biar saya saja yang merawat mereka."


Mona menggeleng. "Tidak ada yang direpotkan, mereka juga anak-anak kami."


Merasa tidak sabar, Alex seketika mengambil alih pembicaraan ini, "Maaf, Mbak Lisa! Sebelumnya perkenalkan, saya Alex Winata, kakak ipar Adam. Saya sudah membicarakan ini dengan Roni dan Adam, saya berniat mengadopsi Rekha untuk menjadi penerus saya nanti. Saya mohon Anda mengizinkannya!"

__ADS_1


Lisa tampak terkejut, dan spontan menolak permintaan Alex, "Maaf, Pak Alex! Saya nggak bisa memisahkan mereka berdua, cuma mereka keluarga yang saya punya."


"Saya mohon, Mbak! Saya janji akan merawat dan menyayangi Rekha seperti anak saya sendiri. Sudah 7 tahun saya dan istri saya menantikan buah hati, tapi kami tidak mendapatkannya. Jadi saya mohon, Mbak!" Alex memohon dan mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, dia menatap Lisa dengan penuh harap.


Lisa yang berhati lembut dan baik sungguh tak tega menolak permintaan Alex tapi dia juga tak sampai hati harus memisahkan Rekha dan Ruby.


Sejenak Lisa terdiam, memandangi wajah kedua keponakannya itu secara bergantian. Air matanya semakin menganak sungai, lalu dia memeluk keduanya, "Baiklah, saya izinkan! Tapi saya minta, Anda menepati janji untuk merawat dan menyayangi dia seperti anak sendiri, jangan terlantarkan dia. Dan seringlah membawa dia bertemu dengan adiknya."


Saking senang mendengar persetujuan Lisa, dengan cepat Alex mengiyakan permintaan wanita itu, "Iya, Saya janji! Terima kasih, Mbak Lisa!"


***


Rekha yang terlihat bingung hanya menatap heran semua orang, ingin bertanya tapi dia takut.


"Sayang, mulai sekarang kamu tinggal dengan Om Alex dan Tante Cindy! Jangan nakal dan menyusahkan mereka ya, belajar yang rajin." Mona mengelus pucuk kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang.


"Tapi aku mau bersama adik dan Bunda! Bunda ke mana sih, Tante? Kok nggak datang jemput aku dan adik?"


Mona memejamkan matanya kuat berusaha menahan gemuruh dihatinya, " Bunda lagi kerja di tempat yang jauh, nanti kalau Bunda sudah selesai kerja, Bunda pasti datang."


"Benar, Tante? Bunda pasti datang?" bibir mungil Rekha seketika tersenyum, dengan polosnya dia percaya kepada ucapan Mona.


Mona mengangguk pelan sambil tersenyum getir, matanya mulai berkaca-kaca. "Sekarang kamu ikut dengan Om Alex, ya?"


"Iya, deh."


Bocah itu pun bersedia untuk ikut bersama Alex.


Setelah berpamitan dengan semua orang dan mencium adiknya, akhirnya Rekha kecil pun ikut pergi bersama Alex.


Dia bahkan tak mengerti dengan semua ini, sebagai anak yang baik, dia hanya bisa menurut.

__ADS_1


Lisa yang berdiri di belakang Mona hanya bisa menangis, bibirnya bahkan terasa kelu dan tak sanggup bicara lagi. Dia benar-benar tak sanggup menahan kesedihannya.


***


__ADS_2