Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis

Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis
plan A


__ADS_3

suara pintu dibuka dengan kasar menggema sampai ke beberapa ruangan lain dan mengagetkan beberapa maid yang sedang bekarja sedangkan sang palaku berdiri dengan nafas yang ta beraturan sambil menatap tajam seseorang yang menatap balik dirinya dengan ta pedulinya dia kembali meminum tahnya seakan akan kejadian tadi tidak pernah terjadi sedangkan sang pelaku yang melihat itu tersulut emosi dan berjalan kasar ke arahnya lalu menarik kerah nya sampai mata mereka bertatapan.


"Louis apa kau melakukan sesuatu tampa sepengatahuanku???" dia berbicara pelan dengan nada mengancam sedangkan Louis dia menyingkirkan tangan adiknya dan memperbaiki kerah bajunya yang sedikit berantakan.


"melakukan apa??? kau tau aku tidak sesenggang itu untuk melakukan hal hal yang tidak berguna dan untuk apa kau kesini ini kau tau sangat susah untuk bersantai di saat saat seperti ini kuharap kau memiliki alasan bagus untuk mengganggu istirahatku putri Isabella" Saat selesaI dengan perkataannya pangeran Louis berjalan dan menutup pintu saat pintu tertutup dia menaruh artefacts kedap suara di gagang pintu.


"aneas sudah berada di akademi kekaisaran dan namanya sudah berada di dalam daftar perwakilan kerajaan" Isabella menghela nafas pasrah dan berbaring di kursi panjang di tempat kakanya tadi duduk sedangkan Louis mengerutkan dahinya mencoba mencerna ucapan adiknya selama berfikir Louis berjalan menuju rak buku di ujung kamarnya dan mengambil buku paling ujung yang merupakan buku kehidupan membaca satu bab yang mengatakan aneas akan berada di akademi bangsawan pada umurnya yang ke Lima belas, menghela nafas panjang dan membaca singkat buku itu sebelum mengembalikannya.


"kaka apakah tulisan dibuku itu berubah"


"tidak" jawaban singkat dari Louis membuat perasaannya semakin tidak karuan sedangkan Louis menuangkan teh chamomile untuk menenangkan fikiran adiknya karna Louis tau adiknya tidak ingin kejadian sebelum dia menjadi seperti sekarang terulang kembali sebenarnya Louis juga merasakan perasaan yang sama tapi dia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya karna jika dia menunjukkannya adiknya akan semakin kacau, karna dia kaka dia harus menutupi apapun yang mungkin akan membuat adiknya tidak nyaman, khawatir, atau semacamnya itulah yang berada di pikiran Louis bertahun tahun lamanya.


"lalu sekarang apa ka??"


"untuk sekarang kita sebaiknya tetap berdiri di tempat selama beberapa waktu karna masa depan berubah Kita tidak tau apa yang akan terjadi jika jika melangkah maju kedepan dan kita juga tidak bisa mundur kebelakang jadi pilihan terbaiknya adalah tetap berdiri di tempat sampai kita memiliki solusi terbaik"


"lalu karna masa depan sudah berubah dan kita tidak melakukan apapun… tidak, apakah kita melakukan sesuatu yang membuat masa depan berubah saat di perburuan hutan malam"

__ADS_1


"kurasa tidak semuanya berjalan sesuai alurnya walau ada beberapa perubahan dengan aku yang menyaksikan aneas yang jatuh bukan Duke tapi selama itu masih normal sampai di pesta itupun masih berjalan sesuai alur dengan dia membuat kembang api dengan kekuatan hewan magisnya berarti hanya ada satu kesimpulan dan kau tau itukan, dan kau tau itu kesalahan siapa bukan aku tentunya"


"heheheh maaf ka aku hanya ingin berbisnis dan menguatkan posisiku"


"lalu sekarang apa apakah Kita harus menghancurkan semua alurnya saja sekalian karna kau sudah menghancurkannya lalu mengambil semua keuntungan walaupun itu harus merubah takdirnya"


"akan lebih baik seperti itu tapi jangan untuk waktu dekat karna pemilihan "itu" akan di adakan sebentar lagi kau tau ka"


"aku tau dan aku tidak lupa, sebelum kau pergi sebaiknya kau perbaiki sifatmu itu karna semakin kau berbeda semakin mencolok pula dirimu Isabella"


"baik baik ka, semoga ini akan tetap menjadi yang terbaik untuk kita"


sedangkan di akademi bangsawan dimana aneas sedang berada di sebuah kamar yang akan dia tempati selama tiga tahun kedepan dengan Ronald yang mengemasi barang barang yang kami bawa, aku berjalan menuju jendala dimana jendala itu menunjukkan pemandangan indah dengan berbagai hewan magis yang berkeliaran di udara dan darat dengan Taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga dengan berbagai warna yang di campur menjadi satu.


inI tempat yang tenang dimana ketenangan itu hanya akan bertahan sebentar kenyataan itu membuat aku merasa jengkel dan dengan cepat aku menutup gorden dan membaringkan diriku di dalah satu kasur sedangkan Ron menatapku sebentar dan melanjutkan pekerjaannya kembali keheningan terjadi untuk beberapa saat.


"tuan muda, apakah anda tidak menyukai pemandangan di bawah" Ron sedikit membuka gorden untul melihat pemandangan di luar dan kembalI menutupnya setelah melihat sekilas pemandangan Taman di bawah sambil menutup mataku aku menjawapnya bahwa aku tidak menyukainya dan menyuruhnya untuk menutup gorden saat aku berada di kamar.

__ADS_1


aku bangun dan menatap Ron walaupun aku tidak melihatnya dengan jelas karna di kamar itu sangat gelap dengan tiraI sedikit tipis yang menyebabkan cahaya menerobos masuk dari cahaya itu aku melihat wajah Ron seakan akan tidak menyukaiku dengan mata yang merendahkan yang tertuju padaku karna aku sudah sangat terbiasa dengan perlakuan seperti itu aku mengambil kalung yang dia berikan kepadaku dan berjalan keluar tampa memerdulikannya.


lorong lorong panjang menuntunku kesebuah danau yang berada dI belakang kamarku tampa memerdulikan danau itu aku tetap berjalan seperti biasa menuju sebuah pohon di tengah tengah danau seseorang melihatku menuju pohon itu berlari menghampiriku tapi entah karna apa dia kehitangan keseimbangan dan terjatuh dengan enggan aku berbalik dan menariknya keluar dari air, dia terbatuk batuk saat dia sudah merasa tenang dia berdiri darI duduknya dan mengambil satu buku dan pena bulu dari kantong penyimpanan menatapku dengan binar antusias dimatanya.


"siapa namamu??" pertanyaan itu terlontar dari mulutnya dengan cepat aku menjawapnya.


"aneas agriche"


"apakau tidak memiliki nama tengah"


"tidak" ucapku yang mulai jengah.


"apakau mau menggantikan ku"


"dalam"


"dalam mengurus akademi"

__ADS_1


"maaf aku tidak menyukai sesuatu yang merepotkan" karna terlalu jengah aku berjalan meninggalkannya dan dia menahan tanganku lalu secara otomatis aku menghempaskannya.


"dengarkan aku dulu baru setelah itu kau boleh memutuskan kau akan menerimanya atau tidak, kau akan menyesal jika kau tidak mendengarkanku"


__ADS_2