Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis

Menjadi Adik Kesayangan Sang Antagonis
Lena dan kerusakan pada sistem perbuahan takdir


__ADS_3

Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya


Khalil Gibran


normal POV


setelah membawa Lena kesebuah ruangan yang dibuatkan aneas untuk Ron secara pribadi yang berada tepat disebelah ruangannya.


Ron menyeduhkan teh hangat untuk Lena sekaligus mengambilkan beberapa obat, Ron tidak berbicara apapun setelah menyerahkannya tapi Ron hanya tersenyum.


"bukankah akan sangat simple jika kau memberikanku sebuah potion atau memberikan sihir penyembuhan" Ron yang sedang membaca beberapa berkas membalasnya dengan senyuman lalu berjalan dan duduk bersebelahan dengannya.


"itu adalah sebuah keajaiban dan bentuk cara mempertahankan diri, karna tidak selamanya kau bisa menggunakan sihir nanti kau akan mengetahuinya bahwa ada hal hal yang harus kau lakukan dengan kekuatanmu sendiri, jadi jangan terlalu bergantung dengan sihir, boleh ku obati tanganmu" Lena menyerahkan tangannya dan Ron dengan lihai membersihkan luka lalu mengobati.


"hahaha...Ron tertawa kecil, kau pasti bertanya tanya kenapa aku memilih mengobatimu dengan obat biasa tanpa sihir, jangan khawatir lukamu akan sembuh tampa bekas tapi memakan banyak waktu" Ron membalut luka itu dengan perban melirik Lena yang masih menatapnya tajam.


"aku tidak bermaksud apapun tapi melihatmu kau mengingatkan ku kepada tuan ku, kalian hampir sama tapi kau versi sedikit lebih baik darinya dia lebih hancur dari dirimu" Lena tertawa mendengarkan penuturan laki laki yang baru pertama kali dilihatnya yang pertama kali berani berbicara dengannya.


"jika kau adalah asisten pribadinya, berarti yang kau maksud itu aneas agriche yang merupakan putra palsu dari Silvana agriche, aku tidak bermaksud apapun mengatakan itu...perlu kau tahu itu" Ron menyodorkan teh yang ia seduh.


"sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum sampai seseorang yang tidak bersangkutan sepertimu sudah mengetahuinya" Lena meminum teh yang disodorkan Ron kepadanya ia mencoba untuk mengendalikan perasaan aneh yang membuatnya merasakan perasaan yang membuatnya merasa familiar.


"tidak juga,sang Duke sangat sempurna menyembunyikan itu tapi jika dilihat dari sudut pandangku ia memiliki celah bahwa mata aneas berwarna biru tidak bisa disembunyikan yang merupakan lambang keluarga kekaisaran, kau hanya harus melihat sesuatu disekitarmu terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang berada jauh dari pandanganmu" Lena memakan cemilan yang disediakan oleh Ron beberapa waktu lalu.


"sepertinya tuan akan menyukaimu"


"hahahaha, sungguh lucu... kau mengatakan bahwa aku adalah versi lebih baik dari tuanmu dan kau ingin mempertemukan ku dengannya kurasa kau hanya ingin memanfaatkan ku, kami sama sama hancur dan jika kami dipertemukan bukankah itu akan semakin membutakannya"

__ADS_1


"kadang kau membutuhkan rasa sakit untuk menutupi rasa sakit lain" Ron berucap demikian kembali menyeduhkan teh hangat kepadanya.


"lantas jika itu keinginanmu, adakah hal lain yang ingin kau katakan kepadaku seperti kejadian serta kelompok yang diketuai olehku sekaligus kejadian yang baru saja terjadi" setelah mengatakan hal itu ledakan lain terjadi membuat Lena lantas menutup matanya.


"kejadian itu tidak ada sangkut pautnya lagi denganku, dan mereka yang kau tangkap tidak akan bisa melakukannya jadi... haruskan kau mengeceknya" Ron membungkuk dan berjalan dengan tergesa gesa beserta murid akademi lain yang juga penasaran dengan apa yang terjadi sampai tiba diaula terlihat aneas yang lehernya sudah dikelilingi dengan senjata tajam yang membuat jika aneah bergerak sedikit saja senjata senjata itu akan menembus lehernya.


melihat hal itu Ron tidak bisa berdiam diri dan kembali menodongkan anak panahnya kepada para pelaku yang merupakan para profesor yang sudah dari lama mencari masalah dengan tuannya tapi sebuah tangan menurunkan busur yang Ron pegang erat dia Lena.


"hei, hei, hei kau akan membuat tuanmu semakin dalam masalah, situasi sekarang sudah cukup panas lihatlah dengan matamu dan pikirkan apa yang akan kerjadi jika mereka para profesor itu melihat kau menodongkan anak panah kepada mereka, tuanmu seharusnya sudah mengajarimu bukan untuk tetap tenang di dalam situasi apapun, bagi para bangsawan emosi lawannya yang mulai terlihat adalah sebuah kemenangan mutlak karna saat sedikit emosi terlihat mereka akan lebih mudah melancarkan aksinya, dasar anak kampung" Ron yang mendengar hal itu lantas menggeplak kepala Lena.


"sedikit yang kau tau, tapi....aku merasa tuan tidak pernah mengajariku tentang hal itu dia mengajariku dengan pengalaman langsung" setelah mengatakan hal itu Ron berjalan perlahan mendekati aneas tuannya yang masih berdiri dengan tegapnya Lena menyaksikan semuanya sebuah senyuman pahit dan tawa kecil dia lakukan.


"bukankah kau bilang tuanmu lebih buruk dariku tapi kurasa tuanmu lebih beruntung dariku" usia mengatakan hal itu Lena berlalu pergi dengan diikuti beberapa orang yang sedari tadi mengamati.


sementara itu Ron yang sudah berhadapan dengan tuannya.


aneas yang melihat Ron sudah menjauh ia menyingkirkan beberapa pedang yang menghalangi jalannya untuk berjalan maju dan berhadapan langsung dengan Professor Adnan yang tidak sengaja aneas provokasi beberapa waktu yang lalu.


"kau marah karna mengungkapkan fakta tentang Anna kau sedang bertindak impulsif Professor dihadapan seseorang yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari dirimu"


"aku tidak peduli dengan hal itu, jika kau mengatakan kau memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dariku maka posisimu itu tidak akan berpengaruh apapun kepadaku yang ikut serta dalam membangun akademi ini"


"jengan terlalu melihat keindahan karna tidak semua keindahan itu tidak berbahaya, kau mungkin tidak mengerti maksudku tapi seseorang dari arah belakangmu seharusnya mengetahui apa yang kukatakan" mendengar itu Professor Adnan lantas berbalik dan hanya menemukan salah satu murid yang tidak terlalu mencolok.


"jangan terlalu percaya dengan apa yang kau lihat karna mata sangat mudah untuk membohongi pemiliknya, benar bukan Aiden" perlahan sihir penyamaran Aiden menghilang rambut hitam dengan mata senada mulai menunjukkan warna aslinya rambut yang berwarna pirang serta mata zamrud yang memukau.


"aku tidak menyadarinya bahwa kau mengetahui keberadaanku aneas"

__ADS_1


"aku tidak sebodoh itu tidak menyadari keberadanmu yang begitu mencolok mataku"


"perhatikan perkataanmu aneas seluruh orang mendengarmu mengatakan mereka bodoh"


"jika kau ingin menasehati ku sebaiknya kau tidak memperjelas ya, jadi adakah sesuatu yang begitu penting hingga membuatmu keluar dari kandangmu itu"


"sebaiknya kita bicarakan ini ditempat lain, dan untuk acara ini kehadiranmu tidak diperlukan sebagai pengecualian kali ini" aku mengangguk melirik kepadanya Professor Adnan mengangguk perlahan lalu mengikuti Aiden pencipta akademi bangsawan ini.


"kenapa kau membuat aturan yang begitu merepotkan sampai aku sendiri tidak bisa melanggarnya dan harus membayar sejumlah uang untuk menutupi rupa asliku"


"aku tau sangat berat untukmu tapi bisakah kau bertahan sebentar lagi aku akan kembali tidak lama lagi setelah urusanku selesai dengan mereka, dan kau akan diluluskan lebih cepat karna satu situasi jadi menenai perjanjianmu dengan para Professor maaf itu tidak akan berlaku lagi" aneas yang berjalan disebelahnya lantas menoleh kearah lain hingga atensi Aiden teralihakan oleh satu pohon yang ia tanam.


"bisakah kau melewati danau ini dan menuju pohon itu karna dipohon itu adalah tempat yang aman untuk membicarakan hal hal penting"


"karna danau itu menyerap mana bukan"


"bukan pohon tapi danaunya" aneas berjalan perlahan menginjak selangkah demi selangkah danau yang membuatnya merasa seperti beban yang ia miliki terangkat sedikit demi sedikit sampai ia berhadapan dengan pohon yang seperti bongkahan berlian.


"dari tepi danau memang terlihat seperti pohon biasanya berwarna hijau tapi jika kau mendekatinya sampai di jarak tertentu pohon itu akan menunjukkan warna aslinya, di dalam legenda pohon ini dikenal sebagai pohon dunia karna setiap helai daunnya menggambarkan sebuah kehidupan lebih tepatnya cerita"


"jadi hanya ini yang ingin kau katakan, selain berita buruk bahwa aku akan mengurus seluruh pekerjaan Achlys kelompok yang sekarang kuketuai karna penobatan anggota tinggal beberapa hari lagi belum lagi aku harus membuat mereka membiasakan diri dengan tugas tugas mereka dan seakan akan tidak cukup dengan hal itu aku juga harus mengikuti kelas seperti murid yang lain, untung saja aku menyembunyikan rupa asliku jika tidak kau ingin membuatku gila sepertinya Aiden" mendengar aneas berbicara seperti itu Aiden tidak sengaja mengingat hal hal yang berusaha ia lupakan.


"Aiden kau sepertinya ingin membuatku benar benar gila dasar bajingan kecil, lihatlah kau melakukan kesalahan dan mengingkari janjiku jika itu janji kecil aku tidak masalah ini dengan para dewa dasar monster" kilasan kilasan ingatan itu melintas begitu saja membuat Aiden lantas melirik kepada aneas yang sedang menampilkan raut tidak sukanya akan pohon didepannya.


"yang mulia aizel sepertinya kau sungguh sungguh dendam denganku bahkan hanya dengan pecahan jiwamu mampu membuatku merasa begitu dekat denganmu" Aiden melamun hingga tidak menyadari bahwa ada dauh yang hendak hinggap diwajahnya jika bukan karna aneas mengambilnya, tapi seketika saat ia mengambil helai daun itu sebuah buku muncul di hadapan aneas ia ingin membuka buku itu tapi Aiden dengan cepat mengambilnya.


"ada sesuatu yang seharusnya tidak kau ketahui dan aku memanggilmu untuk mengatakan bahwa Lena murid dari salah satu Professor terbaik akan membantumu dia memiliki kenangan buruk jadi kuharap kau bisa memakluminya" setelah Aiden mengatakan hal itu aneas mengerutkan keningnya melihat rentetan layar hologram berwarna merah di depannya dengan tulisan dangerous dan error lalu ta lama setelahnya aku Aiden berteriak dengan panik, dan aku melihat kearah tanganku lalu kemudian melihat layar hologram berwarna merah yang berada di hadapanku dan buku yang mulai menghilang dari tangan Aiden, aku menyadarinya bahwa sepertinya aku akan mengetahui apa yang tidak boleh kuketahui.

__ADS_1


__ADS_2